Beberapa waktu lalu nggak sengaja mampir ke Bakmi JawaDU67 di pojokan Jl
Dipati Ukur dan Jl Tengku Angkasa Bandung (terserah aja kalo dianggap
iklan). Di situ pula nggak nyangka ketemu dengan pemiliknya yaitu mas
Murtioso Salamun, alumni Elektronika ITB dan baru saja pensiun dari LEN
LIPI (udah kenal lama karena dari "kampung" yang sama).  Beliau buka
warung Bakmi Jawa DU67 (Fortuga) itu konon karena terinspirasi oleh 
Wahyu Saidi yang di kartu namanya menyebutkan Doktor - Tukang Bakmi.
Siapa sih Wakyu Saidi? Berikut kliping profil dan sepakterjang beliau
sebagai dosen UNJ, sering memberi seminar, nulis di Kontan dan tentu
saja sebagai "tukang bakmi"...

salam..



Wahyu dan "Virus" Wirausaha

Di kartu namanya tercetak Dr Ir Wahyu Saidi MSc. Tentu tidak istimewa
karena masih banyak orang yang memiliki gelar lebih panjang dan lebih
banyak. Baru terasa luar biasa ketika membaca profesi yang tercetak pada
kartu namanya: tukang bakmi. Boleh jadi dialah satu-satunya tukang bakmi
bergelar doktor insinyur.

Beneran, bukan gelar dengan ijazah belian. Alumnus Institut Teknologi
Bandung ini kini memang menjadi pengajar di Universitas Negeri Jakarta.

Mantan manajer sebuah perusahaan jalan tol dan perusahaan pertambakan
terbesar di dunia itu bertekad menularkan ?virus? kewirausahaan kepada
sebanyak mungkin orang Indonesia. Ia bercita-cita mencetak
sebanyak-banyaknya orang yang mampu menciptakan lapangan kerja buat
dirinya sendiri dan orang lain, di tengah semakin ketatnya perebutan
lapangan kerja formal.

Karena itu, hampir separuh waktunya kini dipakai keliling Indonesia
memenuhi undangan berbicara dalam forum seminar, diskusi, atau apa pun
namanya. Tidak lain kecuali menggugah orang Indonesia untuk menjadi
pengusaha profesional.

Ia tidak hanya bicara. Kini, bekerja sama dengan UNJ, ia mulai
memformalkan upayanya itu. Mereka yang berminat berwirausaha diberikan
pendidikan dan pelatihan secara formal lalu diberi paket usaha, semisal
usaha bakso, pijat refleksi, salon kecantikan, dan bengkel.

?Jadikan bisnis sebagai suatu pilihan hidup. Kalau jadi pengusaha kue
apem, jadilah pengusaha apem yang profesional, tekun, disiplin, pasti
jadi. Masalahnya, kalau orang Indonesia menjual kue apem, kue cucur,
mereka tidak menganggap dirinya sebagai pengusaha. Padahal, di situ ada
potensi keuntungan besar. Kalau cuma uang 100 ribu rupiah sehari,
gampang dapatnya,? katanya.

Berawal dari krisis moneter, ketika perusahaan tempatnya bekerja
terpaksa ?tidur?, dengan jabatan manajer tentulah sulit mencari
pekerjaan di perusahaan lain untuk jabatan dan gaji yang setimpal. Maka,
pilihannya adalah berhenti dan mencoba berusaha sendiri. Mulailah ia
memasuki agrobisnis dengan bertanam cabe, ternak ayam, pembesaran ikan,
buka bimbingan belajar, dan usaha makanan Palembang.

Saat berusaha makanan Palembang ini, pengalaman mengajarinya bahwa
makanan Palembang adalah makanan besar dan untuk orang dewasa.
Seharusnya yang diusahakan adalah makanan untuk semua umur dan semua
waktu. Sepanjang jalan di Margonda, Depok, ditelusuri untuk survei.
Pilihan jatuh pada usaha mi ayam.

Persoalannya, mi ayam apa yang dijual supaya laku? Diupayakanlah untuk
bekerja sama dengan bakmi GM yang sudah lebih dulu populer. Tetapi, apa
daya tangan tak sampai. ?Wara laba mereka enggak mau, kerja sama enggak
mau juga. Ya belajarlah sendiri. Saya tidak malu-malu mengatakan saya
follower GM. Saya sebut bakmi ala GM, dan strategi ini efektif sekali
kala itu. Untungnya, bakmi GM tidak ada di mana-mana, hanya tempat
tertentu saja,? paparnya.

Ia pertama kali membuka ?warung? bakmi ala GM itu di Menara Kadin,
Jakarta, pada Januari 2002. Omzetnya pada hari pertama sebanyak Rp
66.000. Tak lama kemudian dibukanya lagi satu warung di Jalan Pemuda
dengan omzet hari pertama, Rp 200.000. ?Dua bulan kemudian baru mencapai
omzet Rp 1 juta,? kenangnya.

