Untuk teman teman dan para senior mohon undangan ini dikoreksi
sesuai dengan bahasa Indonesia yang benar.
PEMBERITAHUAN/UNDANGAN
Dengan ini diberitahukan bahwa para mantan pejabat Bank Bumi Daya
baik yang bergabung ke Bank Mandiri maupun yang PPS atau yang memang
telah benar benar pensiun , akan main golf bersama pada :
Hari : Minggu tanggal 31 Agustus 2008
Tempat : Padang Golf Cilangkap
Tee off : Jam 06.30 WIB
Biaya : Rp.250.000,- termasuk makan siang, snack dan
door prize serta hadiah kejuaraan tetapi caddy tip bayar masing
masing)
Demikian harap maklum .
________________________________
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, August 12, 2008 4:27 PM
To: [email protected]
Subject: Re: {Disarmed} FW: {Disarmed} [exbe2de] Buat teman-teman
yangrajin"mengkritisi"..
Waduh sambung rasa dengan sahabat lama nih. Mas Harwanto apa kabar?
Sehat-sehat saja kan.
Masih ingat ya dengan Lotus-Amipro, word processor under Windows yang
paling canggih. Saat itu MS Word belum lahir ya. Setelah Lotus-Amipro
saya migrasi ke Lotus-WordPro yang lebih canggih lagi. Kemampuannya
dalam membuat spreadsheet dalam wordprocessor dan mengelola style/format
amat sangat terpoedjiken, dan menurut pendapat saya MS Word yang paling
terkinipun masih kalah canggih. Amat disayangkan Lotus kalah pasar
dengan Microsoft. Sekarang saya pakai Open Office yang gratisan dan
cukup bisa memenuhi kebutuhan saya (dan yang lebih penting virus enggan
mampir). Ya, juga supaya Bill Gates tidak terlampau kaya. He... he....
Kalau kita mencermati penggunaan bahasa Indonesia memang jadi geli
sendiri. Coba saja penggunaan kata "merubah/dirubah" yang seharusnya
"mengubah/diubah". Rubah itu kan binatang sejenis serigala. Jadi kalau
ada kalimat: "Saya telah merubah wajahnya" --> artinya apa hayoo???
Saya telah menjadikan rubah wajahnya???
Salam buat keluarga ya..
boedi dayono
On Tue, 2008-08-12 at 13:50 +0700, Harwanto wrote:
Pak Budi D
Benar sekali yg dikatakan P Maryanto, P Budi rajin memberi
pelajaran itu dng mengoreksi surat2 atau memo Dinas dng bhs Indonesia yg
baik dan benar, tapi terus terang saja saya sekarang sering lupa
penerapannya, disamping itu waktu PC masih menggunakan wordstar, P Budi
mengajari program Amipro yg lebih canggih.
Salam P Budi semoga sehat dan bahagia bersama kel.
Salam
harwanto
________________________________
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of Maryanto Sandy
Sent: Tuesday, August 12, 2008 9:29 AM
To: [email protected]
Subject: RE: {Disarmed} [exbe2de] Buat teman-teman yang
rajin"mengkritisi"..
Pak Budi itu pelajaran bapak waktu di UKR dulu dan sampai
sekarang sudah saya terapkan... he he.. he..
Salam PaK Budi.. Semoga sehat selalau...
-----Original Message-----
From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, August 12, 2008 8:50 AM
To: [email protected]
Subject: Re: {Disarmed} [exbe2de] Buat teman-teman yang
rajin"mengkritisi"..
Kita juga sering salah dalam menggunakan bahasa
Indonesia sehari-hari yang bisa ditiru oleh anak cucu kita. Beberapa
contoh:
- merubah --> seharusnya "mengubah" (banyak lirik lagu
yang menggunakan kata "merubah")
- apotik --> seharusnya "apotek"
- resiko --> seharusnya "risiko"
- analisa --> seharusnya "analisis"
- kwitansi --> seharusnya "kuitansi"
- kwantitas dan kwalitas --> seharusnya "kuantitas dan
kualitas"
- jadual --> seharusnya "jadwal"
- karir --> seharusnya "karier"
- jam 12.00 --> seharusnya "pukul 12.00"
- diatas --> seharusnya "di atas"
- legalisir --> seharusnya "legalisasi"
dan masih banyak lagi.
