Waduh sambung rasa dengan sahabat lama nih. Mas Harwanto apa kabar?
Sehat-sehat saja kan.
Masih ingat ya dengan Lotus-Amipro, word processor under Windows yang
paling canggih. Saat itu MS Word belum lahir ya. Setelah Lotus-Amipro
saya migrasi ke Lotus-WordPro yang lebih canggih lagi. Kemampuannya
dalam membuat spreadsheet dalam wordprocessor dan mengelola style/format
amat sangat terpoedjiken, dan menurut pendapat saya MS Word yang paling
terkinipun masih kalah canggih. Amat disayangkan Lotus kalah pasar
dengan Microsoft. Sekarang saya pakai Open Office yang gratisan dan
cukup bisa memenuhi kebutuhan saya (dan yang lebih penting virus enggan
mampir). Ya, juga supaya Bill Gates tidak terlampau kaya. He... he....
Kalau kita mencermati penggunaan bahasa Indonesia memang jadi geli
sendiri. Coba saja penggunaan kata "merubah/dirubah" yang seharusnya
"mengubah/diubah". Rubah itu kan binatang sejenis serigala. Jadi kalau
ada  kalimat: "Saya telah merubah wajahnya" --> artinya apa hayoo???
Saya telah menjadikan rubah wajahnya???
Salam buat keluarga ya..
boedi dayono

On Tue, 2008-08-12 at 13:50 +0700, Harwanto wrote:
> Pak Budi D
> 
> Benar sekali yg dikatakan P Maryanto, P Budi rajin memberi pelajaran
> itu dng mengoreksi surat2 atau memo Dinas dng bhs Indonesia yg baik
> dan benar, tapi terus terang saja saya sekarang sering lupa
> penerapannya, disamping itu waktu PC  masih menggunakan wordstar, P
> Budi mengajari program Amipro yg lebih canggih. 
> 
> Salam P Budi semoga sehat dan bahagia bersama kel.
> 
> Salam
> 
> harwanto
> 
>  
> 
> 
>                                    
> ______________________________________________________________________
> 
> From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
> Of Maryanto Sandy
> Sent: Tuesday, August 12, 2008 9:29 AM
> To: [email protected]
> Subject: RE: {Disarmed} [exbe2de] Buat teman-teman yang
> rajin"mengkritisi"..
> 
> 
> 
>  
> 
> 
> Pak Budi itu pelajaran bapak waktu di UKR dulu dan sampai sekarang
> sudah saya terapkan...  he  he.. he.. 
> 
> 
> Salam PaK Budi.. Semoga sehat selalau...
> 
> 
>  
> 
> 
>         
>         -----Original Message-----
>         From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
>         Behalf Of [EMAIL PROTECTED]
>         Sent: Tuesday, August 12, 2008 8:50 AM
>         To: [email protected]
>         Subject: Re: {Disarmed} [exbe2de] Buat teman-teman yang
>         rajin"mengkritisi"..
>         
>         
>         Kita juga sering salah dalam menggunakan bahasa Indonesia
>         sehari-hari yang bisa ditiru oleh anak cucu kita. Beberapa
>         contoh:
>         - merubah --> seharusnya "mengubah" (banyak lirik lagu yang
>         menggunakan kata "merubah")
>         - apotik --> seharusnya "apotek"
>         - resiko --> seharusnya "risiko"
>         - analisa --> seharusnya "analisis"
>         - kwitansi --> seharusnya "kuitansi"
>         - kwantitas dan kwalitas --> seharusnya "kuantitas dan
>         kualitas"
>         - jadual --> seharusnya "jadwal"
>         - karir --> seharusnya "karier"
>         - jam 12.00 --> seharusnya "pukul 12.00"
>         - diatas --> seharusnya "di atas"
>         - legalisir --> seharusnya "legalisasi"
>         dan masih banyak lagi.
>         Saat saya masih aktif di BBD Urusan Pemeriksaan Intern (UPI),
>         salah satu tugas saya adalah memeriksa rancangan surat edaran
>         yang menyangkut sistem dan prosedur dari semua urusan dan
>         menyusun buku Pedoman Pemeriksaan Intern. Saya sering rapat
>         membahas rancangan surat edaran dan bertemu dengan Bapak Yunus
>         Malik (saat itu beliau di Urusan Dalam Negeri). Beliaulah yang
>         sangat rajin dan telaten memeriksa dan mengoreksi kesalahan
>         kata dan kalimat dalam surat edaran, titik komanya pun
>         diperhatikan oleh beliau. Kata-kata asing juga dicari
>         padanannya secara maksimal. Saya sungguh kagum atas kegigihan
>         beliau dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
>         Setelah itu, saya tergerak untuk membaca buku tentang
>         "kesalahan berbahasa". Ternyata memang cukup banyak
>         kesalahan-kesalahan yang telah saya lakukan selama ini dan
>         tidak saya sadari.