Setelah dirasa usaha ini sudah bisa berjalan, dipatenkanlah nama
sendiri, yakni Bakmi Langgara dan Bakmi Tebet  pada tahun 2004. Ketika
itu, ia sudah memiliki 36 cabang.

Langgara berarti langgar, tempat orang berkumpul, juga bisa diartikan
mampir pada saat lewat. Sementara Tebet, diambil dari sebuah nama
kawasan yang berkonotasi Jakarta, untuk menciptakan kesan bagi orang
yang berdomisili di luar Jakarta.

Konsep waralaba mulai dikembangkan pada saat membuka cabang ke-11. ?Tapi
sebenarnya lebih pada konsep joint operation, partnership. Waralaba
penuh nanti pada cabang ke-12 untuk bakmi Langgara,? kenang Wahyu yang
merasa mantap berusaha bakmi pada saat membuka cabang ke-10.

Kini Wahyu yang lahir di Palembang tahun 1962 sudah punya 39 cabang
restoran bakmi merek Langgara dan 62 cabang bakmi Tebet, di 18 kota di
seluruh Indonesia. Total karyawan mencapai 700 orang. Sebentar lagi ia
akan membuka cabang di Kucing dan Kuala Lumpur, Malaysia, serta di
Mekkah, Arab Saudi.

Meski demikian, bukan cerita sukses saja yang mengiringi perjalanan
bisnisnya. Ada 15 cabang tutup.? Salah pilih lokasi, kontrak tempat
habis, dan tidak cocok dengan partner,? katanya.

Bisnis mi ini, menurut Wahyu, tidak bisa asal-asalan, harus serius dan
disiplin. Bagi orang yang sudah punya duit, bisa saja menjadikannya
usaha sampingan sehingga tidak serius. ?Nah kalau berhenti, bagi mereka
tidak soal, tetapi bagi saya ya nama rusak,? paparnya menjelaskan
tentang kriteria mitra usahanya dalam setiap pembukaan cabang.

Cintai profesi dan menganggapnya ibadah juga sangat ditekankan kepada
semua mitranya. Mengelap meja buat pengunjung, hal biasa baginya. (Andi
suruji)

****



Bakmi Lahir dari Tangan Doktor

Resep bakminya mengacu pada cita rasa Bakmi GM. Kendati meraih gelar
doktor dan menjabat manajer proyek pembangunan jalan tol, H Wahyu Saidi
tidak merasa gengsi berjualan bakmi. Krisis ekonomi yang mendera Bumi
Pertiwi sejak akhir 1997 malah menjadi peluang baginya untuk
mengembangkan usaha yang sudah lama diimpikannya.

url:

 
http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=3&id=162005&kat\
_id=105&kat_id1=149&kat_id2=251
<http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=3&id=162005&ka\
t_id=105&kat_id1=149&kat_id2=251>

Berani Memulai Bisnis

Seorang pemenang mampu menangkap peluang, berprestasi, berani bersaing,
bertanggung jawab, dan tidak mudah menyerah. H Wahyu Saidi, (42 tahun),
dengan bangga menyatakan bahwa mungkin dialah satu-satunya insinyur
lulusan ITB yang kini berprofesi sebagai tukang bakmi. Pria kelahiran
Palembang 24 Oktober 1962 lulusan Teknik Sipil ITB (1987) dan S2 Teknik
Industri ITB (1991), memang patut berbangga. Karena sebagai
dikemukakannya sendiri, 'Bakmi Langgara' dan 'Bakmi Tebet' yang
didirikan dan dikembangkannya sejak tiga tahun silam, kini punya cabang
di hampir seluruh tempat di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok,
Tangerang, Bekasi).

Bahkan jangkauannya sudah meluas hingga ke Cilegon, Bandung, dan
Yogyakarta. Lulusan Doktor Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri
Jakarta (2000) itu mengungkapkan, Bakmi Langgara-nya sudah mempunyai 38
cabang dan Bakmi Tebet 47 cabang.

  url=

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=187391&kat_id=152
<http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=187391&kat_id=152>



Bakmi Langgara

Muhammad Firdaus (bukan nama sebenarnya), bisa dijadikan contoh. Profesi
sehari-harinya adalah wartawan salah satu media cetak yang terbit di
Jakarta. Tertarik dengan konsep bisnis waralaba Bakmi Langgara, ia pun
kemudian membuka cabang di wilayah Sawangan, Depok.

"Dari segi nilai investasi, Bakmi Langgara masih terjangkaulah. Saya
pilih Sawangan karena di sini banyak permukiman (Bukit Rivaria) dan
belum banyak saingan," jelasnya. Ia mengambil waralaba Bakmi Langgara
sekitar pertengahan tahun 2004. Investasi awal yang harus ia keluarkan
adalah Rp 60 juta.

