Republika Online edisi: 23 Jan 1999
Di Balik Kisah Lima Pahlawan Bumi (1)
Pengantar: Majalah Time edisi 11 Januari 1999 menurunkan
laporan khusus tentang lima pahlawan bumi. Menurut majalah
internasional itu, kelima tokoh tersebut -- Russel Mittermeier,
Dune Lankard, Mark Plotkin, Emmy Hafild, dan Wangari
Maathai -- patut mendapat penghargaan sebagai Heroes for
The Planet karena aktivitasnya yang luar biasa dalam menjaga
dan mempertahankan keberadaan hutan yang merupakan
''paru-paru'' bumi. Siapa dan bagaimana aktivitas mereka, inilah
kisahnya.
------------- 1. Russel Mittermeier
Seekor kera hitam berayun-ayun di ranting pohon ceiba di hutan
tropis Suriname, Utara Brazil. Kera hitam berwajah merah ini
meloncat-loncat dari satu cabang ke cabang pohon lainnya.
Hamparan kanopi -- tumpukan dedaunan yang saling menyatu di
pucuk hutan tropis -- bagi kera kelelawar ini bagaikana daratan.
Ia bebas berjungkir balik di situ.
Betapa indahnya pemandangan itu. Kera dalam habitatnya yang
asli tengah bermain-main. Sebuah pemandangan yang jauh lebih
indah dibandingkan sekumpulan kera yang tengah bermain-main
di kebun binatang. Bagiku, kata Russel Mittermeier, 49, itulah
kebun binatang (bonbin) yang orisinal. Alamnya asli, binatangnya
asli.
Tapi apa yang terjadi kemudian? Datanglah manusia
''berbudaya'' kepada kita. Kita diajari di bangku kuliah, bahwa
kera hitam itu binatang liar. Hutan tempat hidupnya rimba liar.
Pohon-pohon ceiba yang membentuk kanopi itu pun liar.
''Supaya dibudayakan, hutan liar itu harus ditebang,'' keluh
Mittermeier. Jadilah, pohon-pohon itu ditebang.
Tentu Mit sangat kesal. Ia pun berjuang keras, agar ''kebun
binatang'' kesayangannya di Suriname Tengah itu dilindungi.
Bonbin seluas 1,6 juta hektar itu ditempati 200 spesies mamalia
termasuk kera cantik tadi, 674 spesies burung, 99 spesies amfibi
dan lebih dari 5.000 spesies pepohonan. Di dalam bonbin itu
pun terdapat sekian banyak sungai, gunung karang, dan
ketenangan yang luar biasa.
Dari fakta itulah, Mit ahli primatologi alumnus Harvard
University, AS, ini mulai menapaki karirnya. Ia terus bekerja,
meneliti, dan memelihara bonbinnya di Suriname. ''Saya belajar
hidup di hutan dari Tarzan,'' kenang Mit yang lama hidup di
kawasan kumuh Bronx, New York. Ia mengaku memburu
komik dan cerita Tarzan dari mana saja untuk dipelajari agar
bisa hidup di hutan dan akrab dengan binatang.
Dari pengalamannya memelihara kelestarian hutan di Suriname,
Mit yang kini menjadi direktur Conservation International,
menaruh keprihatinan serius pada keselamatan hutan dan
ekosistem yang ada di dalamnya. ''Hampir 60 persen hutan
tropis musnah. Yang masih tertinggal pun nyaris hancur dijarah
perusahaan kayu dan peruntukan manusia,'' keluh Mit. Padahal,
kata Mit, sekali hutan hancur, ekosistem hutan yang amat kaya
spesies itu pun hancur.
Memang sulit memperhatikan keutuhan setiap hutan tropis di
dunia. Untuk itu, Mit memfokuskan pada dua prioritas.
Pertama, ia pinjam teori seorang konservasionis Inggris,
Norman Myers, melindungi ''hot spots'' di seluruh dunia.
Hot spot di sini, bukan istilah untuk batubara dalam tanah yang
terus membara seperti di Kalimantan yang dianggap sebagai
salah satu penyebab kebakaran hutan. Hot spot yang ini,
menurut Myers adalah suatu wilayah yang sudah terusik
manusia, tapi masih menyimpan banyak spesies hewan dan
pepohonan langka. Mit menemukan 25 hot spot di Madagaskar
dan Atlantik, tepatnya wilayah di sebelah timur Brazil.
Prioritas kedua, adalah menjaga keaslian hutan-hutan tropis yang
belum tersentuh manusia, termasuk di sebagian wilayah Amazon
(Brazil) dan lembah Kongo, Afrika Tengah.
Kedua hot spot merupakai kunci cadangan untuk masa depan.
Keduanya harus ditangani dan ditata serius, agar tidak rusak dan
terpelihara ekosistemnya. Mit berpesan kepada negara-negara
yang mempunyai hutan tropis: ''Hutan anda jauh lebih berharga
dalam kehidupan aslinya dibandingkan jika ia dieksplorasi dan
ditebang. Keuntungan bisa Anda peroleh dari pemasaran
kayu-kayu eksotik, zat-zat kimia, dan obat-obatan yang
terdapat dalam hutan yang hidup dan asli. Keuntungan lainnya,
bisa diperoleh dari ekoturism. Untuk membuktikan gagasannya,
Mit membuat buku raksasa yang berisi foto-foto eksotik dari
ekosistem hutan yang diberinya nama Megadiversity.
Atas jasa-jasanya itulah, Mit mendapat penghargaan
sebagai Pahlwan Bumi.
___________________________________________________________________
Mulai langganan envorum: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan envorum: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Arsip envorum di http://www.egroups.com/list/envorum
BARU!! Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected]