Maryanto, setelah saya dapat ilmu dari Pak Yunus Malik, saya teruskan ilmu itu ke teman-teman semua. Dan kita juga beli Kamus Besar Bahasa Indonesia kan untuk bagian kita. Sukses selalu dan salam buat keluarga ya. boedi dayono
On Tue, 2008-08-12 at 09:28 +0700, Maryanto Sandy wrote: > Pak Budi itu pelajaran bapak waktu di UKR dulu dan sampai sekarang > sudah saya terapkan... he he.. he.. > Salam PaK Budi.. Semoga sehat selalau... > > -----Original Message----- > From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Behalf Of [EMAIL PROTECTED] > Sent: Tuesday, August 12, 2008 8:50 AM > To: [email protected] > Subject: Re: {Disarmed} [exbe2de] Buat teman-teman yang > rajin"mengkritisi".. > > > Kita juga sering salah dalam menggunakan bahasa Indonesia > sehari-hari yang bisa ditiru oleh anak cucu kita. Beberapa > contoh: > - merubah --> seharusnya "mengubah" (banyak lirik lagu yang > menggunakan kata "merubah") > - apotik --> seharusnya "apotek" > - resiko --> seharusnya "risiko" > - analisa --> seharusnya "analisis" > - kwitansi --> seharusnya "kuitansi" > - kwantitas dan kwalitas --> seharusnya "kuantitas dan > kualitas" > - jadual --> seharusnya "jadwal" > - karir --> seharusnya "karier" > - jam 12.00 --> seharusnya "pukul 12.00" > - diatas --> seharusnya "di atas" > - legalisir --> seharusnya "legalisasi" > dan masih banyak lagi. > Saat saya masih aktif di BBD Urusan Pemeriksaan Intern (UPI), > salah satu tugas saya adalah memeriksa rancangan surat edaran > yang menyangkut sistem dan prosedur dari semua urusan dan > menyusun buku Pedoman Pemeriksaan Intern. Saya sering rapat > membahas rancangan surat edaran dan bertemu dengan Bapak Yunus > Malik (saat itu beliau di Urusan Dalam Negeri). Beliaulah yang > sangat rajin dan telaten memeriksa dan mengoreksi kesalahan > kata dan kalimat dalam surat edaran, titik komanya pun > diperhatikan oleh beliau. Kata-kata asing juga dicari > padanannya secara maksimal. Saya sungguh kagum atas kegigihan > beliau dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. > Setelah itu, saya tergerak untuk membaca buku tentang > "kesalahan berbahasa". Ternyata memang cukup banyak > kesalahan-kesalahan yang telah saya lakukan selama ini dan > tidak saya sadari. > Menurut pengamatan saya, kita ini takut/malu melakukan > kesalahan menulis/mengucapkan bahasa asing (terutama Inggris), > tetapi kita tidak takut/malu melakukan kesalahan > menulis/mengucapkan bahasa ibu kita sendiri. Aneh ya? > Siapa yang bisa meluruskan agar bahasa Indonesia bisa > digunakan dengan baik dan benar? Tentunya kita semuanya. > Salam, > boedi dayono > > On Mon, 2008-08-11 at 13:16 +0700, Indiah Marsaban wrote: > > > > > Berbahasa Indonesia yang baik.. > > > > Tempo Edisi. 25/XXXVII/11 - 17 Agustus 2008 > > Bahasa > > > > Kritisi dan Fundamental > > > > Sori Siregar > > > > * Penulis cerita pendek > > > > KEKELIRUAN atau salah kaprah sangat banyak ditemukan dalam > > penggunaan > > bahasa Indonesia. Akibatnya, Kamus Besar Bahasa Indonesia > > (KBBI) saya > > sampai lusuh karena begitu seringnya saya membukanya, agar > > dapat berbahasa > > Indonesia dengan benar. Ini saya lakukan agar orang yang > > salah kaprah > > dalam berbahasa Indonesia tidak bertambah jumlahnya. > > > > Misalnya, ada orang yang mengatakan "mengkritisi", padahal > > yang > > dimaksudkannya adalah "mengeritik". Kita beralasan untuk > > terkejut dan > > kecewa, karena kekeliruan seperti itu juga sering terjadi di > > kalangan kaum > > terpelajar kita baik ketika mereka menulis maupun pada saat > > berbicara. > > Seorang cendekiawan, dalam sebuah acara talk show di sebuah > > stasiun > > televisi, dengan yakin mengucapkan kata "mengkritisi". > > Mungkin, banyak > > orang yang mulai lupa kepada bahasa Indonesia karena terlalu > > lama belajar > > di luar negeri. Atau memang mereka tidak begitu peduli > > dengan bahasa > > Indonesia. > > > > Akibatnya mereka tidak tahu lagi apa bedanya "kritik", > > "kritikus", dan > > "kritisi". Karena itu, dengan yakin mereka mengatakan > > "mengkritisi", > > sedangkan yang mereka maksudkan adalah "mengeritik". Mengapa > > ini dapat > > terjadi? Tampaknya, mereka salah rujukan. Ketika mereka > > ingin menggunakan > > kata "kritik", mereka merujuk pada kamus bahasa Inggris, > > bukan pada kamus > > bahasa Indonesia. > > > > Dasar pemikiran orang yang berbahasa salah kaprah itu > > mungkin seperti ini. > > Dalam bahasa Inggris, "kritik" disebut "criticism". Jadi, > > jika kata benda > > ini dijadikan kata kerja, pemakai hanya perlu memberikan > > awalan "me", > > sehingga lahirlah kata kerja gado-gado "meng-criticism". > > Mungkin pula kata > > yang dirujuk adalah "criticize". Setelah kata ini diberi > > awalan "me", > > lahirlah kata baru, yaitu "meng-criticize". Kemudian kata > > inilah yang > > dinasionalisasi menjadi "mengkritisi". > > > > Sejauh yang saya ketahui, makna "kritik" belum berubah, > > yaitu ke-caman > > atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian atau > > pertimbangan baik-buruk > > terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Arti > > "mengeritik" > > juga masih tetap mengemukakan kritik atau mengecam. Begitu > > juga dengan > > kata "kritikus" dan "kritisi". Kritikus adalah orang yang > > ahli dalam > > memberikan pertimbangan (pembahasan) tentang baik-buruknya > > sesuatu, > > sedangkan yang dimaksudkan dengan kritisi adalah kaum > > kritikus. Itu > > menurut KBBI. > > > > Karena terlalu sering merujuk kepada kamus bahasa Inggris, > > tidak jarang > > pula kita memberi awalan "me" atau "di" di depan kata-kata > > bahasa Inggris > > yang lain tanpa mengubah kata yang diberi awalan itu. > > Artinya, kita tetap > > mempertahankan kata gado-gado. Karena itu, tidaklah > > mengherankan jika kita > > menemukan kata-kata seperti men-training atau di-training, > > men-sweeping > > atau di-sweeping, di-briefing atau mem-briefing, di-backing > > atau > > mem-backing, dan men-support atau di-support. Kekeliruan > > mungkin akan > > terus terjadi jika kita selalu merujuk pada kamus bahasa > > Inggris, padahal > > yang ingin kita ketahui adalah bahasa Indonesia. > > > > Kalau Anda memperhatikan dengan cermat, dalam > > tulisan-tulisan tentang > > ekonomi di surat kabar atau majalah mungkin Anda pernah > > menemukan kata > > "fundamental" dalam kalimat seperti ini, "fundamental > > ekonomi Indonesia > > kuat, karena itu tak perlu khawatir". > > > > Sebenarnya, agak aneh jika warga Indonesia tidak mengetahui > > apa bedanya > > "fundamen" dan "fundamental". Fundamen adalah kata benda > > atau nomina, > > sedangkan fundamental adalah kata sifat atau adjektiva. > > Berdasarkan sifat > > kata yang digunakan kalimat yang disebutkan tadi, seharusnya > > ditulis > > "fundamen ekonomi Indonesia kuat, karena itu tak perlu > > khawatir". > > > > Menurut KBBI, adjektiva "fundamental" adalah bersifat dasar > > (pokok), atau > > mendasar. Kamus ini memberi contoh dengan kalimat: "Iman > > merupakan suatu > > hal yang sangat fundamental di dalam kehidupan manusia". > > Dalam bahasa > > Indonesia, kata "fundamental" tidak dapat dianggap sebagai > > kata benda. > > > > Lain halnya dalam bahasa Inggris. Selain sebagai kata sifat, > > "fundamental" > > dianggap sebagai kata benda. Sebagai kata sifat, > > "fundamental" bermakna of > > or forming a foundation, of great importance, serving as a > > starting point. > > Dalam posisinya sebagai kata benda, "fundamental" berarti > > essential part. > > Karena itu, dalam bahasa Inggris dapat ditulis "the > > fundamentals of > > mathematics". Jika kata-kata ini diterjemahkan ke dalam > > bahasa Indonesia > > secara harfiah, artinya fundamental matematika. > > > > Analog dengan ini, semestinya ada kata-kata "the fundamental > > of > > economics", yang artinya kira-kira sama dengan fundamental > > ekonomi. Konon, > > begitulah dasar pemikiran sejumlah ekonom di negeri ini > > sehingga mereka > > tetap menggunakan kata-kata "fundamental ekonomi" walaupun > > yang mereka > > maksudkan fundamen atau dasar-dasar ekonomi. > > > > Kata-kata "the fundamental of mathematics" ini saya kutip > > dari Oxford > > Advanced Learner's Dictionary of Current English susunan > > A.S. Hornby, A.P. > > Cowie, dan A.C. Gimson yang diterbitkan Oxford University > > Press, Oxford, > > Inggris. > > > > Dalam debat pemilihan kepala daerah Jawa Timur yang > > disiarkan sebuah > > stasiun televisi pada 19 Juli 2008, calon gubernur Chofifah > > Indar > > Parawansa mengatakan akan me-manage pemerintahannya dengan > > baik jika ia > > terpilih menjadi gubernur. Ibu Chofifah tidak dapat > > disalahkan karena > > bukan ia yang merintis penggunaan kata "me-manage" itu. Ia > > hanya mengulang > > apa yang pernah dikatakan pendahulunya. > > > > Kekeliruan seperti ini seharusnya dikurangi. Karena itu, > > saya bertekad > > tidak akan pernah menulis seperti ini: "Minggu depan setelah > > me-write > > sebuah artikel, saya akan men-send-nya ke majalah Tempo". > > > > Wahyu W. Basjir > > > > Transparency Specialist > > > > Australia-Indonesia Partnership for Reconstruction and > > Development (AIPRD) > > > > Local Governance and Infrastructure for Communities in Aceh > > (Logica) > > Project > > > > Jl. Kebun Raja No. 2 > > > > Ie Masen, Ulee Kareng > > > > Banda Aceh > > > > Phone: 081377072131 > > > > Fraud hotline: 08126991695 > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > > > >
