warung setan di kelapa gading...
--- In [email protected], "Harwanto" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Wah Pak Pri ini begitu masuk milis langsung rame milisnya soal setan,
> --- asal ojo podo kesetanan ............. he he he
>
>
>
> ________________________________
>
> From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
> Of Prianto Tirto Prodjo
> Sent: Thursday, November 29, 2007 1:20 PM
> To: [email protected]
> Subject: RE: [exbe2de] Inspirasi: Doktor yang tukang bakmi
>
>
>
> Ya Fy, lucunya masih kalah sama tukul..........millisss kalau lagi
> kosong...rasane uenak tenan.
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Behalf Of Effy Rasnida Hutasuhut
> Sent: Wednesday, November 28, 2007 4:53 PM
> To: [email protected]
> Subject: RE: [exbe2de] Inspirasi: Doktor yang tukang bakmi
>
> Wah....pak Pri ini lucu ya....ternyata lebih Gaptek dari aku....
>
> Biar bisa kangen2an terus sama ex BBD, ya jangan males buka
> milis-nya pak.
>
> Apalagi sampai berfikir mau ngabur...
>
> Mangan ora mangan pokoke miliiisssssss terus....he..he... maaf
> ya pak....
>
>
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: [email protected]
> [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Prianto Tirto Prodjo
> Sent: Wednesday, November 28, 2007 1:44 PM
> To: [email protected]
> Subject: RE: [exbe2de] Inspirasi: Doktor yang tukang
> bakmi
>
> Kang Ucup
>
> Kalau kirim email saya ke alamat [EMAIL PROTECTED]
> <mailto:[EMAIL PROTECTED] , yang mandiri saya sudah jarang buka,
> gimana utk terus bisa kontak yang teman2 ex BBD via yahoo. Aku GAPTEK
> yang begitu2 itu lho.
>
>
>
> Tks
>
>
>
> Prianto
>
> -----Original Message-----
> From: [email protected]
> [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of kangucup
> Sent: Wednesday, November 28, 2007 10:18 AM
> To: [email protected]
> Subject: [exbe2de] Inspirasi: Doktor yang tukang
> bakmi
>
> Beberapa waktu lalu nggak sengaja mampir ke
> Bakmi JawaDU67 di pojokan Jl Dipati Ukur dan Jl Tengku Angkasa Bandung
> (terserah aja kalo dianggap iklan). Di situ pula nggak nyangka ketemu
> dengan pemiliknya yaitu mas Murtioso Salamun, alumni Elektronika ITB
dan
> baru saja pensiun dari LEN LIPI (udah kenal lama karena dari "kampung"
> yang sama). Beliau buka warung Bakmi Jawa DU67 (Fortuga) itu konon
> karena terinspirasi oleh Wahyu Saidi yang di kartu namanya menyebutkan
> Doktor - Tukang Bakmi.
> Siapa sih Wakyu Saidi? Berikut kliping profil
> dan sepakterjang beliau sebagai dosen UNJ, sering memberi seminar,
nulis
> di Kontan dan tentu saja sebagai "tukang bakmi"...
>
> salam..
>
>
>
> Wahyu dan "Virus" Wirausaha
>
> Di kartu namanya tercetak Dr Ir Wahyu Saidi MSc.
> Tentu tidak istimewa karena masih banyak orang yang memiliki gelar
lebih
> panjang dan lebih banyak. Baru terasa luar biasa ketika membaca
profesi
> yang tercetak pada kartu namanya: tukang bakmi. Boleh jadi dialah
> satu-satunya tukang bakmi bergelar doktor insinyur.
>
> Beneran, bukan gelar dengan ijazah belian.
> Alumnus Institut Teknologi Bandung ini kini memang menjadi pengajar di
> Universitas Negeri Jakarta.
>
> Mantan manajer sebuah perusahaan jalan tol dan
> perusahaan pertambakan terbesar di dunia itu bertekad menularkan
?virus?
> kewirausahaan kepada sebanyak mungkin orang Indonesia. Ia bercita-cita
> mencetak sebanyak-banyaknya orang yang mampu menciptakan lapangan
kerja
> buat dirinya sendiri dan orang lain, di tengah semakin ketatnya
> perebutan lapangan kerja formal.
>
> Karena itu, hampir separuh waktunya kini dipakai
> keliling Indonesia memenuhi undangan berbicara dalam forum seminar,
> diskusi, atau apa pun namanya. Tidak lain kecuali menggugah orang
> Indonesia untuk menjadi pengusaha profesional.