Itu untuk pembayaran franchise fee sebesar Rp 30 juta dan sisanya Rp 30
juta untuk peralatan, perabotan hingga pegawai yang semuanya disuplai
oleh franchisor. Selaku terwaralaba (franchisee), dirinya masih harus
mengeluarkan biaya tambahan untuk sewa tempat.

Besarnya bervariasi tergantung mahal tidaknya lokasi usaha. Untuk
Sawangan katanya, jelas lebih murah dibandingkan Margonda atau Warung
Buncit misalnya. Untuk manajemen, selain ada kontrol rutin dari pihak
Bakmi Langgara, operasional sehari-hari dijalankan oleh saudaranya.

Setelah buka beberapa bulan, dirinya gembira karena bisnis waralabanya
berkembang cukup baik. Setiap bulannya paling tidak omzetnya mencapai Rp
45-50 juta. Dari jumlah itu, sekitar 20-30 persen menjadi keuntungan
bersih baginya.

"Lumayanlah. Kalau omzet seperti ini terus, paling lambat setahun saya
sudah mencapai BEP (Break Even Point atau titik impas)," katanya
berbangga hati. Yang penting bagi seorang pemula, katanya, adalah berani
nekat namun tetap smart (pintar). Soal uang untuk investasi awal
menurutnya bisa dengan mengajak teman atau saudara sehingga beban yang
ditanggung lebih ringan.

url: http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/usaha/2005/0326/ukm1.html 
<http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/usaha/2005/0326/ukm1.html>



***

Bisnis Berbendera Islam Laris Manis

-- truncated---
Nama lain yang juga mengusung bendera Islam dalam bisnis adalah Bakmi
Langgara. Mendengar kata Langgara, asosiasi banyak orang segera saja
tertuju kepada Langgar atau Mushalla yang merupakan tempat ibadah umat
Islam (semacam masjid kecil dan tersebar di kantong-kantong pemukiman
penduduk). ''Memang, Bakmi Langgara adalah bakmi yang dibuat oleh orang
Islam (Muslim), dan merupakan bakmi halal. Inilah positioning kami.
Meskipun dibuat oleh Muslim, Bakmi Langgara ditujukan untuk semua orang
atau kalangan,'' kata pendiri dan pemilik Bakmi Langgara Group, Dr Ir H
Wahyu Saidi MSc.

Alumni ITB itu secara sadar memakai gelar ''haji'' di depan namanya
untuk menguatkan identitas keislamannya tersebut. ''Biasanya asosiasi
masyarakat terhadap pengusaha bakmi adalah orang-orang Chinese. Memang
berbagai merek bakmi terkenal di ibukota maupun kota-kota besar lainnya
kebanyakan milik orang Chinese. Tapi Bakmi Langgara dimiliki oleh orang
Muslim, dan sudah haji pula, sehingga dapat memberikan ketenangan kepada
para konsumen Muslim yang kerap ragu-ragu menyantap bakmi,'' tegas
Wahyu.

Menurut Wahyu, pemakaian identitas keislaman dalam bisnis yang
digelutinya sejak tiga tahun terakhir itu sama sekali tak mengganggu.
Justru makin mendukung kesuksesannya. ''Bagi orang Muslim, pemakaian
identitas keislaman itu membuat mereka makin yakin untuk makan di Bakmi
Langgara. Di sisi lain, para pembeli non-Muslim, termasuk Chinese sama
sekali tak terganggu oleh atribut keislaman itu. Sebab, dalam bisnis
restoran, yang terpenting adalah makanan itu enak dan resik, harganya
terjangkau, dan pelayanannya menyenangkan,'' paparnya.

Berkat keyakinannya itu, dalam waktu relatif singkat Bakmi Langgara
Group berhasil melebarkan sayapnya hingga 86 cabang -- sebagian besar
dalam bentuk waralaba. Gerainya tersebar di wilayah Jakarta Depok Bogor
Tangerang Bekasi (Jadebotabek), Bandung, dan Yogyakarta, hingga KM
Kelud. ''Saya yakin bisnis berbendera Islam sangat berkah dan
menjanjikan. Untung akhirat, untung pula di dunia. Adakah yang lebih
indah dari hal ini?'' kata Wahyu.



Wahyu Saidi mengaku pihanya tak sekadar memakai nama Langgara. Manajemen
Bakmi Langara Group berusaha menerapkan prinsip-prinsip yang sesuai
dengan syariat Islam. Misalnya: zakat, pengajian di kantor pusat maupun
sejumlah cabang, umrah untuk karyawan, kurban, bantuan untuk korban
bencana alam. ''Tidak kalah pentingnya adalah kejujuran dan keterbukaan,
sebab ini merupakan prinsip utama dalam bisnis berbendera Islam. Nabi
mengatakan, pedagang yang jujur itu bersama para Nabi, para shiddiqin,
dan para syuhada nanti di Surga,'' papar Wahyu.

----- truncated---

Kirim email ke