Undangan
Dengan ini kami mengundang Bapak/Ibu mantan pejabat Bank Bumi Daya yang
saat ini masih aktif di Bank Mandiri atau telah pensiun untuk bermain
golf yang rencananya akan diselenggarakan pada:
- Hari dan Tanggal    : Minggu, 31 Agustus 2008
- Tempat                   : Padang Golf Cilangkap
- Tee Off                    : Pukul 6.30
- Biaya                      : Rp250.000,00 per orang termasuk makan
siang, snack, door prize, dan hadiah kejuaraan.
- Caddy Tip               : Dibayar oleh peserta sendiri
Hormat kami,
Soeyamto
Ketua............

Bila sifatnya pemberitahuan:
Pemberitahuan
Dengan ini kami beri tahukan bahwa para mantan pejabat Bank Bumi Daya
yang saat ini masih aktif di Bank Mandiri atau telah pensiun akan
bermain golf yang rencananya akan diselenggarakan pada:
- Hari dan Tanggal    : Minggu, 31 Agustus 2008
- Tempat                   : Padang Golf Cilangkap
- Tee Off                    : Pukul 6.30
- Biaya                      : Rp250.000,00 per orang termasuk makan
siang, snack, door prize, dan hadiah kejuaraan.
- Caddy Tip               : Dibayar oleh peserta sendiri
Hormat kami,
Soeyamto
Ketua............

Mudah-mudahan berkenan.
Salam,
boedi dayono

On Wed, 2008-08-13 at 13:03 +0700, Soeyamto wrote:
> Untuk teman  teman dan  para senior  mohon  undangan ini dikoreksi
> sesuai dengan bahasa Indonesia yang benar.
>  
> PEMBERITAHUAN/UNDANGAN
>  
> Dengan ini diberitahukan bahwa  para mantan  pejabat  Bank Bumi  Daya
> baik  yang bergabung  ke Bank Mandiri maupun yang PPS atau yang
> memang telah benar benar  pensiun , akan  main golf bersama  pada :
>  
> Hari            :     Minggu tanggal 31 Agustus 2008
> Tempat        :     Padang Golf Cilangkap
> Tee off         :    Jam 06.30 WIB
> Biaya           :    Rp.250.000,-  termasuk  makan siang,  snack dan
> door prize serta hadiah kejuaraan  tetapi caddy tip  bayar masing
> masing)
>  
> Demikian   harap maklum .
>      
> 
> 
> 
> 
> ______________________________________________________________________
> From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
> Of [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Tuesday, August 12, 2008 4:27 PM
> To: [email protected]
> Subject: Re: {Disarmed} FW: {Disarmed} [exbe2de] Buat teman-teman
> yangrajin"mengkritisi"..
> 
> 
> 
> Waduh sambung rasa dengan sahabat lama nih. Mas Harwanto apa kabar?
> Sehat-sehat saja kan.
> Masih ingat ya dengan Lotus-Amipro, word processor under Windows yang
> paling canggih. Saat itu MS Word belum lahir ya. Setelah Lotus-Amipro
> saya migrasi ke Lotus-WordPro yang lebih canggih lagi. Kemampuannya
> dalam membuat spreadsheet dalam wordprocessor dan mengelola
> style/format amat sangat terpoedjiken, dan menurut pendapat saya MS
> Word yang paling terkinipun masih kalah canggih. Amat disayangkan
> Lotus kalah pasar dengan Microsoft. Sekarang saya pakai Open Office
> yang gratisan dan cukup bisa memenuhi kebutuhan saya (dan yang lebih
> penting virus enggan mampir). Ya, juga supaya Bill Gates tidak
> terlampau kaya. He... he....
> Kalau kita mencermati penggunaan bahasa Indonesia memang jadi geli
> sendiri. Coba saja penggunaan kata "merubah/dirubah" yang seharusnya
> "mengubah/diubah". Rubah itu kan binatang sejenis serigala. Jadi kalau
> ada  kalimat: "Saya telah merubah wajahnya" --> artinya apa hayoo???
> Saya telah menjadikan rubah wajahnya???
> Salam buat keluarga ya..
> boedi dayono
> 
> On Tue, 2008-08-12 at 13:50 +0700, Harwanto wrote: 
> 
> > 
> > Pak Budi D
> > 
> > Benar sekali yg dikatakan P Maryanto, P Budi rajin memberi pelajaran
> > itu dng mengoreksi surat2 atau memo Dinas dng bhs Indonesia yg baik
> > dan benar, tapi terus terang saja saya sekarang sering lupa
> > penerapannya, disamping itu waktu PC  masih menggunakan wordstar, P
> > Budi mengajari program Amipro yg lebih canggih. 
