Republika Online edisi: 23 Jan 1999
                                                         
PBB Bentuk Tim Penyelamat Harimau

LONDON -- Kekhawatiran akan punahnya populasi harimau
membuat para ilmuwan sepakat melakukan upaya bersama
untuk menyelamatkan satwa liar dunia. Sesuai Konvensi PBB
tentang Perdagangan Spesies yang Terancam Populasinya yaitu
CITES (Convention on International Trade in Endangered
Species) dibentuk suatu tim internasional untuk mengatasi
masalah tersebut. 

Saat ini para pakar satwa liar dari berbagai negara yang
tergabung dalam tim tersebut berkumpul di Inggris untuk
memulai usaha mereka menyelamatkan harimau. Misi pertama
para ilmuwan ini adalah mengunjungi negara-negara yang
disinyalir berperan penting dalam perdagangan harimau. Mereka
akan meneliti apakah undang-undang dan penegakan hukumnya
bisa efektif menghentikan perdagangan tersebut. 

Kekhawatiran terhadap populasi harimau ini memang cukup
beralasan. Saat ini diperkirakan total populasi harimau di dunia
hanya sekitar 5.000 sampai 7.000 ekor saja. Bahkan harimau
jenis Caspian, harimau Jawa dan harimau Bali diperkirakan
sudah punah. Angka ini sangat jauh menurun dalam seabad
terakhir. Sebelumnya, populasi harimau diperkirakan mencapai
100.000 ekor lebih. 

Dari jumlah yang ada sekarang, sekitar 4.735 harimau Bengali
berada di India, Nepal, Cina dan Bhutan. Harimau Siberian saat
ini diperkirakan tidak lebih dari 506 ekor. Sedangkan harimau
Amoy dan Cina Selatan yang ada di Cina hanya sekitar 30 ekor
saja. Sementara harimau Sumatera kurang dari 500 ekor dan
harimau Indo-Cina sekitar 1.790 ekor. 

Harimau memang menjadi komoditi yang memiliki nilai ekonomis
tinggi dan menjadi sasaran perdagangan internasional. Harimau
kerap dibunuh karena tulang dan bagian tubuh lainnya dipercaya
memiliki khasiat, misalnya digunakan sebagai obat-obatan
tradisional di Asia Timur Jauh. Ironisnya, praktek perdagangan
harimau ini masih juga terjadi kendati CITES telah melarang
segala bentuk perdagangan yang menjualbelikan produk dari harimau. 

Harga yang menjanjikan membuat para pemburu liar sangat
tergoda memburu hewan ini. Banyak dari mereka yang memiliki
penghasilan tinggi dari hanya seekor harimau yang mereka buru
dalam satu tahun. 

Sesuai rencana, tim ilmuwan akan mulai bekerja di London,
dimana produk harimau bisa didapatkan secara bebas di
beberapa apotik. Kendati polisi dan pejabat bea cukai setempat
beranggapan perdagangan ini tidak lagi terjadi. Selanjutnya
mereka akan pergi ke AS dan Canada, sebelum terbang ke Asia
Timur Jauh untuk menyelidiki bagaimana penegakan hukum di sana. 

Mereka juga akan mengunjungi negara-negara yang memiliki
harimau liar yang disebut sebagai range states, untuk melihat
program anti pemburu liar di sana. Negara-negara yang akan
diteliti ini termasuk Rusia, Cina, India, Nepal, Burma, Kamboja,
Vietnam, Indonesia dan Malaysia. 

''Jika kita tidak dapat menemukan penduduk pribumi yang
antusias dengan penyelamatan harimau ini, maka kesempatan
untuk memperbaiki kondisi yang ada akan kecil,'' ujar Robert
Hepworth pejabat senior dari Departemen Lingkungan,
Transportasi dan Wilayah Inggris. Padahal. lanjutnya, pesan
yang ada dalam Konvensi PBB adalah komitmen internasional
untuk melindungi harimau. 

Menurut Hepworth, seharusnya kepedulian tidak hanya terbatas
pada harimau saja. ''Dan yang ingin kami katakan bahwa
ekosistem secara keseluruhan perlu dilindungi, termasuk spesies
yang menjadi mangsa harimau,'' katanya. 

''Mungkin anda tidak akan mendapatkan nilai apapun secara
ekonomis di negara anda dengan upaya konservasi ini. Namun
sesungguhnya hal tersebut memberikan nilai yang luar biasa
dalam perlindungan suatu ekosistem,'' sambungnya. 

Mengenai pendanaan program ini, Hepworth menyatakan akan
ada dana internasional yang bisa digunakan. ''Akan ada
kesempatan untuk memperoleh dana dari sumber internasional.
Misalnya dari fasilitas lingkungan global World Bank dan dari
NGO,'' jelasnya. Salah satu contoh, kebun binatang London
adalah salah satu kelompok yang turut mendanai proyek ini di
wilayah range states. 

Terancamnya populasi harimau juga diakibatkan semakin
banyaknya habitat yang hilang. Ini juga yang terjadi pada tiga
sub spesies yang punah pada akhir tahun 1960-an yaitu harimau
Bali, Caspian dan harimau Jawa. Sedangkan hampir separuh
dari semua harimau liar yang ada saat ini adalah sub spesies
Bengal yang bisa ditemukan di India dan di beberapa negara
tetangganya. 

Sub spesies lainnya adalah Indo-Cina, Siberia, Cina Selatan dan
harimau Sumatera. Kesemuanya terancam akibat habitat yang
hilang dan pemburu liar untuk perdagangan obat-obatan tradisional.

___________________________________________________________________
Mulai langganan envorum: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan envorum: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Arsip envorum di http://www.egroups.com/list/envorum

BARU!! Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke