Pak Budi D

Benar sekali yg dikatakan P Maryanto, P Budi rajin memberi pelajaran itu
dng mengoreksi surat2 atau memo Dinas dng bhs Indonesia yg baik dan
benar, tapi terus terang saja saya sekarang sering lupa penerapannya,
disamping itu waktu PC  masih menggunakan wordstar, P Budi mengajari
program Amipro yg lebih canggih. 

Salam P Budi semoga sehat dan bahagia bersama kel.

Salam

harwanto

 

________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Maryanto Sandy
Sent: Tuesday, August 12, 2008 9:29 AM
To: [email protected]
Subject: RE: {Disarmed} [exbe2de] Buat teman-teman yang
rajin"mengkritisi"..

 

Pak Budi itu pelajaran bapak waktu di UKR dulu dan sampai sekarang sudah
saya terapkan...  he  he.. he.. 

Salam PaK Budi.. Semoga sehat selalau...

 

        -----Original Message-----
        From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Behalf Of [EMAIL PROTECTED]
        Sent: Tuesday, August 12, 2008 8:50 AM
        To: [email protected]
        Subject: Re: {Disarmed} [exbe2de] Buat teman-teman yang
rajin"mengkritisi"..

        Kita juga sering salah dalam menggunakan bahasa Indonesia
sehari-hari yang bisa ditiru oleh anak cucu kita. Beberapa contoh:
        - merubah --> seharusnya "mengubah" (banyak lirik lagu yang
menggunakan kata "merubah")
        - apotik --> seharusnya "apotek"
        - resiko --> seharusnya "risiko"
        - analisa --> seharusnya "analisis"
        - kwitansi --> seharusnya "kuitansi"
        - kwantitas dan kwalitas --> seharusnya "kuantitas dan kualitas"
        - jadual --> seharusnya "jadwal"
        - karir --> seharusnya "karier"
        - jam 12.00 --> seharusnya "pukul 12.00"
        - diatas --> seharusnya "di atas"
        - legalisir --> seharusnya "legalisasi"
        dan masih banyak lagi.
        Saat saya masih aktif di BBD Urusan Pemeriksaan Intern (UPI),
salah satu tugas saya adalah memeriksa rancangan surat edaran yang
menyangkut sistem dan prosedur dari semua urusan dan menyusun buku
Pedoman Pemeriksaan Intern. Saya sering rapat membahas rancangan surat
edaran dan bertemu dengan Bapak Yunus Malik (saat itu beliau di Urusan
Dalam Negeri). Beliaulah yang sangat rajin dan telaten memeriksa dan
mengoreksi kesalahan kata dan kalimat dalam surat edaran, titik komanya
pun diperhatikan oleh beliau. Kata-kata asing juga dicari padanannya
secara maksimal. Saya sungguh kagum atas kegigihan beliau dalam
menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
        Setelah itu, saya tergerak untuk membaca buku tentang "kesalahan
berbahasa". Ternyata memang cukup banyak kesalahan-kesalahan yang telah
saya lakukan selama ini dan tidak saya sadari.
        Menurut pengamatan saya, kita ini takut/malu melakukan kesalahan
menulis/mengucapkan bahasa asing (terutama Inggris), tetapi kita tidak
takut/malu melakukan kesalahan menulis/mengucapkan bahasa ibu kita
sendiri. Aneh ya? 
        Siapa yang bisa meluruskan agar bahasa Indonesia bisa digunakan
dengan baik dan benar? Tentunya kita semuanya.
        Salam,
        boedi dayono
        
        On Mon, 2008-08-11 at 13:16 +0700, Indiah Marsaban wrote: 

                Berbahasa Indonesia yang baik..
                
                Tempo Edisi. 25/XXXVII/11 - 17 Agustus 2008
                Bahasa
                
                Kritisi dan Fundamental
                
                Sori Siregar
                
                * Penulis cerita pendek
                
                KEKELIRUAN atau salah kaprah sangat banyak ditemukan
dalam penggunaan
                bahasa Indonesia. Akibatnya, Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) saya
                sampai lusuh karena begitu seringnya saya membukanya,
agar dapat berbahasa
                Indonesia dengan benar. Ini saya lakukan agar orang yang
salah kaprah
                dalam berbahasa Indonesia tidak bertambah jumlahnya.
                
                Misalnya, ada orang yang mengatakan "mengkritisi",
padahal yang
                dimaksudkannya adalah "mengeritik". Kita beralasan untuk
terkejut dan
                kecewa, karena kekeliruan seperti itu juga sering
terjadi di kalangan kaum
                terpelajar kita baik ketika mereka menulis maupun pada
saat berbicara.
                Seorang cendekiawan, dalam sebuah acara talk show di
sebuah stasiun
                televisi, dengan yakin mengucapkan kata "mengkritisi".
Mungkin, banyak
                orang yang mulai lupa kepada bahasa Indonesia karena
terlalu lama belajar
                di luar negeri. Atau memang mereka tidak begitu peduli
dengan bahasa
                Indonesia.
                
                Akibatnya mereka tidak tahu lagi apa bedanya "kritik",
"kritikus", dan
                "kritisi". Karena itu, dengan yakin mereka mengatakan
"mengkritisi",
                sedangkan yang mereka maksudkan adalah "mengeritik".
Mengapa ini dapat
                terjadi? Tampaknya, mereka salah rujukan. Ketika mereka
ingin menggunakan
                kata "kritik", mereka merujuk pada kamus bahasa Inggris,
bukan pada kamus
                bahasa Indonesia.
                