> > 
> > Salam P Budi semoga sehat dan bahagia bersama kel.
> > 
> > Salam
> > 
> > harwanto
> > 
> >  
> > 
> > 
> >                                   
> > ____________________________________________________________________
> > 
> > From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
> > Behalf Of Maryanto Sandy
> > Sent: Tuesday, August 12, 2008 9:29 AM
> > To: [email protected]
> > Subject: RE: {Disarmed} [exbe2de] Buat teman-teman yang
> > rajin"mengkritisi"..
> > 
> > 
> > 
> > 
> >  
> > Pak Budi itu pelajaran bapak waktu di UKR dulu dan sampai sekarang
> > sudah saya terapkan...  he  he.. he.. 
> > 
> > 
> > Salam PaK Budi.. Semoga sehat selalau...
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> >  
> > 
> >         -----Original Message-----
> >         From: [email protected]
> >         [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of
> >         [EMAIL PROTECTED]
> >         Sent: Tuesday, August 12, 2008 8:50 AM
> >         To: [email protected]
> >         Subject: Re: {Disarmed} [exbe2de] Buat teman-teman yang
> >         rajin"mengkritisi"..
> >         
> >         Kita juga sering salah dalam menggunakan bahasa Indonesia
> >         sehari-hari yang bisa ditiru oleh anak cucu kita. Beberapa
> >         contoh:
> >         - merubah --> seharusnya "mengubah" (banyak lirik lagu yang
> >         menggunakan kata "merubah")
> >         - apotik --> seharusnya "apotek"
> >         - resiko --> seharusnya "risiko"
> >         - analisa --> seharusnya "analisis"
> >         - kwitansi --> seharusnya "kuitansi"
> >         - kwantitas dan kwalitas --> seharusnya "kuantitas dan
> >         kualitas"
> >         - jadual --> seharusnya "jadwal"
> >         - karir --> seharusnya "karier"
> >         - jam 12.00 --> seharusnya "pukul 12.00"
> >         - diatas --> seharusnya "di atas"
> >         - legalisir --> seharusnya "legalisasi"
> >         dan masih banyak lagi.
> >         Saat saya masih aktif di BBD Urusan Pemeriksaan Intern
> >         (UPI), salah satu tugas saya adalah memeriksa rancangan
> >         surat edaran yang menyangkut sistem dan prosedur dari semua
> >         urusan dan menyusun buku Pedoman Pemeriksaan Intern. Saya
> >         sering rapat membahas rancangan surat edaran dan bertemu
> >         dengan Bapak Yunus Malik (saat itu beliau di Urusan Dalam
> >         Negeri). Beliaulah yang sangat rajin dan telaten memeriksa
> >         dan mengoreksi kesalahan kata dan kalimat dalam surat
> >         edaran, titik komanya pun diperhatikan oleh beliau.
> >         Kata-kata asing juga dicari padanannya secara maksimal. Saya
> >         sungguh kagum atas kegigihan beliau dalam menggunakan bahasa
> >         Indonesia yang baik dan benar.
> >         Setelah itu, saya tergerak untuk membaca buku tentang
> >         "kesalahan berbahasa". Ternyata memang cukup banyak
> >         kesalahan-kesalahan yang telah saya lakukan selama ini dan
> >         tidak saya sadari.
> >         Menurut pengamatan saya, kita ini takut/malu melakukan
> >         kesalahan menulis/mengucapkan bahasa asing (terutama
> >         Inggris), tetapi kita tidak takut/malu melakukan kesalahan
> >         menulis/mengucapkan bahasa ibu kita sendiri. Aneh ya? 
> >         Siapa yang bisa meluruskan agar bahasa Indonesia bisa
> >         digunakan dengan baik dan benar? Tentunya kita semuanya.
> >         Salam,
> >         boedi dayono
> >         
> >         On Mon, 2008-08-11 at 13:16 +0700, Indiah Marsaban wrote: 
> >         
> >         
> >         > Berbahasa Indonesia yang baik..
> >         > 
> >         > Tempo Edisi. 25/XXXVII/11 - 17 Agustus 2008
> >         > Bahasa
> >         > 
> >         > Kritisi dan Fundamental
> >         > 
> >         > Sori Siregar
> >         > 
> >         > * Penulis cerita pendek
> >         > 
> >         > KEKELIRUAN atau salah kaprah sangat banyak ditemukan dalam
> >         > penggunaan
> >         > bahasa Indonesia. Akibatnya, Kamus Besar Bahasa Indonesia
> >         > (KBBI) saya
> >         > sampai lusuh karena begitu seringnya saya membukanya, agar
> >         > dapat berbahasa
> >         > Indonesia dengan benar. Ini saya lakukan agar orang yang
> >         > salah kaprah
> >         > dalam berbahasa Indonesia tidak bertambah jumlahnya.
> >         > 
> >         > Misalnya, ada orang yang mengatakan "mengkritisi", padahal
> >         > yang
> >         > dimaksudkannya adalah "mengeritik". Kita beralasan untuk
> >         > terkejut dan
> >         > kecewa, karena kekeliruan seperti itu juga sering terjadi
> >         > di kalangan kaum
> >         > terpelajar kita baik ketika mereka menulis maupun pada
> >         > saat berbicara.
> >         > Seorang cendekiawan, dalam sebuah acara talk show di
> >         > sebuah stasiun
> >         > televisi, dengan yakin mengucapkan kata "mengkritisi".
> >         > Mungkin, banyak
> >         > orang yang mulai lupa kepada bahasa Indonesia karena
> >         > terlalu lama belajar
> >         > di luar negeri. Atau memang mereka tidak begitu peduli
> >         > dengan bahasa
> >         > Indonesia.
> >         > 
> >         > Akibatnya mereka tidak tahu lagi apa bedanya "kritik",
> >         > "kritikus", dan
> >         > "kritisi". Karena itu, dengan yakin mereka mengatakan
> >         > "mengkritisi",
> >         > sedangkan yang mereka maksudkan adalah "mengeritik".
> >         > Mengapa ini dapat
> >         > terjadi? Tampaknya, mereka salah rujukan. Ketika mereka
> >         > ingin menggunakan
> >         > kata "kritik", mereka merujuk pada kamus bahasa Inggris,
> >         > bukan pada kamus
> >         > bahasa Indonesia.
> >         > 
> >         > Dasar pemikiran orang yang berbahasa salah kaprah itu
> >         > mungkin seperti ini.
> >         > Dalam bahasa Inggris, "kritik" disebut "criticism". Jadi,
> >         > jika kata benda
> >         > ini dijadikan kata kerja, pemakai hanya perlu memberikan
> >         > awalan "me",
> >         > sehingga lahirlah kata kerja gado-gado "meng-criticism".
> >         > Mungkin pula kata
> >         > yang dirujuk adalah "criticize". Setelah kata ini diberi
> >         > awalan "me",
> >         > lahirlah kata baru, yaitu "meng-criticize". Kemudian kata
> >         > inilah yang
> >         > dinasionalisasi menjadi "mengkritisi".
> >         > 
> >         > Sejauh yang saya ketahui, makna "kritik" belum berubah,
> >         > yaitu ke-caman
> >         > atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian atau
> >         > pertimbangan baik-buruk
> >         > terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Arti
> >         > "mengeritik"
> >         > juga masih tetap mengemukakan kritik atau mengecam. Begitu
> >         > juga dengan
> >         > kata "kritikus" dan "kritisi". Kritikus adalah orang yang
> >         > ahli dalam
> >         > memberikan pertimbangan (pembahasan) tentang baik-buruknya
> >         > sesuatu,
> >         > sedangkan yang dimaksudkan dengan kritisi adalah kaum
> >         > kritikus. Itu
> >         > menurut KBBI.
> >         > 
> >         > Karena terlalu sering merujuk kepada kamus bahasa Inggris,
> >         > tidak jarang
> >         > pula kita memberi awalan "me" atau "di" di depan kata-kata
> >         > bahasa Inggris
> >         > yang lain tanpa mengubah kata yang diberi awalan itu.
> >         > Artinya, kita tetap
> >         > mempertahankan kata gado-gado. Karena itu, tidaklah
> >         > mengherankan jika kita
> >         > menemukan kata-kata seperti men-training atau di-training,
> >         > men-sweeping
> >         > atau di-sweeping, di-briefing atau mem-briefing,
> >         > di-backing atau
> >         > mem-backing, dan men-support atau di-support. Kekeliruan
> >         > mungkin akan
> >         > terus terjadi jika kita selalu merujuk pada kamus bahasa
> >         > Inggris, padahal
> >         > yang ingin kita ketahui adalah bahasa Indonesia.
> >         > 
> >         > Kalau Anda memperhatikan dengan cermat, dalam
> >         > tulisan-tulisan tentang
> >         > ekonomi di surat kabar atau majalah mungkin Anda pernah
> >         > menemukan kata
> >         > "fundamental" dalam kalimat seperti ini, "fundamental
> >         > ekonomi Indonesia
> >         > kuat, karena itu tak perlu khawatir".