>         Menurut pengamatan saya, kita ini takut/malu melakukan
>         kesalahan menulis/mengucapkan bahasa asing (terutama Inggris),
>         tetapi kita tidak takut/malu melakukan kesalahan
>         menulis/mengucapkan bahasa ibu kita sendiri. Aneh ya? 
>         Siapa yang bisa meluruskan agar bahasa Indonesia bisa
>         digunakan dengan baik dan benar? Tentunya kita semuanya.
>         Salam,
>         boedi dayono
>         
>         On Mon, 2008-08-11 at 13:16 +0700, Indiah Marsaban wrote: 
>         
>         
>         > Berbahasa Indonesia yang baik..
>         > 
>         > Tempo Edisi. 25/XXXVII/11 - 17 Agustus 2008
>         > Bahasa
>         > 
>         > Kritisi dan Fundamental
>         > 
>         > Sori Siregar
>         > 
>         > * Penulis cerita pendek
>         > 
>         > KEKELIRUAN atau salah kaprah sangat banyak ditemukan dalam
>         > penggunaan
>         > bahasa Indonesia. Akibatnya, Kamus Besar Bahasa Indonesia
>         > (KBBI) saya
>         > sampai lusuh karena begitu seringnya saya membukanya, agar
>         > dapat berbahasa
>         > Indonesia dengan benar. Ini saya lakukan agar orang yang
>         > salah kaprah
>         > dalam berbahasa Indonesia tidak bertambah jumlahnya.
>         > 
>         > Misalnya, ada orang yang mengatakan "mengkritisi", padahal
>         > yang
>         > dimaksudkannya adalah "mengeritik". Kita beralasan untuk
>         > terkejut dan
>         > kecewa, karena kekeliruan seperti itu juga sering terjadi di
>         > kalangan kaum
>         > terpelajar kita baik ketika mereka menulis maupun pada saat
>         > berbicara.
>         > Seorang cendekiawan, dalam sebuah acara talk show di sebuah
>         > stasiun
>         > televisi, dengan yakin mengucapkan kata "mengkritisi".
>         > Mungkin, banyak
>         > orang yang mulai lupa kepada bahasa Indonesia karena terlalu
>         > lama belajar
>         > di luar negeri. Atau memang mereka tidak begitu peduli
>         > dengan bahasa
>         > Indonesia.
>         > 
>         > Akibatnya mereka tidak tahu lagi apa bedanya "kritik",
>         > "kritikus", dan
>         > "kritisi". Karena itu, dengan yakin mereka mengatakan
>         > "mengkritisi",
>         > sedangkan yang mereka maksudkan adalah "mengeritik". Mengapa
>         > ini dapat
>         > terjadi? Tampaknya, mereka salah rujukan. Ketika mereka
>         > ingin menggunakan
>         > kata "kritik", mereka merujuk pada kamus bahasa Inggris,
>         > bukan pada kamus
>         > bahasa Indonesia.
>         > 
>         > Dasar pemikiran orang yang berbahasa salah kaprah itu
>         > mungkin seperti ini.
>         > Dalam bahasa Inggris, "kritik" disebut "criticism". Jadi,
>         > jika kata benda
>         > ini dijadikan kata kerja, pemakai hanya perlu memberikan
>         > awalan "me",
>         > sehingga lahirlah kata kerja gado-gado "meng-criticism".
>         > Mungkin pula kata
>         > yang dirujuk adalah "criticize". Setelah kata ini diberi
>         > awalan "me",
>         > lahirlah kata baru, yaitu "meng-criticize". Kemudian kata
>         > inilah yang
>         > dinasionalisasi menjadi "mengkritisi".
>         > 
>         > Sejauh yang saya ketahui, makna "kritik" belum berubah,
>         > yaitu ke-caman
>         > atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian atau
>         > pertimbangan baik-buruk
>         > terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Arti
>         > "mengeritik"
>         > juga masih tetap mengemukakan kritik atau mengecam. Begitu
>         > juga dengan
>         > kata "kritikus" dan "kritisi". Kritikus adalah orang yang
>         > ahli dalam
>         > memberikan pertimbangan (pembahasan) tentang baik-buruknya
>         > sesuatu,
>         > sedangkan yang dimaksudkan dengan kritisi adalah kaum
>         > kritikus. Itu
>         > menurut KBBI.
>         > 
>         > Karena terlalu sering merujuk kepada kamus bahasa Inggris,
>         > tidak jarang
>         > pula kita memberi awalan "me" atau "di" di depan kata-kata
>         > bahasa Inggris
>         > yang lain tanpa mengubah kata yang diberi awalan itu.