                Dasar pemikiran orang yang berbahasa salah kaprah itu
mungkin seperti ini.
                Dalam bahasa Inggris, "kritik" disebut "criticism".
Jadi, jika kata benda
                ini dijadikan kata kerja, pemakai hanya perlu memberikan
awalan "me",
                sehingga lahirlah kata kerja gado-gado "meng-criticism".
Mungkin pula kata
                yang dirujuk adalah "criticize". Setelah kata ini diberi
awalan "me",
                lahirlah kata baru, yaitu "meng-criticize". Kemudian
kata inilah yang
                dinasionalisasi menjadi "mengkritisi".
                
                Sejauh yang saya ketahui, makna "kritik" belum berubah,
yaitu ke-caman
                atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian atau
pertimbangan baik-buruk
                terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya.
Arti "mengeritik"
                juga masih tetap mengemukakan kritik atau mengecam.
Begitu juga dengan
                kata "kritikus" dan "kritisi". Kritikus adalah orang
yang ahli dalam
                memberikan pertimbangan (pembahasan) tentang
baik-buruknya sesuatu,
                sedangkan yang dimaksudkan dengan kritisi adalah kaum
kritikus. Itu
                menurut KBBI.
                
                Karena terlalu sering merujuk kepada kamus bahasa
Inggris, tidak jarang
                pula kita memberi awalan "me" atau "di" di depan
kata-kata bahasa Inggris
                yang lain tanpa mengubah kata yang diberi awalan itu.
Artinya, kita tetap
                mempertahankan kata gado-gado. Karena itu, tidaklah
mengherankan jika kita
                menemukan kata-kata seperti men-training atau
di-training, men-sweeping
                atau di-sweeping, di-briefing atau mem-briefing,
di-backing atau
                mem-backing, dan men-support atau di-support. Kekeliruan
mungkin akan
                terus terjadi jika kita selalu merujuk pada kamus bahasa
Inggris, padahal
                yang ingin kita ketahui adalah bahasa Indonesia.
                
                Kalau Anda memperhatikan dengan cermat, dalam
tulisan-tulisan tentang
                ekonomi di surat kabar atau majalah mungkin Anda pernah
menemukan kata
                "fundamental" dalam kalimat seperti ini, "fundamental
ekonomi Indonesia
                kuat, karena itu tak perlu khawatir".
                
                Sebenarnya, agak aneh jika warga Indonesia tidak
mengetahui apa bedanya
                "fundamen" dan "fundamental". Fundamen adalah kata benda
atau nomina,
                sedangkan fundamental adalah kata sifat atau adjektiva.
Berdasarkan sifat
                kata yang digunakan kalimat yang disebutkan tadi,
seharusnya ditulis
                "fundamen ekonomi Indonesia kuat, karena itu tak perlu
khawatir".
                
                Menurut KBBI, adjektiva "fundamental" adalah bersifat
dasar (pokok), atau
                mendasar. Kamus ini memberi contoh dengan kalimat: "Iman
merupakan suatu
                hal yang sangat fundamental di dalam kehidupan manusia".
Dalam bahasa
                Indonesia, kata "fundamental" tidak dapat dianggap
sebagai kata benda.
                
                Lain halnya dalam bahasa Inggris. Selain sebagai kata
sifat, "fundamental"
                dianggap sebagai kata benda. Sebagai kata sifat,
"fundamental" bermakna of
                or forming a foundation, of great importance, serving as
a starting point.
                Dalam posisinya sebagai kata benda, "fundamental"
berarti essential part.
                Karena itu, dalam bahasa Inggris dapat ditulis "the
fundamentals of
                mathematics". Jika kata-kata ini diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia
                secara harfiah, artinya fundamental matematika.
                
                Analog dengan ini, semestinya ada kata-kata "the
fundamental of
                economics", yang artinya kira-kira sama dengan
fundamental ekonomi. Konon,
                begitulah dasar pemikiran sejumlah ekonom di negeri ini
sehingga mereka
                tetap menggunakan kata-kata "fundamental ekonomi"
walaupun yang mereka
                maksudkan fundamen atau dasar-dasar ekonomi.
                
                Kata-kata "the fundamental of mathematics" ini saya
kutip dari Oxford
                Advanced Learner's Dictionary of Current English susunan
A.S. Hornby, A.P.
                Cowie, dan A.C. Gimson yang diterbitkan Oxford
University Press, Oxford,
                Inggris.
                
                Dalam debat pemilihan kepala daerah Jawa Timur yang
disiarkan sebuah
                stasiun televisi pada 19 Juli 2008, calon gubernur
Chofifah Indar
                Parawansa mengatakan akan me-manage pemerintahannya
dengan baik jika ia
                terpilih menjadi gubernur. Ibu Chofifah tidak dapat
disalahkan karena
                bukan ia yang merintis penggunaan kata "me-manage" itu.
Ia hanya mengulang
                apa yang pernah dikatakan pendahulunya.
                
                Kekeliruan seperti ini seharusnya dikurangi. Karena itu,
saya bertekad
                tidak akan pernah menulis seperti ini: "Minggu depan
setelah me-write
                sebuah artikel, saya akan men-send-nya ke majalah
Tempo".
                
                Wahyu W. Basjir
                
                Transparency Specialist
                
                Australia-Indonesia Partnership for Reconstruction and
Development (AIPRD)
                
                Local Governance and Infrastructure for Communities in
Aceh (Logica)
                Project
                
                Jl. Kebun Raja No. 2
                
                Ie Masen, Ulee Kareng
                
                Banda Aceh
                
                Phone: 081377072131
                
                Fraud hotline: 08126991695
                
                [Non-text portions of this message have been removed]
                
                
                
                

 

Kirim email ke