Suwun cak, gs
________________________________ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Soeyamto Sent: Wednesday, August 13, 2008 1:04 PM To: [email protected] Subject: RE: {Disarmed} FW: {Disarmed} [exbe2de] Buat teman-teman yangrajin"mengkritisi".. Untuk teman teman dan para senior mohon undangan ini dikoreksi sesuai dengan bahasa Indonesia yang benar. PEMBERITAHUAN/UNDANGAN Dengan ini diberitahukan bahwa para mantan pejabat Bank Bumi Daya baik yang bergabung ke Bank Mandiri maupun yang PPS atau yang memang telah benar benar pensiun , akan main golf bersama pada : Hari : Minggu tanggal 31 Agustus 2008 Tempat : Padang Golf Cilangkap Tee off : Jam 06.30 WIB Biaya : Rp.250.000,- termasuk makan siang, snack dan door prize serta hadiah kejuaraan tetapi caddy tip bayar masing masing) Demikian harap maklum . ________________________________ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of [EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, August 12, 2008 4:27 PM To: [email protected] Subject: Re: {Disarmed} FW: {Disarmed} [exbe2de] Buat teman-teman yangrajin"mengkritisi".. Waduh sambung rasa dengan sahabat lama nih. Mas Harwanto apa kabar? Sehat-sehat saja kan. Masih ingat ya dengan Lotus-Amipro, word processor under Windows yang paling canggih. Saat itu MS Word belum lahir ya. Setelah Lotus-Amipro saya migrasi ke Lotus-WordPro yang lebih canggih lagi. Kemampuannya dalam membuat spreadsheet dalam wordprocessor dan mengelola style/format amat sangat terpoedjiken, dan menurut pendapat saya MS Word yang paling terkinipun masih kalah canggih. Amat disayangkan Lotus kalah pasar dengan Microsoft. Sekarang saya pakai Open Office yang gratisan dan cukup bisa memenuhi kebutuhan saya (dan yang lebih penting virus enggan mampir). Ya, juga supaya Bill Gates tidak terlampau kaya. He... he.... Kalau kita mencermati penggunaan bahasa Indonesia memang jadi geli sendiri. Coba saja penggunaan kata "merubah/dirubah" yang seharusnya "mengubah/diubah". Rubah itu kan binatang sejenis serigala. Jadi kalau ada kalimat: "Saya telah merubah wajahnya" --> artinya apa hayoo??? Saya telah menjadikan rubah wajahnya??? Salam buat keluarga ya.. boedi dayono On Tue, 2008-08-12 at 13:50 +0700, Harwanto wrote: Pak Budi D Benar sekali yg dikatakan P Maryanto, P Budi rajin memberi pelajaran itu dng mengoreksi surat2 atau memo Dinas dng bhs Indonesia yg baik dan benar, tapi terus terang saja saya sekarang sering lupa penerapannya, disamping itu waktu PC masih menggunakan wordstar, P Budi mengajari program Amipro yg lebih canggih. Salam P Budi semoga sehat dan bahagia bersama kel. Salam harwanto ________________________________ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Maryanto Sandy Sent: Tuesday, August 12, 2008 9:29 AM To: [email protected] Subject: RE: {Disarmed} [exbe2de] Buat teman-teman yang rajin"mengkritisi".. Pak Budi itu pelajaran bapak waktu di UKR dulu dan sampai sekarang sudah saya terapkan... he he.. he.. Salam PaK Budi.. Semoga sehat selalau... -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of [EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, August 12, 2008 8:50 AM To: [email protected] Subject: Re: {Disarmed} [exbe2de] Buat teman-teman yang rajin"mengkritisi".. Kita juga sering salah dalam menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari yang bisa ditiru oleh anak cucu kita. Beberapa contoh: - merubah --> seharusnya "mengubah" (banyak lirik lagu yang menggunakan kata "merubah") - apotik --> seharusnya "apotek" - resiko --> seharusnya "risiko" - analisa --> seharusnya "analisis" - kwitansi --> seharusnya "kuitansi" - kwantitas dan kwalitas --> seharusnya "kuantitas dan kualitas" - jadual --> seharusnya "jadwal" - karir --> seharusnya "karier" - jam 12.00 --> seharusnya "pukul 12.00" - diatas --> seharusnya "di atas" - legalisir --> seharusnya "legalisasi" dan masih banyak lagi. Saat saya masih aktif di BBD Urusan Pemeriksaan Intern (UPI), salah satu tugas saya adalah memeriksa rancangan surat edaran yang menyangkut sistem dan prosedur dari semua urusan dan menyusun buku Pedoman Pemeriksaan Intern. Saya sering rapat membahas rancangan surat edaran dan bertemu dengan Bapak Yunus Malik (saat itu beliau di Urusan Dalam Negeri). Beliaulah yang sangat rajin dan telaten memeriksa dan mengoreksi kesalahan kata dan kalimat dalam surat edaran, titik komanya pun diperhatikan oleh beliau. Kata-kata asing juga dicari padanannya secara maksimal. Saya sungguh kagum atas kegigihan beliau dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Setelah itu, saya tergerak untuk membaca buku tentang "kesalahan berbahasa". Ternyata memang cukup banyak kesalahan-kesalahan yang telah saya lakukan selama ini dan tidak saya sadari. Menurut pengamatan saya, kita ini takut/malu melakukan kesalahan menulis/mengucapkan bahasa asing (terutama Inggris), tetapi kita tidak takut/malu melakukan kesalahan menulis/mengucapkan bahasa ibu kita sendiri. Aneh ya? Siapa yang bisa meluruskan agar bahasa Indonesia bisa digunakan dengan baik dan benar? Tentunya kita semuanya. Salam, boedi dayono On Mon, 2008-08-11 at 13:16 +0700, Indiah Marsaban wrote: Berbahasa Indonesia yang baik.. Tempo Edisi. 25/XXXVII/11 - 17 Agustus 2008 Bahasa Kritisi dan Fundamental Sori Siregar * Penulis cerita pendek KEKELIRUAN atau salah kaprah sangat banyak ditemukan dalam penggunaan bahasa Indonesia. Akibatnya, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) saya sampai lusuh karena begitu seringnya saya membukanya, agar dapat berbahasa Indonesia dengan benar. Ini saya lakukan agar orang yang salah kaprah dalam berbahasa Indonesia tidak bertambah jumlahnya. Misalnya, ada orang yang mengatakan "mengkritisi", padahal yang dimaksudkannya adalah "mengeritik". Kita beralasan untuk terkejut dan kecewa, karena kekeliruan seperti itu juga sering terjadi di kalangan kaum terpelajar kita baik ketika mereka menulis maupun pada saat berbicara. Seorang cendekiawan, dalam sebuah acara talk show di sebuah stasiun televisi, dengan yakin mengucapkan kata "mengkritisi". Mungkin, banyak orang yang mulai lupa kepada bahasa Indonesia karena terlalu lama belajar di luar negeri. Atau memang mereka tidak begitu peduli dengan bahasa Indonesia. Akibatnya mereka tidak tahu lagi apa bedanya "kritik", "kritikus", dan "kritisi". Karena itu, dengan yakin mereka mengatakan "mengkritisi", sedangkan yang mereka maksudkan adalah "mengeritik". Mengapa ini dapat terjadi? Tampaknya, mereka salah rujukan. Ketika mereka ingin menggunakan kata "kritik", mereka merujuk pada kamus bahasa Inggris, bukan pada kamus bahasa Indonesia. Dasar pemikiran orang yang berbahasa salah kaprah itu mungkin seperti ini. Dalam bahasa Inggris, "kritik" disebut "criticism". Jadi, jika kata benda ini dijadikan kata kerja, pemakai hanya perlu memberikan awalan "me", sehingga lahirlah kata kerja gado-gado "meng-criticism". Mungkin pula kata yang dirujuk adalah "criticize". Setelah kata ini diberi awalan "me", lahirlah kata baru, yaitu "meng-criticize". Kemudian kata inilah yang dinasionalisasi menjadi "mengkritisi". Sejauh yang saya ketahui, makna "kritik" belum berubah, yaitu ke-caman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian atau pertimbangan baik-buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Arti "mengeritik" juga masih tetap mengemukakan kritik atau mengecam. Begitu juga dengan kata "kritikus" dan "kritisi". Kritikus adalah orang yang ahli dalam memberikan