Saat saya masih aktif di BBD Urusan Pemeriksaan Intern
(UPI), salah satu tugas saya adalah memeriksa rancangan surat edaran
yang menyangkut sistem dan prosedur dari semua urusan dan menyusun buku
Pedoman Pemeriksaan Intern. Saya sering rapat membahas rancangan surat
edaran dan bertemu dengan Bapak Yunus Malik (saat itu beliau di Urusan
Dalam Negeri). Beliaulah yang sangat rajin dan telaten memeriksa dan
mengoreksi kesalahan kata dan kalimat dalam surat edaran, titik komanya
pun diperhatikan oleh beliau. Kata-kata asing juga dicari padanannya
secara maksimal. Saya sungguh kagum atas kegigihan beliau dalam
menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Setelah itu, saya tergerak untuk membaca buku tentang
"kesalahan berbahasa". Ternyata memang cukup banyak kesalahan-kesalahan
yang telah saya lakukan selama ini dan tidak saya sadari.
Menurut pengamatan saya, kita ini takut/malu melakukan
kesalahan menulis/mengucapkan bahasa asing (terutama Inggris), tetapi
kita tidak takut/malu melakukan kesalahan menulis/mengucapkan bahasa ibu
kita sendiri. Aneh ya?
Siapa yang bisa meluruskan agar bahasa Indonesia bisa
digunakan dengan baik dan benar? Tentunya kita semuanya.
Salam,
boedi dayono
On Mon, 2008-08-11 at 13:16 +0700, Indiah Marsaban
wrote:
Berbahasa Indonesia yang baik..
Tempo Edisi. 25/XXXVII/11 - 17 Agustus 2008
Bahasa
Kritisi dan Fundamental
Sori Siregar
* Penulis cerita pendek
KEKELIRUAN atau salah kaprah sangat banyak
ditemukan dalam penggunaan
bahasa Indonesia. Akibatnya, Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) saya
sampai lusuh karena begitu seringnya saya
membukanya, agar dapat berbahasa
Indonesia dengan benar. Ini saya lakukan agar
orang yang salah kaprah
dalam berbahasa Indonesia tidak bertambah
jumlahnya.
Misalnya, ada orang yang mengatakan
"mengkritisi", padahal yang
dimaksudkannya adalah "mengeritik". Kita
beralasan untuk terkejut dan
kecewa, karena kekeliruan seperti itu juga
sering terjadi di kalangan kaum
terpelajar kita baik ketika mereka menulis
maupun pada saat berbicara.
Seorang cendekiawan, dalam sebuah acara talk
show di sebuah stasiun
televisi, dengan yakin mengucapkan kata
"mengkritisi". Mungkin, banyak
orang yang mulai lupa kepada bahasa Indonesia
karena terlalu lama belajar
di luar negeri. Atau memang mereka tidak begitu
peduli dengan bahasa
Indonesia.
Akibatnya mereka tidak tahu lagi apa bedanya
"kritik", "kritikus", dan
"kritisi". Karena itu, dengan yakin mereka
mengatakan "mengkritisi",
sedangkan yang mereka maksudkan adalah
"mengeritik". Mengapa ini dapat
terjadi? Tampaknya, mereka salah rujukan. Ketika
mereka ingin menggunakan
kata "kritik", mereka merujuk pada kamus bahasa
Inggris, bukan pada kamus
bahasa Indonesia.
Dasar pemikiran orang yang berbahasa salah
kaprah itu mungkin seperti ini.
Dalam bahasa Inggris, "kritik" disebut
"criticism". Jadi, jika kata benda
ini dijadikan kata kerja, pemakai hanya perlu
memberikan awalan "me",
sehingga lahirlah kata kerja gado-gado
"meng-criticism". Mungkin pula kata
yang dirujuk adalah "criticize". Setelah kata
ini diberi awalan "me",
lahirlah kata baru, yaitu "meng-criticize".
Kemudian kata inilah yang
dinasionalisasi menjadi "mengkritisi".
Sejauh yang saya ketahui, makna "kritik" belum
berubah, yaitu ke-caman
atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian
atau pertimbangan baik-buruk
terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan
sebagainya. Arti "mengeritik"
juga masih tetap mengemukakan kritik atau
mengecam. Begitu juga dengan
kata "kritikus" dan "kritisi". Kritikus adalah
orang yang ahli dalam
memberikan pertimbangan (pembahasan) tentang
baik-buruknya sesuatu,
sedangkan yang dimaksudkan dengan kritisi adalah
kaum kritikus. Itu
menurut KBBI.