>
> Ia tidak hanya bicara. Kini, bekerja sama dengan
> UNJ, ia mulai memformalkan upayanya itu. Mereka yang berminat
> berwirausaha diberikan pendidikan dan pelatihan secara formal lalu
> diberi paket usaha, semisal usaha bakso, pijat refleksi, salon
> kecantikan, dan bengkel.
>
> ?Jadikan bisnis sebagai suatu pilihan hidup.
> Kalau jadi pengusaha kue apem, jadilah pengusaha apem yang
profesional,
> tekun, disiplin, pasti jadi. Masalahnya, kalau orang Indonesia menjual
> kue apem, kue cucur, mereka tidak menganggap dirinya sebagai
pengusaha.
> Padahal, di situ ada potensi keuntungan besar. Kalau cuma uang 100
ribu
> rupiah sehari, gampang dapatnya,? katanya.
>
> Berawal dari krisis moneter, ketika perusahaan
> tempatnya bekerja terpaksa ?tidur?, dengan jabatan manajer tentulah
> sulit mencari pekerjaan di perusahaan lain untuk jabatan dan gaji yang
> setimpal. Maka, pilihannya adalah berhenti dan mencoba berusaha
sendiri.
> Mulailah ia memasuki agrobisnis dengan bertanam cabe, ternak ayam,
> pembesaran ikan, buka bimbingan belajar, dan usaha makanan Palembang.
>
> Saat berusaha makanan Palembang ini, pengalaman
> mengajarinya bahwa makanan Palembang adalah makanan besar dan untuk
> orang dewasa. Seharusnya yang diusahakan adalah makanan untuk semua
umur
> dan semua waktu. Sepanjang jalan di Margonda, Depok, ditelusuri untuk
> survei. Pilihan jatuh pada usaha mi ayam.
>
> Persoalannya, mi ayam apa yang dijual supaya
> laku? Diupayakanlah untuk bekerja sama dengan bakmi GM yang sudah
lebih
> dulu populer. Tetapi, apa daya tangan tak sampai. ?Wara laba mereka
> enggak mau, kerja sama enggak mau juga. Ya belajarlah sendiri. Saya
> tidak malu-malu mengatakan saya follower GM. Saya sebut bakmi ala GM,
> dan strategi ini efektif sekali kala itu. Untungnya, bakmi GM tidak
ada
> di mana-mana, hanya tempat tertentu saja,? paparnya.
>
> Ia pertama kali membuka ?warung? bakmi ala GM
> itu di Menara Kadin, Jakarta, pada Januari 2002. Omzetnya pada hari
> pertama sebanyak Rp 66.000. Tak lama kemudian dibukanya lagi satu
warung
> di Jalan Pemuda dengan omzet hari pertama, Rp 200.000. ?Dua bulan
> kemudian baru mencapai omzet Rp 1 juta,? kenangnya.
>
> Setelah dirasa usaha ini sudah bisa berjalan,
> dipatenkanlah nama sendiri, yakni Bakmi Langgara dan Bakmi Tebet pada
> tahun 2004. Ketika itu, ia sudah memiliki 36 cabang.
>
> Langgara berarti langgar, tempat orang
> berkumpul, juga bisa diartikan mampir pada saat lewat. Sementara
Tebet,
> diambil dari sebuah nama kawasan yang berkonotasi Jakarta, untuk
> menciptakan kesan bagi orang yang berdomisili di luar Jakarta.
>
> Konsep waralaba mulai dikembangkan pada saat
> membuka cabang ke-11. ?Tapi sebenarnya lebih pada konsep joint
> operation, partnership. Waralaba penuh nanti pada cabang ke-12 untuk
> bakmi Langgara,? kenang Wahyu yang merasa mantap berusaha bakmi pada
> saat membuka cabang ke-10.
>
> Kini Wahyu yang lahir di Palembang tahun 1962
> sudah punya 39 cabang restoran bakmi merek Langgara dan 62 cabang
bakmi
> Tebet, di 18 kota di seluruh Indonesia. Total karyawan mencapai 700
> orang. Sebentar lagi ia akan membuka cabang di Kucing dan Kuala
Lumpur,
> Malaysia, serta di Mekkah, Arab Saudi.
>
> Meski demikian, bukan cerita sukses saja yang
> mengiringi perjalanan bisnisnya. Ada 15 cabang tutup.? Salah pilih
> lokasi, kontrak tempat habis, dan tidak cocok dengan partner,?
katanya.