pertimbangan (pembahasan) tentang baik-buruknya sesuatu, sedangkan yang dimaksudkan dengan kritisi adalah kaum kritikus. Itu menurut KBBI. Karena terlalu sering merujuk kepada kamus bahasa Inggris, tidak jarang pula kita memberi awalan "me" atau "di" di depan kata-kata bahasa Inggris yang lain tanpa mengubah kata yang diberi awalan itu. Artinya, kita tetap mempertahankan kata gado-gado. Karena itu, tidaklah mengherankan jika kita menemukan kata-kata seperti men-training atau di-training, men-sweeping atau di-sweeping, di-briefing atau mem-briefing, di-backing atau mem-backing, dan men-support atau di-support. Kekeliruan mungkin akan terus terjadi jika kita selalu merujuk pada kamus bahasa Inggris, padahal yang ingin kita ketahui adalah bahasa Indonesia. Kalau Anda memperhatikan dengan cermat, dalam tulisan-tulisan tentang ekonomi di surat kabar atau majalah mungkin Anda pernah menemukan kata "fundamental" dalam kalimat seperti ini, "fundamental ekonomi Indonesia kuat, karena itu tak perlu khawatir". Sebenarnya, agak aneh jika warga Indonesia tidak mengetahui apa bedanya "fundamen" dan "fundamental". Fundamen adalah kata benda atau nomina, sedangkan fundamental adalah kata sifat atau adjektiva. Berdasarkan sifat kata yang digunakan kalimat yang disebutkan tadi, seharusnya ditulis "fundamen ekonomi Indonesia kuat, karena itu tak perlu khawatir". Menurut KBBI, adjektiva "fundamental" adalah bersifat dasar (pokok), atau mendasar. Kamus ini memberi contoh dengan kalimat: "Iman merupakan suatu hal yang sangat fundamental di dalam kehidupan manusia". Dalam bahasa Indonesia, kata "fundamental" tidak dapat dianggap sebagai kata benda. Lain halnya dalam bahasa Inggris. Selain sebagai kata sifat, "fundamental" dianggap sebagai kata benda. Sebagai kata sifat, "fundamental" bermakna of or forming a foundation, of great importance, serving as a starting point. Dalam posisinya sebagai kata benda, "fundamental" berarti essential part. Karena itu, dalam bahasa Inggris dapat ditulis "the fundamentals of mathematics". Jika kata-kata ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara harfiah, artinya fundamental matematika. Analog dengan ini, semestinya ada kata-kata "the fundamental of economics", yang artinya kira-kira sama dengan fundamental ekonomi. Konon, begitulah dasar pemikiran sejumlah ekonom di negeri ini sehingga mereka tetap menggunakan kata-kata "fundamental ekonomi" walaupun yang mereka maksudkan fundamen atau dasar-dasar ekonomi. Kata-kata "the fundamental of mathematics" ini saya kutip dari Oxford Advanced Learner's Dictionary of Current English susunan A.S. Hornby, A.P. Cowie, dan A.C. Gimson yang diterbitkan Oxford University Press, Oxford, Inggris. Dalam debat pemilihan kepala daerah Jawa Timur yang disiarkan sebuah stasiun televisi pada 19 Juli 2008, calon gubernur Chofifah Indar Parawansa mengatakan akan me-manage pemerintahannya dengan baik jika ia terpilih menjadi gubernur. Ibu Chofifah tidak dapat disalahkan karena bukan ia yang merintis penggunaan kata "me-manage" itu. Ia hanya mengulang apa yang pernah dikatakan pendahulunya. Kekeliruan seperti ini seharusnya dikurangi. Karena itu, saya bertekad tidak akan pernah menulis seperti ini: "Minggu depan setelah me-write sebuah artikel, saya akan men-send-nya ke majalah Tempo". Wahyu W. Basjir Transparency Specialist Australia-Indonesia Partnership for Reconstruction and Development (AIPRD) Local Governance and Infrastructure for Communities in Aceh (Logica) Project Jl. Kebun Raja No. 2 Ie Masen, Ulee Kareng Banda Aceh Phone: 081377072131 Fraud hotline: 08126991695 [Non-text portions of this message have been removed] Salam, Boedi Dayono my.ERP Mulia Industry Enterprise Resource Planning
