Republika Online edisi: 23 Jan 1999
3. Mark Plotkin
Orang tua suku Shaman menempelkan tulup (ranting
bambu yang dilubangi, biasanya dipakai sebagai senjata
oleh suku tradisional) ke hidung Mark Plotkin. Lalu, bess...
ia menhembuskan sesuatu. Plotkin pun terkulai. Pingsan.
Terlihat oleh Plotkin serombongan bocah menari-nari di
depan matanya. ''Siapa mereka? Mereka hekuri, kekuatan
spirit hutan,'' kata sesepuh suku Shaman.
Plotkin sangat tertarik dengan kejadian yang menimpa
dirinya di hutan tropis Venezuela, tahun 1987, itu. Tertarik
pada mistiknya? Tidak. Direktur Plant Conservation dari
World Wildlife Fund itu tertarik pada bahan apa yang
dipakai untuk membuatnya tak sadarkan diri. Dulu, ia
pernah mendengar, seorang tabib suku Yanomamo
menggunakan zat-zat halusinogen untuk mengobati
pasennya. Zat itu dibuat dari campuran daun, akar, dan
materi tumbuhan lain yang berasal dari hutan. Dari situlah,
Plotkin kemudian menyadari betapa sesungguhnya hutan
menyimpan potensi obat-obatan yang amat besar. Ia pun
ingat aspirin yang awalnya diperoleh dari sari tumbuhan
yang berasal dari hutan di Amerika Utara. Sebagai seorang
yang menggeluti bidang ethno-botani -- sebuah studi
tentang tanaman-tanaman yang dimanfaatkan orang-orang
indigenous -- Plotkin tahu bahwa 25 persen obat-obatan
modern terbuat dari bahan-bahan alam yang diperoleh dari
hutan.
Ploktin, kini 43, langsung keluar masuk hutan untuk
meneliti tumbuh-tumbuhan di hutan rimba yang bisa
dijadikan obat. Ia makan, tidur, dan tinggal bersama
suku-suku tradisional di hutan tropis Venezuela.
Suatu ketika, saat berada d tengah hutan Plotkin merasa
sedih. Banyak tumbuhan obat yang hancur. Penyebabnya
perusahaan kayu yang menebangi pohon-pohon besar dan
merusak daerah sekelilingnya. Dari situlah, ia kemudian
menggalang suku-suku di pedalaman untuk melawan
aktivitas industri kayu. Suku-suku yang hidup di hutan
tropis, khususnya di lembah Amazon disadarkan Plotkin
terhadap bahaya kerusakan hutan akibat penebangan kayu,
yang dampaknya bisa memusnahkan lahan hidup mereka.
Bersama istrinya, Liliana, wanita Costa Rica yang juga
konservasionis, Plotkin menggalang kerjasama dengan
pelbagai pihak untuk menyadarkan masyarakat dan
pemerintah akan arti penting hutan tropis bagi kehidupan
manusia, terutama sebagai sumber bahan obat. Untuk
memperluas jaringan kampanyenya, Plotkin juga
memanfaatkan internet.
Ia mendokumentasi dengan film, mencatat, dan
menganalisis setiap temuan dan permasalahannya.
Beberapa buku berhasil dikarangnya, di antaranya yang
terkenal Healer's Quest: New Medicines from Mother
Nature. Film dokumentasinya mengenai hutan Amazon
masuk nominasi Academy Award. ''Inilah kekuatan spirit
hutan,'' kata Plotkin bercanda menunjuk dirinya yang mulai
mencintai hutan sejak berkenalan dengan suku Shaman.
___________________________________________________________________
Mulai langganan envorum: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan envorum: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Arsip envorum di http://www.egroups.com/list/envorum
BARU!! Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected]