Ya Fy, lucunya masih kalah sama tukul..........millisss kalau lagi kosong...rasane uenak tenan.
-----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Effy Rasnida Hutasuhut Sent: Wednesday, November 28, 2007 4:53 PM To: [email protected] Subject: RE: [exbe2de] Inspirasi: Doktor yang tukang bakmi Wah....pak Pri ini lucu ya....ternyata lebih Gaptek dari aku.... Biar bisa kangen2an terus sama ex BBD, ya jangan males buka milis-nya pak. Apalagi sampai berfikir mau ngabur... Mangan ora mangan pokoke miliiisssssss terus....he..he... maaf ya pak.... -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Prianto Tirto Prodjo Sent: Wednesday, November 28, 2007 1:44 PM To: [email protected] Subject: RE: [exbe2de] Inspirasi: Doktor yang tukang bakmi Kang Ucup Kalau kirim email saya ke alamat [EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]> com , yang mandiri saya sudah jarang buka, gimana utk terus bisa kontak yang teman2 ex BBD via yahoo. Aku GAPTEK yang begitu2 itu lho. Tks Prianto -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of kangucup Sent: Wednesday, November 28, 2007 10:18 AM To: [email protected] Subject: [exbe2de] Inspirasi: Doktor yang tukang bakmi Beberapa waktu lalu nggak sengaja mampir ke Bakmi JawaDU67 di pojokan Jl Dipati Ukur dan Jl Tengku Angkasa Bandung (terserah aja kalo dianggap iklan). Di situ pula nggak nyangka ketemu dengan pemiliknya yaitu mas Murtioso Salamun, alumni Elektronika ITB dan baru saja pensiun dari LEN LIPI (udah kenal lama karena dari "kampung" yang sama). Beliau buka warung Bakmi Jawa DU67 (Fortuga) itu konon karena terinspirasi oleh Wahyu Saidi yang di kartu namanya menyebutkan Doktor - Tukang Bakmi. Siapa sih Wakyu Saidi? Berikut kliping profil dan sepakterjang beliau sebagai dosen UNJ, sering memberi seminar, nulis di Kontan dan tentu saja sebagai "tukang bakmi"... salam.. Wahyu dan "Virus" Wirausaha Di kartu namanya tercetak Dr Ir Wahyu Saidi MSc. Tentu tidak istimewa karena masih banyak orang yang memiliki gelar lebih panjang dan lebih banyak. Baru terasa luar biasa ketika membaca profesi yang tercetak pada kartu namanya: tukang bakmi. Boleh jadi dialah satu-satunya tukang bakmi bergelar doktor insinyur. Beneran, bukan gelar dengan ijazah belian. Alumnus Institut Teknologi Bandung ini kini memang menjadi pengajar di Universitas Negeri Jakarta. Mantan manajer sebuah perusahaan jalan tol dan perusahaan pertambakan terbesar di dunia itu bertekad menularkan ?virus? kewirausahaan kepada sebanyak mungkin orang Indonesia. Ia bercita-cita mencetak sebanyak-banyaknya orang yang mampu menciptakan lapangan kerja buat dirinya sendiri dan orang lain, di tengah semakin ketatnya perebutan lapangan kerja formal. Karena itu, hampir separuh waktunya kini dipakai keliling Indonesia memenuhi undangan berbicara dalam forum seminar, diskusi, atau apa pun namanya. Tidak lain kecuali menggugah orang Indonesia untuk menjadi pengusaha profesional. Ia tidak hanya bicara. Kini, bekerja sama dengan UNJ, ia mulai memformalkan upayanya itu. Mereka yang berminat berwirausaha diberikan pendidikan dan pelatihan secara formal lalu diberi paket usaha, semisal usaha bakso, pijat refleksi, salon kecantikan, dan bengkel. ?Jadikan bisnis sebagai suatu pilihan hidup. Kalau jadi pengusaha kue apem, jadilah pengusaha apem yang profesional, tekun, disiplin, pasti jadi. Masalahnya, kalau orang Indonesia menjual kue apem, kue cucur, mereka tidak menganggap dirinya sebagai pengusaha. Padahal, di situ ada potensi keuntungan besar. Kalau cuma uang 100 ribu rupiah sehari, gampang dapatnya,? katanya. Berawal dari krisis moneter, ketika perusahaan tempatnya bekerja terpaksa ?tidur?, dengan jabatan manajer tentulah sulit mencari pekerjaan di perusahaan lain untuk jabatan dan gaji yang setimpal. Maka, pilihannya adalah berhenti dan mencoba berusaha sendiri. Mulailah ia memasuki agrobisnis dengan bertanam cabe, ternak ayam, pembesaran ikan, buka bimbingan belajar, dan usaha makanan Palembang. Saat berusaha makanan Palembang ini, pengalaman mengajarinya bahwa makanan Palembang adalah makanan besar dan untuk orang dewasa. Seharusnya yang diusahakan adalah makanan untuk semua umur dan semua waktu. Sepanjang jalan di Margonda, Depok, ditelusuri untuk survei. Pilihan jatuh pada usaha mi ayam. Persoalannya, mi ayam apa yang dijual supaya laku? Diupayakanlah untuk bekerja sama dengan bakmi GM yang sudah lebih dulu populer. Tetapi, apa daya tangan tak sampai. ?Wara laba mereka enggak mau, kerja sama enggak mau juga. Ya belajarlah sendiri. Saya tidak malu-malu mengatakan saya follower GM. Saya sebut bakmi ala GM, dan strategi ini efektif sekali kala itu. Untungnya, bakmi GM tidak ada di mana-mana, hanya tempat tertentu saja,? paparnya. Ia pertama kali membuka ?warung? bakmi ala GM itu di Menara Kadin, Jakarta, pada Januari 2002. Omzetnya pada hari pertama sebanyak Rp 66.000. Tak lama kemudian dibukanya lagi satu warung di Jalan Pemuda dengan omzet hari pertama, Rp 200.000. ?Dua bulan kemudian baru mencapai omzet Rp 1 juta,? kenangnya. Setelah dirasa usaha ini sudah bisa berjalan, dipatenkanlah nama sendiri, yakni Bakmi Langgara dan Bakmi Tebet pada tahun 2004. Ketika itu, ia sudah memiliki 36 cabang. Langgara berarti langgar, tempat orang berkumpul, juga bisa diartikan mampir pada saat lewat. Sementara Tebet, diambil dari sebuah nama kawasan yang berkonotasi Jakarta, untuk menciptakan kesan bagi orang yang berdomisili di luar Jakarta. Konsep waralaba mulai dikembangkan pada saat membuka cabang ke-11. ?Tapi sebenarnya lebih pada konsep joint operation, partnership. Waralaba penuh nanti pada cabang ke-12 untuk bakmi Langgara,? kenang Wahyu yang merasa mantap berusaha bakmi pada saat membuka cabang ke-10. Kini Wahyu yang lahir di Palembang tahun 1962 sudah punya 39 cabang restoran bakmi merek Langgara dan 62 cabang bakmi Tebet, di 18 kota di seluruh Indonesia. Total karyawan mencapai 700 orang. Sebentar lagi ia akan membuka cabang di Kucing dan Kuala Lumpur, Malaysia, serta di Mekkah, Arab Saudi. Meski demikian, bukan cerita sukses saja yang mengiringi perjalanan bisnisnya. Ada 15 cabang tutup.? Salah pilih lokasi, kontrak tempat habis, dan tidak cocok dengan partner,? katanya. Bisnis mi ini, menurut Wahyu, tidak bisa asal-asalan, harus serius dan disiplin. Bagi orang yang sudah punya duit, bisa saja menjadikannya usaha sampingan sehingga tidak serius. ?Nah kalau berhenti, bagi mereka tidak soal, tetapi bagi saya ya nama rusak,? paparnya menjelaskan tentang kriteria mitra usahanya dalam setiap pembukaan cabang. Cintai profesi dan menganggapnya ibadah juga sangat ditekankan kepada semua mitranya. Mengelap meja buat pengunjung, hal biasa baginya. (Andi suruji) **** Bakmi Lahir dari Tangan Doktor Resep bakminya mengacu pada cita rasa Bakmi GM. Kendati meraih gelar doktor dan menjabat manajer proyek pembangunan jalan tol, H Wahyu Saidi tidak merasa gengsi berjualan bakmi. Krisis ekonomi yang mendera Bumi Pertiwi sejak akhir 1997 malah menjadi peluang baginya untuk mengembangkan usaha yang sudah lama diimpikannya. url: <http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=3&id=162005&kat_id=105&kat_id1=149&kat_id2=251> http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=3&id=162005&kat_id=105&kat_id1=149&kat_id2=251 Berani Memulai Bisnis Seorang pemenang mampu menangkap peluang, berprestasi, berani bersaing, bertanggung jawab, dan tidak mudah menyerah. H Wahyu Saidi, (42 tahun), dengan bangga menyatakan bahwa mungkin dialah satu-satunya insinyur lulusan ITB yang kini berprofesi sebagai tukang bakmi. Pria kelahiran Palembang 24 Oktober 1962 lulusan Teknik Sipil ITB (1987) dan S2 Teknik Industri ITB (1991), memang patut berbangga. Karena sebagai dikemukakannya sendiri, 'Bakmi Langgara' dan 'Bakmi Tebet' yang didirikan dan dikembangkannya sejak tiga tahun silam, kini punya cabang di hampir seluruh tempat di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Bahkan jangkauannya sudah meluas hingga ke Cilegon, Bandung, dan Yogyakarta. Lulusan Doktor Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta (2000) itu mengungkapkan, Bakmi Langgara-nya sudah mempunyai 38 cabang dan Bakmi Tebet 47 cabang. url= <http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=187391&kat_id=152> http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=187391&kat_id=152 Bakmi Langgara Muhammad Firdaus (bukan nama sebenarnya), bisa dijadikan contoh. Profesi sehari-harinya adalah wartawan salah satu media cetak yang terbit di Jakarta. Tertarik dengan konsep bisnis waralaba Bakmi Langgara, ia pun kemudian membuka cabang di wilayah Sawangan, Depok. "Dari segi nilai investasi, Bakmi Langgara masih terjangkaulah. Saya pilih Sawangan karena di sini banyak permukiman (Bukit Rivaria) dan belum banyak saingan," jelasnya. Ia mengambil waralaba Bakmi Langgara sekitar pertengahan tahun 2004. Investasi awal yang harus ia keluarkan adalah Rp 60 juta. Itu untuk pembayaran franchise fee sebesar Rp 30 juta dan sisanya Rp 30 juta untuk peralatan, perabotan hingga pegawai yang semuanya disuplai oleh franchisor. Selaku terwaralaba (franchisee), dirinya masih harus mengeluarkan biaya tambahan untuk sewa tempat. Besarnya bervariasi tergantung mahal tidaknya lokasi usaha. Untuk Sawangan katanya, jelas lebih murah dibandingkan Margonda atau Warung Buncit misalnya. Untuk manajemen, selain ada kontrol rutin dari pihak Bakmi Langgara, operasional sehari-hari dijalankan oleh saudaranya. Setelah buka beberapa bulan, dirinya gembira karena bisnis waralabanya berkembang cukup baik. Setiap bulannya paling tidak omzetnya mencapai Rp 45-50 juta. Dari jumlah itu, sekitar 20-30 persen menjadi keuntungan bersih baginya. "Lumayanlah. Kalau omzet seperti ini terus, paling lambat setahun saya sudah mencapai BEP (Break Even Point atau titik impas)," katanya berbangga hati. Yang penting bagi seorang pemula, katanya, adalah berani nekat namun tetap smart (pintar). Soal uang untuk investasi awal menurutnya bisa dengan mengajak teman atau saudara sehingga beban yang ditanggung lebih ringan. url: <http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/usaha/2005/0326/ukm1.html> http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/usaha/2005/0326/ukm1.html *** Bisnis Berbendera Islam Laris Manis -- truncated--- Nama lain yang juga mengusung bendera Islam dalam bisnis adalah Bakmi Langgara. Mendengar kata Langgara, asosiasi banyak orang segera saja tertuju kepada Langgar atau Mushalla yang merupakan tempat ibadah umat Islam (semacam masjid kecil dan tersebar di kantong-kantong pemukiman penduduk). ''Memang, Bakmi Langgara adalah bakmi yang dibuat oleh orang Islam (Muslim), dan merupakan bakmi halal. Inilah positioning kami. Meskipun dibuat oleh Muslim, Bakmi Langgara ditujukan untuk semua orang atau kalangan,'' kata pendiri dan pemilik Bakmi Langgara Group, Dr Ir H Wahyu Saidi MSc. Alumni ITB itu secara sadar memakai gelar ''haji'' di depan namanya untuk menguatkan identitas keislamannya tersebut. ''Biasanya asosiasi masyarakat terhadap pengusaha bakmi adalah orang-orang Chinese. Memang berbagai merek bakmi terkenal di ibukota maupun kota-kota besar lainnya kebanyakan milik orang Chinese. Tapi Bakmi Langgara dimiliki oleh orang Muslim, dan sudah haji pula, sehingga dapat memberikan ketenangan kepada para konsumen Muslim yang kerap ragu-ragu menyantap bakmi,'' tegas Wahyu. Menurut Wahyu, pemakaian identitas keislaman dalam bisnis yang digelutinya sejak tiga tahun terakhir itu sama sekali tak mengganggu. Justru makin mendukung kesuksesannya. ''Bagi orang Muslim, pemakaian identitas keislaman itu membuat mereka makin yakin untuk makan di Bakmi Langgara. Di sisi lain, para pembeli non-Muslim, termasuk Chinese sama sekali tak terganggu oleh atribut keislaman itu. Sebab, dalam bisnis restoran, yang terpenting adalah makanan itu enak dan resik, harganya terjangkau, dan pelayanannya menyenangkan,'' paparnya. Berkat keyakinannya itu, dalam waktu relatif singkat Bakmi Langgara Group berhasil melebarkan sayapnya hingga 86 cabang -- sebagian besar dalam bentuk waralaba. Gerainya tersebar di wilayah Jakarta Depok Bogor Tangerang Bekasi (Jadebotabek), Bandung, dan Yogyakarta, hingga KM Kelud. ''Saya yakin bisnis berbendera Islam sangat berkah dan menjanjikan. Untung akhirat, untung pula di dunia. Adakah yang lebih indah dari hal ini?'' kata Wahyu. Wahyu Saidi mengaku pihanya tak sekadar memakai nama Langgara. Manajemen Bakmi Langara Group berusaha menerapkan prinsip-prinsip yang sesuai dengan syariat Islam. Misalnya: zakat, pengajian di kantor pusat maupun sejumlah cabang, umrah untuk karyawan, kurban, bantuan untuk korban bencana alam. ''Tidak kalah pentingnya adalah kejujuran dan keterbukaan, sebab ini merupakan prinsip utama dalam bisnis berbendera Islam. Nabi mengatakan, pedagang yang jujur itu bersama para Nabi, para shiddiqin, dan para syuhada nanti di Surga,'' papar Wahyu. ----- truncated---