Karena terlalu sering merujuk kepada kamus
bahasa Inggris, tidak jarang
pula kita memberi awalan "me" atau "di" di depan
kata-kata bahasa Inggris
yang lain tanpa mengubah kata yang diberi awalan
itu. Artinya, kita tetap
mempertahankan kata gado-gado. Karena itu,
tidaklah mengherankan jika kita
menemukan kata-kata seperti men-training atau
di-training, men-sweeping
atau di-sweeping, di-briefing atau mem-briefing,
di-backing atau
mem-backing, dan men-support atau di-support.
Kekeliruan mungkin akan
terus terjadi jika kita selalu merujuk pada
kamus bahasa Inggris, padahal
yang ingin kita ketahui adalah bahasa Indonesia.
Kalau Anda memperhatikan dengan cermat, dalam
tulisan-tulisan tentang
ekonomi di surat kabar atau majalah mungkin Anda
pernah menemukan kata
"fundamental" dalam kalimat seperti ini,
"fundamental ekonomi Indonesia
kuat, karena itu tak perlu khawatir".
Sebenarnya, agak aneh jika warga Indonesia tidak
mengetahui apa bedanya
"fundamen" dan "fundamental". Fundamen adalah
kata benda atau nomina,
sedangkan fundamental adalah kata sifat atau
adjektiva. Berdasarkan sifat
kata yang digunakan kalimat yang disebutkan
tadi, seharusnya ditulis
"fundamen ekonomi Indonesia kuat, karena itu tak
perlu khawatir".
Menurut KBBI, adjektiva "fundamental" adalah
bersifat dasar (pokok), atau
mendasar. Kamus ini memberi contoh dengan
kalimat: "Iman merupakan suatu
hal yang sangat fundamental di dalam kehidupan
manusia". Dalam bahasa
Indonesia, kata "fundamental" tidak dapat
dianggap sebagai kata benda.
Lain halnya dalam bahasa Inggris. Selain sebagai
kata sifat, "fundamental"
dianggap sebagai kata benda. Sebagai kata sifat,
"fundamental" bermakna of
or forming a foundation, of great importance,
serving as a starting point.
Dalam posisinya sebagai kata benda,
"fundamental" berarti essential part.
Karena itu, dalam bahasa Inggris dapat ditulis
"the fundamentals of
mathematics". Jika kata-kata ini diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia
secara harfiah, artinya fundamental matematika.
Analog dengan ini, semestinya ada kata-kata "the
fundamental of
economics", yang artinya kira-kira sama dengan
fundamental ekonomi. Konon,
begitulah dasar pemikiran sejumlah ekonom di
negeri ini sehingga mereka
tetap menggunakan kata-kata "fundamental
ekonomi" walaupun yang mereka
maksudkan fundamen atau dasar-dasar ekonomi.
Kata-kata "the fundamental of mathematics" ini
saya kutip dari Oxford
Advanced Learner's Dictionary of Current English
susunan A.S. Hornby, A.P.
Cowie, dan A.C. Gimson yang diterbitkan Oxford
University Press, Oxford,
Inggris.
Dalam debat pemilihan kepala daerah Jawa Timur
yang disiarkan sebuah
stasiun televisi pada 19 Juli 2008, calon
gubernur Chofifah Indar
Parawansa mengatakan akan me-manage
pemerintahannya dengan baik jika ia
terpilih menjadi gubernur. Ibu Chofifah tidak
dapat disalahkan karena
bukan ia yang merintis penggunaan kata
"me-manage" itu. Ia hanya mengulang
apa yang pernah dikatakan pendahulunya.
Kekeliruan seperti ini seharusnya dikurangi.
Karena itu, saya bertekad
tidak akan pernah menulis seperti ini: "Minggu
depan setelah me-write
sebuah artikel, saya akan men-send-nya ke
majalah Tempo".
Wahyu W. Basjir
Transparency Specialist
Australia-Indonesia Partnership for
Reconstruction and Development (AIPRD)
Local Governance and Infrastructure for
Communities in Aceh (Logica)
Project
Jl. Kebun Raja No. 2
Ie Masen, Ulee Kareng
Banda Aceh
Phone: 081377072131
Fraud hotline: 08126991695
[Non-text portions of this message have been
removed]
Salam,
Boedi Dayono
my.ERP
Mulia Industry
Enterprise Resource Planning