> >         > 
> >         > Sebenarnya, agak aneh jika warga Indonesia tidak
> >         > mengetahui apa bedanya
> >         > "fundamen" dan "fundamental". Fundamen adalah kata benda
> >         > atau nomina,
> >         > sedangkan fundamental adalah kata sifat atau adjektiva.
> >         > Berdasarkan sifat
> >         > kata yang digunakan kalimat yang disebutkan tadi,
> >         > seharusnya ditulis
> >         > "fundamen ekonomi Indonesia kuat, karena itu tak perlu
> >         > khawatir".
> >         > 
> >         > Menurut KBBI, adjektiva "fundamental" adalah bersifat
> >         > dasar (pokok), atau
> >         > mendasar. Kamus ini memberi contoh dengan kalimat: "Iman
> >         > merupakan suatu
> >         > hal yang sangat fundamental di dalam kehidupan manusia".
> >         > Dalam bahasa
> >         > Indonesia, kata "fundamental" tidak dapat dianggap sebagai
> >         > kata benda.
> >         > 
> >         > Lain halnya dalam bahasa Inggris. Selain sebagai kata
> >         > sifat, "fundamental"
> >         > dianggap sebagai kata benda. Sebagai kata sifat,
> >         > "fundamental" bermakna of
> >         > or forming a foundation, of great importance, serving as a
> >         > starting point.
> >         > Dalam posisinya sebagai kata benda, "fundamental" berarti
> >         > essential part.
> >         > Karena itu, dalam bahasa Inggris dapat ditulis "the
> >         > fundamentals of
> >         > mathematics". Jika kata-kata ini diterjemahkan ke dalam
> >         > bahasa Indonesia
> >         > secara harfiah, artinya fundamental matematika.
> >         > 
> >         > Analog dengan ini, semestinya ada kata-kata "the
> >         > fundamental of
> >         > economics", yang artinya kira-kira sama dengan fundamental
> >         > ekonomi. Konon,
> >         > begitulah dasar pemikiran sejumlah ekonom di negeri ini
> >         > sehingga mereka
> >         > tetap menggunakan kata-kata "fundamental ekonomi" walaupun
> >         > yang mereka
> >         > maksudkan fundamen atau dasar-dasar ekonomi.
> >         > 
> >         > Kata-kata "the fundamental of mathematics" ini saya kutip
> >         > dari Oxford
> >         > Advanced Learner's Dictionary of Current English susunan
> >         > A.S. Hornby, A.P.
> >         > Cowie, dan A.C. Gimson yang diterbitkan Oxford University
> >         > Press, Oxford,
> >         > Inggris.
> >         > 
> >         > Dalam debat pemilihan kepala daerah Jawa Timur yang
> >         > disiarkan sebuah
> >         > stasiun televisi pada 19 Juli 2008, calon gubernur
> >         > Chofifah Indar
> >         > Parawansa mengatakan akan me-manage pemerintahannya dengan
> >         > baik jika ia
> >         > terpilih menjadi gubernur. Ibu Chofifah tidak dapat
> >         > disalahkan karena
> >         > bukan ia yang merintis penggunaan kata "me-manage" itu. Ia
> >         > hanya mengulang
> >         > apa yang pernah dikatakan pendahulunya.
> >         > 
> >         > Kekeliruan seperti ini seharusnya dikurangi. Karena itu,
> >         > saya bertekad
> >         > tidak akan pernah menulis seperti ini: "Minggu depan
> >         > setelah me-write
> >         > sebuah artikel, saya akan men-send-nya ke majalah Tempo".
> >         > 
> >         > Wahyu W. Basjir
> >         > 
> >         > Transparency Specialist
> >         > 
> >         > Australia-Indonesia Partnership for Reconstruction and
> >         > Development (AIPRD)
> >         > 
> >         > Local Governance and Infrastructure for Communities in
> >         > Aceh (Logica)
> >         > Project
> >         > 
> >         > Jl. Kebun Raja No. 2
> >         > 
> >         > Ie Masen, Ulee Kareng
> >         > 
> >         > Banda Aceh
> >         > 
> >         > Phone: 081377072131
> >         > 
> >         > Fraud hotline: 08126991695
> >         > 
> >         > [Non-text portions of this message have been removed]
> >         > 
> >         > 
> >         > 
> >         > 
> >         > 
> > 
> > 
> 
> Salam,
> Boedi Dayono
> my.ERP
> Mulia Industry
> Enterprise Resource Planning 
> 
> 
>  

Salam,
Boedi Dayono
my.ERP
Mulia Industry
Enterprise Resource Planning


Kirim email ke