>         > Artinya, kita tetap
>         > mempertahankan kata gado-gado. Karena itu, tidaklah
>         > mengherankan jika kita
>         > menemukan kata-kata seperti men-training atau di-training,
>         > men-sweeping
>         > atau di-sweeping, di-briefing atau mem-briefing, di-backing
>         > atau
>         > mem-backing, dan men-support atau di-support. Kekeliruan
>         > mungkin akan
>         > terus terjadi jika kita selalu merujuk pada kamus bahasa
>         > Inggris, padahal
>         > yang ingin kita ketahui adalah bahasa Indonesia.
>         > 
>         > Kalau Anda memperhatikan dengan cermat, dalam
>         > tulisan-tulisan tentang
>         > ekonomi di surat kabar atau majalah mungkin Anda pernah
>         > menemukan kata
>         > "fundamental" dalam kalimat seperti ini, "fundamental
>         > ekonomi Indonesia
>         > kuat, karena itu tak perlu khawatir".
>         > 
>         > Sebenarnya, agak aneh jika warga Indonesia tidak mengetahui
>         > apa bedanya
>         > "fundamen" dan "fundamental". Fundamen adalah kata benda
>         > atau nomina,
>         > sedangkan fundamental adalah kata sifat atau adjektiva.
>         > Berdasarkan sifat
>         > kata yang digunakan kalimat yang disebutkan tadi, seharusnya
>         > ditulis
>         > "fundamen ekonomi Indonesia kuat, karena itu tak perlu
>         > khawatir".
>         > 
>         > Menurut KBBI, adjektiva "fundamental" adalah bersifat dasar
>         > (pokok), atau
>         > mendasar. Kamus ini memberi contoh dengan kalimat: "Iman
>         > merupakan suatu
>         > hal yang sangat fundamental di dalam kehidupan manusia".
>         > Dalam bahasa
>         > Indonesia, kata "fundamental" tidak dapat dianggap sebagai
>         > kata benda.
>         > 
>         > Lain halnya dalam bahasa Inggris. Selain sebagai kata sifat,
>         > "fundamental"
>         > dianggap sebagai kata benda. Sebagai kata sifat,
>         > "fundamental" bermakna of
>         > or forming a foundation, of great importance, serving as a
>         > starting point.
>         > Dalam posisinya sebagai kata benda, "fundamental" berarti
>         > essential part.
>         > Karena itu, dalam bahasa Inggris dapat ditulis "the
>         > fundamentals of
>         > mathematics". Jika kata-kata ini diterjemahkan ke dalam
>         > bahasa Indonesia
>         > secara harfiah, artinya fundamental matematika.
>         > 
>         > Analog dengan ini, semestinya ada kata-kata "the fundamental
>         > of
>         > economics", yang artinya kira-kira sama dengan fundamental
>         > ekonomi. Konon,
>         > begitulah dasar pemikiran sejumlah ekonom di negeri ini
>         > sehingga mereka
>         > tetap menggunakan kata-kata "fundamental ekonomi" walaupun
>         > yang mereka
>         > maksudkan fundamen atau dasar-dasar ekonomi.
>         > 
>         > Kata-kata "the fundamental of mathematics" ini saya kutip
>         > dari Oxford
>         > Advanced Learner's Dictionary of Current English susunan
>         > A.S. Hornby, A.P.
>         > Cowie, dan A.C. Gimson yang diterbitkan Oxford University
>         > Press, Oxford,
>         > Inggris.
>         > 
>         > Dalam debat pemilihan kepala daerah Jawa Timur yang
>         > disiarkan sebuah
>         > stasiun televisi pada 19 Juli 2008, calon gubernur Chofifah
>         > Indar
>         > Parawansa mengatakan akan me-manage pemerintahannya dengan
>         > baik jika ia
>         > terpilih menjadi gubernur. Ibu Chofifah tidak dapat
>         > disalahkan karena
>         > bukan ia yang merintis penggunaan kata "me-manage" itu. Ia
>         > hanya mengulang
>         > apa yang pernah dikatakan pendahulunya.
>         > 
>         > Kekeliruan seperti ini seharusnya dikurangi. Karena itu,
>         > saya bertekad
>         > tidak akan pernah menulis seperti ini: "Minggu depan setelah
>         > me-write
>         > sebuah artikel, saya akan men-send-nya ke majalah Tempo".
>         > 
>         > Wahyu W. Basjir
>         > 
>         > Transparency Specialist
>         > 
>         > Australia-Indonesia Partnership for Reconstruction and
>         > Development (AIPRD)
>         > 
>         > Local Governance and Infrastructure for Communities in Aceh
>         > (Logica)
>         > Project
>         > 
>         > Jl. Kebun Raja No. 2
>         > 
>         > Ie Masen, Ulee Kareng
>         > 
>         > Banda Aceh
>         > 
>         > Phone: 081377072131
>         > 
>         > Fraud hotline: 08126991695
>         > 
>         > [Non-text portions of this message have been removed]
>         > 
>         > 
>         > 
>         > 
>         > 
> 
>  

Salam,
Boedi Dayono
my.ERP
Mulia Industry
Enterprise Resource Planning


Kirim email ke