SUARA PEMBARUAN DAILY, Sabtu, 23 Januari 1999 Perlu Sistem Informasi Ekowisata JAKARTA - Pariwisata seperti apa yang dapat berkembang, jika ternyata di berbagai kota justru terjadi kerusuhan yang meresahkan semua orang? Wisatawan yang ingin mencari keunikan dan ketenangan tentu akan berpikir berulang-kali untuk menjadikan sebuah kota sebagai tujuannya, bila terjadi kerusuhan. Padahal, di tengah badai krisis moneter yang menghantam perekonomian Indonesia, bidang pariwisata merupakan salah satu bagian penting dalam pemasukan devisa negara, yang sebenarnya sudah ada di depan mata. Sektor pariwisata biasanya juga melibatkan banyak pihak, termasuk rakyat kecil yang hidup di sekitar lokasi wisata. Di banyak negara, pariwisata menjadi pendapatan utama. Negara-negara tetangga kita seperti Filipina, Malaysia, Thailand dan Vietnam terus mengembangkan pariwisatanya. Mereka "menjual" keunikan dan keindahan alamnya dari perkebunan khas tropika hingga hutan belantara. Wisata lingkungan atau kembali ke alam sudah menjadi trend dunia. Kekayaan alam berupa pemandangan indah, keragaman flora dan fauna, bau harum dedaunan dan udara segar, tantangan alam yang mendebarkan, serta ketenangan yang jauh dari hiruk pikuk kota yang menjenuhkan, menjadi satu dari seribu alasan mengapa orang lebih memilih wisata kembali ke alam. Indonesia yang memiliki kekayaan alam sangat luar biasa dengan keanekaragaman hayati di banyak daerah, seharusnya menjadi tujuan wisata alam nomor satu di dunia. Konsep wisata tanpa merusak lingkungan perlu diperhatikan lebih serius, dan ekoturisme harus menjadi konsep masa depan pariwisata Indonesia. Di banyak negara, baik di negara maju maupun berkembang, konsep ekoturisme sudah menjadi pilihan. Menurut World Tourism Organisation (WTO), baru-baru ini, sektor ekoturisme atau nature oriented travel telah menyumbang 10 persen total pendapatan seluruh kegiatan pariwisata di dunia, dengan pertumbuhan rata-rata 30 persen per tahun. Menurut Asisten Menteri Negara Lingkungan Hidup, Ir Aca Sugandhy MSc, kekayaan alam harusnya sudah diinventarisasi pemerintah daerah (pemda), terutama menghadapi era otonomi yang luas bagi daerah. Namun, yang harus diperhatikan pelestarian alamnya, bukan eksploitasi sacara membabi buta, yang justru menghancurkan lingkungan. Pengelolaan Alam Hal senada diutarakan Staf Ahli Menneg LH, Prof Dr Hadi Alikodra. Ia menilai pentingnya peran pemda dan masyarakat setempat, untuk menentukan pengelolaan alamnya. Manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya, sehingga penduduk setempat harus dilibatkan dalam setiap proses pemanfaatkan sumber daya alamnya, termasuk pengembangan ekowisata. Kantor Menneg LH telah menjalin kerja sama dengan Dana PBB untuk Kependudukan (UNFPA), dalam penelitian dan pengembangan konsep kependudukan yang dikaitkan dengan lingkungan hidup. Kekayaan alam dan lingkungan suatu daerah, diharapkan tidak dirusak dengan alasan apapun, tapi dimanfaatkan untuk kesejahteraan penduduknya dengan cara yang arif dan berkelanjutan. Bali, sebagai contoh, merupakan provinsi yang cukup makmur, karena kekuatan sektor pariwisatanya yang bertumpu pada budaya dan kekayaan alamnya. Banyak wisatawan asing tetap datang ke Bali, walau isu kerusuhan di Indonesia telah terdengar ke mancanegara, dan sebagian dari mereka telah mencoret negara kita sebagai kunjungan wisata. Asas Lestari Dengan berlatar-belakang sejumlah undang-undang (UU) dan peraturan lainnya, Indonesia sebenarnya sudah bisa mengembangkan wisata alam, tidak perlu lagi terbengong-bengong di tengah kekayaan alamnya, apalagi terantuk-antuk di tengah kekacauan politik dan kerusuhan sosial yang sedang merebak. UU No. 5/1967 tentang ketentuan-ketentuan pokok Kehutanan, UU No. 5/1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya serta UU No. 9/1990 tentang Kepariwisataan telah mengisyaratkan, potensi sumber daya alam bisa dimanfaatkan secara optimal, yang didasarkan pada asas manfaat dan asas lestari dengan tidak meninggalkan sisi konservasi terhadap ekosistemnya. Sebagai aset ekoturisme, Indonesia memiliki berbagai kawasan konservasi seperti taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam. Berdasarkan data Buana Katulistiwa, lembaga yang berorientasi informasi keruangan yang dikelola alumni dan mahasiswa Georgafi FMIPA Universitas Indonesia, sampai kini sudah ditetapkan 38 kawasan taman nasional di seluruh Indonesia. Kawasan taman nasional itu tersebar di 24 provinsi dengan luas sekitar 14,1 juta hektare, di mana 72,64 persennya merupakan daratan dan 27,36 persen merupakan perairan laut. Beberapa di antaranya menjadi perhatian dunia, seperti Taman Nasional (TN) Ujung Kulon, TN Gunung Leuser, TN Komodo (oleh UNESCO dianggap sebagai warisan alam dunia) dan TN Lorenz (oleh UNESCO disebut sebagai Asean Heritage Site). Menurut Direktur Buana Katulistiwa, Taqyudin, ekoturisme dapat memacu kesadaran akan pentingnya pemeliharaan lingkungan hidup. Tapi, diingatkan, dalam pelaksanaannya mungkin saja akan terjadi sebaliknya. Harus diperhatikan kerusakan yang ditimbulkan oleh wisatawan, akibat berbagai tindakan yang ternyata malah merusak lingkungan hidup. "Kerusakan yang mungkin timbul jika tidak diawasi, misalnya dalam perjalanan ke wilayah konservasi, dapat mengganggu kehidupan berbagai flora dan fauna di sekitarnya." "Jadi, konsep itu harus dipersiapkan dengan matang dan mendukung kelestarian lingkungna hidup," ujar Taqi. Menurut dia, konsep ekoturisme yang bergerak pada model dan semangat konservasi, telah pula terintegrasi dengan berbagai aspek, sehingga yang kini diperlukan upaya serius dalam konsolidasi bidang dan keterpaduan sistem informasi. Dalam rangka mengantisipasi itu pula, sangat tepat apabila ada suatu sistem informasi yang up to date mengenai ekoturisme itu. Hal ini juga didorong dengan pertimbangan, kajian kawasan dan areal wisata alam sangat memiliki kebergantungan dari berbagai sektor. Sistem Informasi Perlu ditetapkan pula satu sistem terpadu yang dapat mengkaji aspek-aspek yang mempengaruhi, dengan penetapan parameter sebagai titik acuan dalam penentuan skala prioritas pengembangan objek wisata alam yang serasi dan seimbang. Sistem ini diharapkan dapat memudahkan para investor dalam penanaman modalnya dan yang paling menentukan yakni tuntutan wisatawan, yang akhirnya memberikan dampak peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar lokasi wisata alam. Diperlukan pula kreativitas untuk mampu menarik wisatawan ke suatu negara. Untuk mengoptimalisasi fungsi kawasan konservasi taman nasional, taman wisata alam, taman hutan raya serta untuk menangkap perkembangan yang positif dari ekoturisme internasional dan nasional, maka suatu sistem informasi ekoturisme harus disusun dan disebarluaskan. Ditjen Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) dan Direktorat Bina Kawasan Pelestarian Alam (BKPA) Dephutbun, akan membuat suatu sistem informasi ekoturisme, yang disebut Sistem Informasi Ekoturisme Indonesia Terpadu (Integrated Indonesia Ecotourism Information System), yang dibuat dengan bantuan NRM2-PAM (USAID) bekerja sama dengan Buana Katulistiwa. Sistem informasi ini diharapkan bermanfaat bagi manajemen wilayah konservasi. Dengan demikian, pihak investor atau pihak lain yang ingin berkecimpung dalam pembangunan dan bisnis objek ekoturisme, juga para pembuat kebijakan tentang pariwisata maupun lingkungan hidup, wisatawan domestik maupun asing, mempunyai pegangan dan keyakinan; ekoturisme di Indonesia bisa dikembangkan dan dipercaya. Untuk tahap awal, dilakukan pengembangan prototipe pada pembangunan sistem informasi ekowisata terintegrasi di dua lokasi, yakni Taman Wisata Laut Pulau Moyo dan Taman Nasional Kutai. Aspek-aspek yang ditinjau dalam sistem informasi ini, aspek sosial budaya, biodiversiti, ekonomi, fisik dan aspek lainnya seperti penyakit dan keamanan. - Pembaruan/Intan Suryanti/Sumedi TP. The CyberNews was brought to You by the OnLine Staff Last modified: 1/23/99 ___________________________________________________________________ Mulai langganan envorum: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED] Stop langganan envorum: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED] Arsip envorum di http://www.egroups.com/list/envorum BARU!! Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected]