>
> Bisnis mi ini, menurut Wahyu, tidak bisa
> asal-asalan, harus serius dan disiplin. Bagi orang yang sudah punya
> duit, bisa saja menjadikannya usaha sampingan sehingga tidak serius.
> ?Nah kalau berhenti, bagi mereka tidak soal, tetapi bagi saya ya nama
> rusak,? paparnya menjelaskan tentang kriteria mitra usahanya dalam
> setiap pembukaan cabang.
>
> Cintai profesi dan menganggapnya ibadah juga
> sangat ditekankan kepada semua mitranya. Mengelap meja buat
pengunjung,
> hal biasa baginya. (Andi suruji)
>
> ****
>
>
>
> Bakmi Lahir dari Tangan Doktor
>
> Resep bakminya mengacu pada cita rasa Bakmi GM.
> Kendati meraih gelar doktor dan menjabat manajer proyek pembangunan
> jalan tol, H Wahyu Saidi tidak merasa gengsi berjualan bakmi. Krisis
> ekonomi yang mendera Bumi Pertiwi sejak akhir 1997 malah menjadi
peluang
> baginya untuk mengembangkan usaha yang sudah lama diimpikannya.
>
> url:
>
>
>
http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=3&id=162005&kat
> _id=105&kat_id1=149&kat_id2=251
>
<http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=3&id=162005&ka
> t_id=105&kat_id1=149&kat_id2=251>
>
> Berani Memulai Bisnis
>
> Seorang pemenang mampu menangkap peluang,
> berprestasi, berani bersaing, bertanggung jawab, dan tidak mudah
> menyerah. H Wahyu Saidi, (42 tahun), dengan bangga menyatakan bahwa
> mungkin dialah satu-satunya insinyur lulusan ITB yang kini berprofesi
> sebagai tukang bakmi. Pria kelahiran Palembang 24 Oktober 1962 lulusan
> Teknik Sipil ITB (1987) dan S2 Teknik Industri ITB (1991), memang
patut
> berbangga. Karena sebagai dikemukakannya sendiri, 'Bakmi Langgara' dan
> 'Bakmi Tebet' yang didirikan dan dikembangkannya sejak tiga tahun
silam,
> kini punya cabang di hampir seluruh tempat di Jabodetabek (Jakarta,
> Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi).
>
> Bahkan jangkauannya sudah meluas hingga ke
> Cilegon, Bandung, dan Yogyakarta. Lulusan Doktor Manajemen Pendidikan
di
> Universitas Negeri Jakarta (2000) itu mengungkapkan, Bakmi
Langgara-nya
> sudah mempunyai 38 cabang dan Bakmi Tebet 47 cabang.
>
> url=
>
>
> http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=187391&kat_id=152
> <http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=187391&kat_id=152>
>
>
>
> Bakmi Langgara
>
> Muhammad Firdaus (bukan nama sebenarnya), bisa
> dijadikan contoh. Profesi sehari-harinya adalah wartawan salah satu
> media cetak yang terbit di Jakarta. Tertarik dengan konsep bisnis
> waralaba Bakmi Langgara, ia pun kemudian membuka cabang di wilayah
> Sawangan, Depok.
>
> "Dari segi nilai investasi, Bakmi Langgara masih
> terjangkaulah. Saya pilih Sawangan karena di sini banyak permukiman
> (Bukit Rivaria) dan belum banyak saingan," jelasnya. Ia mengambil
> waralaba Bakmi Langgara sekitar pertengahan tahun 2004. Investasi awal
> yang harus ia keluarkan adalah Rp 60 juta.
>
> Itu untuk pembayaran franchise fee sebesar Rp 30
> juta dan sisanya Rp 30 juta untuk peralatan, perabotan hingga pegawai
> yang semuanya disuplai oleh franchisor. Selaku terwaralaba
(franchisee),
> dirinya masih harus mengeluarkan biaya tambahan untuk sewa tempat.
>
> Besarnya bervariasi tergantung mahal tidaknya
> lokasi usaha. Untuk Sawangan katanya, jelas lebih murah dibandingkan
> Margonda atau Warung Buncit misalnya. Untuk manajemen, selain ada
> kontrol rutin dari pihak Bakmi Langgara, operasional sehari-hari
> dijalankan oleh saudaranya.
>
> Setelah buka beberapa bulan, dirinya gembira
> karena bisnis waralabanya berkembang cukup baik. Setiap bulannya
paling
> tidak omzetnya mencapai Rp 45-50 juta. Dari jumlah itu, sekitar 20-30
> persen menjadi keuntungan bersih baginya.
>
> "Lumayanlah. Kalau omzet seperti ini terus,
> paling lambat setahun saya sudah mencapai BEP (Break Even Point atau
> titik impas)," katanya berbangga hati. Yang penting bagi seorang
pemula,
> katanya, adalah berani nekat namun tetap smart (pintar). Soal uang
untuk
> investasi awal menurutnya bisa dengan mengajak teman atau saudara
> sehingga beban yang ditanggung lebih ringan.
>
> url:
> http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/usaha/2005/0326/ukm1.html
> <http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/usaha/2005/0326/ukm1.html>
>
>
>
> ***
>
> Bisnis Berbendera Islam Laris Manis
>
> -- truncated---
> Nama lain yang juga mengusung bendera Islam
> dalam bisnis adalah Bakmi Langgara. Mendengar kata Langgara, asosiasi
> banyak orang segera saja tertuju kepada Langgar atau Mushalla yang
> merupakan tempat ibadah umat Islam (semacam masjid kecil dan tersebar
di
> kantong-kantong pemukiman penduduk). ''Memang, Bakmi Langgara adalah
> bakmi yang dibuat oleh orang Islam (Muslim), dan merupakan bakmi
halal.
> Inilah positioning kami. Meskipun dibuat oleh Muslim, Bakmi Langgara
> ditujukan untuk semua orang atau kalangan,'' kata pendiri dan pemilik
> Bakmi Langgara Group, Dr Ir H Wahyu Saidi MSc.
>
> Alumni ITB itu secara sadar memakai gelar
> ''haji'' di depan namanya untuk menguatkan identitas keislamannya
> tersebut. ''Biasanya asosiasi masyarakat terhadap pengusaha bakmi
adalah
> orang-orang Chinese. Memang berbagai merek bakmi terkenal di ibukota
> maupun kota-kota besar lainnya kebanyakan milik orang Chinese. Tapi
> Bakmi Langgara dimiliki oleh orang Muslim, dan sudah haji pula,
sehingga
> dapat memberikan ketenangan kepada para konsumen Muslim yang kerap
> ragu-ragu menyantap bakmi,'' tegas Wahyu.
>
> Menurut Wahyu, pemakaian identitas keislaman
> dalam bisnis yang digelutinya sejak tiga tahun terakhir itu sama
sekali
> tak mengganggu. Justru makin mendukung kesuksesannya. ''Bagi orang
> Muslim, pemakaian identitas keislaman itu membuat mereka makin yakin
> untuk makan di Bakmi Langgara. Di sisi lain, para pembeli non-Muslim,
> termasuk Chinese sama sekali tak terganggu oleh atribut keislaman itu.
> Sebab, dalam bisnis restoran, yang terpenting adalah makanan itu enak
> dan resik, harganya terjangkau, dan pelayanannya menyenangkan,''
> paparnya.
>
> Berkat keyakinannya itu, dalam waktu relatif
> singkat Bakmi Langgara Group berhasil melebarkan sayapnya hingga 86
> cabang -- sebagian besar dalam bentuk waralaba. Gerainya tersebar di
> wilayah Jakarta Depok Bogor Tangerang Bekasi (Jadebotabek), Bandung,
dan
> Yogyakarta, hingga KM Kelud. ''Saya yakin bisnis berbendera Islam
sangat
> berkah dan menjanjikan. Untung akhirat, untung pula di dunia. Adakah
> yang lebih indah dari hal ini?'' kata Wahyu.
>
> Wahyu Saidi mengaku pihanya tak sekadar memakai
> nama Langgara. Manajemen Bakmi Langara Group berusaha menerapkan
> prinsip-prinsip yang sesuai dengan syariat Islam. Misalnya: zakat,
> pengajian di kantor pusat maupun sejumlah cabang, umrah untuk
karyawan,
> kurban, bantuan untuk korban bencana alam. ''Tidak kalah pentingnya
> adalah kejujuran dan keterbukaan, sebab ini merupakan prinsip utama
> dalam bisnis berbendera Islam. Nabi mengatakan, pedagang yang jujur
itu
> bersama para Nabi, para shiddiqin, dan para syuhada nanti di Surga,''
> papar Wahyu.
>
> ----- truncated---
>