GATRA OnLine, Nomor 6/V, 26 Desember 1998 
                
KEANEKARAGAMAN HAYATI Megaflora dan Fauna

Indonesia negeri kedua terkaya dalam hal keanekaragaman hayati. 

Namun, perlindungan atas flora dan fauna sering berbenturan dengan
kepentingan ekonomi.

BUMI Indonesia sungguh kaya raya akan keanekaragaman hayati. Ungkapan ini
bukanlah kata-kata gombal. Tak percaya? Simak buku anyar bertajuk
Megadiversity: Earth's Biologically Wealthiest Nations, yang diluncurkan di
Jakarta, Jumat dua pekan lalu. Buku hasil kolaborasi ilmuwan Russell A.
Mittermeier, Patricio Robles Gill, dan Christina G. Mittermeier itu
menempatkan Indonesia pada urutan kedua negara terkaya di dunia dalam hal
keragaman flora
dan fauna. Urutan teratas, dari 17 negara yang diamati, diduduki Brasil,
negeri yang kondang dengan hutan Amazon-nya.

Direktur Bina Konservasi Flora dan Fauna di Departemen Kehutanan dan
Perkebunan, Heru Basuki, mengakui bahwa bumi Brasil memang kaya. Namun, ia
mempertanyakan penilaian yang menempatkan Indonesia di posisi kedua.
"Sebenarnya, sulit untuk mengatakan mana yang terbaik, Indonesia atau
Brasil? Tergantung dari sudut mana memandangnya," katanya. Skor
keanekaragaman flora dan fauna Brasil memang tinggi. Tapi dalam hal
endemisitasnya -jenis yang kas-
                Indonesia punya nilai tertinggi.

Christina G. Mittermeier mengakui, untuk jenis tumbuhan berpembuluh dan
vertebrata atau hewan bertulang belakang endemik, Indonesia memang berada
di urutan pertama, dengan skor koleksi 19.300 jenis. Jumlah keanekaragaman
hayati bumi Indonesia sendiri mencapai 325.350 jenis flora-fauna, termasuk
di dalamnya segala macam jamur, bakteri, serangga, tumbuhan berbunga, dan
vertebrata.

Wilayah Indonesia, yang berada di antara Benua Asia dan Australia, dengan
jumlah pulau 17.000, menjadi alasan megakeanekaragaman hayati itu. Jumlah
yang lebih dari 325.000 jenis itu masih akan bertambah, karena masih banyak
ekosistem yang belum terdokumentasikan, terutama di daerah laut. Di
Sulawesi, misalnya, yang merupakan transisi Asia-Australia, tim peneliti
dari Conservation International -sebuah lembaga swadaya masyarakat berskala
internasional- berhasil menemukan 1.300 jenis moluska, ikan laut, dan
koral. Sekitar 40 jenis
di antaranya adalah jenis baru, yang mungkin hanya dijumpai di Kepulauan
Togean-Banggai.

Pedalaman bumi Irian Jaya juga dikenal sebagai daerah yang paling miskin
informasi biologinya. Diduga, wilayah itu menyimpan sepertiga dari jumlah
keanekaragaman hayati Indonesia. Prakiraan sementara menunjukkan, 25.000
jenis tumbuhan berpembuluh, 164 spesies mamalia, 329 jenis reptil dan
amfibi, 650 jenis burung, 250 jenis ikan air tawar, serta 1.200 jenis ikan
laut ada di ujung timur wilayah Indonesia itu.

Jika penelitian keanekaragaman hayati di Indonesia terus ditingkatkan,
tidak tertutup kemungkinan Indonesia akan menjadi negara dengan keragaman
hayati dan endemitas tertinggi di dunia, mengungguli Brasil. Namun, tentu
saja, soal mana yang lebih unggul, bukan perkara penting. Yang utama ialah
bagaimana kekayaan alam tersebut bisa dipertahankan. Maklum, tingkat
kepunahan kekayaan alam itu belakangan cenderung meningkat drastis. Ibarat
kata, laju
kepunahannya sebanding dengan kecepatan manusia mengeksploitasi alam.
Perubahan ekosistem sering tak memedulikan mereka.

Memang, upaya konservasi terus dilakukan. Russell Mittermeier, misalnya,
mengusulkan model pendekatan wilderness area serta megadiversity countries
(MC). Pendekatan ini bersandar pada fakta bahwa keanekaragaman hayati suatu
negara sangat penting bagi strategi pengembangan domestik dan regionalnya.
Pada sisi lain, sebagai hal kedua, harus disadari bahwa
                    keanekaragaman hayati tidak tersebar merata di bumi.
Hal yang ketiga,                    negara yang memiliki keanekaragaman
hayati tinggi menghadapi ancaman atas kekayaan ekosistemnya. Keempat, demi
memetik hasil yang maksimal dengan
sumber daya terbatas, upaya konservasi harus dikonsentrasikan pada
negara yang sedang terancam kelestarian endemisitas dan keanekaragaman
hayatinya.

Selain empat hal itu, faktor lain yang menjadi dasar adalah soal keragaman
budayanya. Mengapa? Menurut Russell Mittermeier, ada keterkaitan kuat
antara keragaman hayati dan budaya. Sementara itu, kriteria yang dipakai
untuk menetapkan apakah suatu negara masuk MC atau tidak adalah tingkat
endemitas flora dan faunanya.

Suatu negara dapat masuk kategori MC jika memiliki kekayaan tetumbuhan
endemik sebanyak 2%, sekitar 5.000 jenis, dari total tumbuhan dunia.
Sementara itu, untuk satwa endemik harus 1%-2%, atau 240-480 spesies dari
total satwa dunia. Penilaian lain adalah menyangkut keragaman hayati secara
umum, keragaman ekosistem, adanya ekosistem laut, serta hutan hujan tropis.

Dengan pendekatan MC itu, Russell Mittermeier menetapkan adanya 17 negara
MC -sering juga disebut sebagai B-17 alias biodiversity-17, yakni negara
yang paling kaya sumber daya hayatinya di dunia. Tujuh di antara ke-17
negara itu berada di Benua Amerika, tiga di Afrika, enam di Asia, dan satu
di Australia. Total wilayah yang tercakup mencapai 51 juta kilometer persegi.

Selengkapnya, negara yang dimaksud adalah Brasil, Indonesia, Kolombia,
Meksiko, Australia, Madagaskar, Cina, Filipina, India, Peru, Papua Nugini,
Ekuador, Amerika Serikat, Venezuela, Malaysia, Afrika Selatan, dan Zaire.
Negara-negara B-17 tersebut secara keseluruhan memiliki 8.433 jenis
vertebrata nonikan atau 35% dari total yang ada di dunia, dan sekitar
180.000 jenis tumbuhan atau 62%-73% dari total tumbuhan dunia.

Nah, untuk sampai pada kesimpulan tersebut tentu bukan pekerjaan mudah.
Mittermeier dan kawan-kawan di Conservation International harus bekerja
keras. Tak kurang dari 248.429 jenis tumbuhan berpembuluh dan 43.259 jenis
vertebrata mesti didokumentasikan. Total jenis flora-fauna di planet bumi
sendiri diperkirakan mencapai 1,8 milyar jenis.

Hasilnya, ya seperti yang diungkap tadi. Dengan pendekatan MC itu,
Mittermeier berharap bahwa kepunahan bisa dicegah. "Inti dari konsep negara
megadiversity adalah perannya yang sangat penting untuk melakukan
konservasi sumber daya hayati dunia," kata Mittermeier. Pentolan di
Conservation International ini pun beranalog dengan keberadaan G-7.
Kelompok G-7 adalah negara kaya yang kuat ekonominya, sedangkan kelompok
B-17 adalah
negara kaya sumber daya hayati dan diharapkan menjadi kelompok negara
berpengaruh dalam membuat strategi konservasi global.

Saran yang diajukan Mittermeier tentu tidak gampang dijalankan. Mengapa?
Tawaran perlunya konservasi yang sering didengungkan negara maju terkadang
menimbulkan syak wasangka. Yakni, upaya konservasi dianggap sebagai bagian
dari upaya negara maju untuk menghambat pertumbuhan negara berkembang.

Dilematis, memang. Sebab, daerah yang mestinya menjadi lahan konservasi
tidak jarang di bawahnya juga terkandung bahan mineral yang melimpah. Kalau
dieksploitasi, flora dan fauna di atasnya terancam tergusur, atau bahkan
punah. Sedangkan kalau dibiarkan, negara bersangkutan kehilangan kesempatan
untuk mendapatkan keuntungan ekonomis.

Celakanya, manusia terkadang lebih mementingkan pilihan ekonomis.
Lahan-lahan penting untuk konservasi alam digempur. Akibatnya, lebih dari
80% jenis tumbuhan dan satwa di negara megadiversity pun terancam punah.
Padahal, keanekaragaman hayati sebenarnya memiliki potensi ekonomi.
"Keanekaragaman hayati itu penting untuk menunjang ekoturisme, kehutanan,
perikanan, dan industri pertanian," kata Menteri Kehutanan dan Perkebunan
Muslimin Nasution.

                Dwitri Waluyo 
Copyright � 1996 GATRA, Indonesian Weekly Newsmagazine all rights reserved 
                        

___________________________________________________________________
Mulai langganan envorum: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan envorum: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Arsip envorum di http://www.egroups.com/list/envorum

BARU!! Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke