Larasati:
apakah kebetulan, jika 7 bulan sebelum meninggal, ayah saya menawari
saya untuk membeli rumah itu?
apakah kebetulan jika saya menerima tawaran itu? (padahal saya kan
bisa menolaknya, toh saya hidup dan mencari nafkah di Jakarta, buat
apa beli rumah nun jauh disana?)
kebetulan pulakah jika rumah saya itu akhirnya menjadi tempat
tinggal kakak saya yang no.2, (yang paling memprihatinkan hidupnya,
krn sampai skrg dia blom mampu membeli rumah) dan dia terpaksa harus
keluar dr rumah orang tua kami, karena rumah itu hendak dijual dan
hendak dibagi waris atas tuntutan kakak2 saya yang lain (kasus
klasik gak sih?)

tidak. bagi saya pribadi: tak ada peristiwa kebetulan di dunia ini.
tapi semuanya itu memang telah dirancang dengan cermat oleh Sang
Sutradara, dan semuanya itu adalah demi kebaikan kita sendiri juga.
God bless u. peace & cheers! larasati

Goen:
Kalau dilihat secara teliti, topik mengenai "kebetulan' itu hanay
apptizer saja, maksud intinya adalah sbb:

Apa yang terukir dalam hidup kita bukan hanya
mengikuti desain dari Yang Maha Kuasa, tetapi kita
juga memiliki kebebasan untuk membuat desain itu.
Manusia tidak hanya harus pasrah menyerah pada jalur
yang sudah ditetapkan oleh sang pemberi hidup, tetapi
justru sebaliknya dia harus secara aktif memberi isi
pada hidup ini.

Dalam kasus Mbak Larasati, kita bisa menyikapi yang terserah pilihan
kita, untuk

.. benci.. mengapa kok Asabri begini, memgapa kok BTN begitu,
seharusnya begini, seharusnya begitu, kok jadi begini, menyesali

.. dendam.. kok anda yang beli, lalu saudara-saudara berebutan
warisan ayah anda?  kok jadi begini

.. malu.. kok masalah klasik model begini bisa terjadi pada anda?
klasik gak sih?

.. rasa bersalah.. mengapa kok dulu gak begini, mengapa dulu kok gak
begitu, kok gak disiapkan surat jual beli antara ayah & anda?

.. Kasih.. bahwa dengan sedikit pengorbanan anda, maka saudara-
saudara anda mendapat karunia dari entah ayah anda, entah anda
sendiri, entah dari BTN atau Asabri.  Dan mereka supaya tahu bahwa
semua karunia itu adalah dari tuhan lewat anda.

Dan supaya anda menyadari bahwa rejeki dari tuhan itu berlimpah,
sungguh berlimpah asalkan bukan untuk anda, namun demi orang lain.

salam,
GG

--- In [email protected], larasati larasati
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> saya dulu pernah memposting crita tentang topik "Kebetulan" ke
milis ini (ada di blog saya juga kalo mau baca), disitu saya
jelaskan bahwa semua peristiwa yang kita bilang "kebetulan" ini
sebenarnya TIDAK ADA. saya percaya 100% bahwa semua kejadian dalam
hidup kita ini sudah ada yang mengatur (sutradaranya) yaitu: Tuhan
>
>   saya mau share pengalaman unik saya tentang pembelian rumah yang
nyaris ilang karena suatu kasus:
>
>   waktu itu ayah saya mendapatkan tawaran pembelian rumah di
perumahan Asabri dengan harga yang murah sekali, karena ayah telah
memiliki rumah maka jatah itu dilimpahkan ke saya (saya yang
membeli/membayar cicilan tiap bulannya) tapi pembelian dilakukan
atas nama ayah saya (karena beliau dulunya adalah anggota abri, dan
perumahan ini ditujukan bagi anggota dan eks abri), saya tertulis
sebagai ahli warisnya
>
>   setelah jalan 7 bulan, ternyata ayah saya meninggal dunia. nah,
dengan kondisi seperti itu maka secara otomatis cicilan rumah
tersebut berhenti karena pihak pembeli meninggal dunia, maka sisa
angsuran rumah selanjutnya (pelunasan) ditanggung oleh pihak Asabri
kepada BTN (sebagai pihak pengembang atau penyandang dana, saya tak
terlalu paham dalam hal ini)
>
>   singkat kata, suatu hari tiba2 saya dikejutkan kabar dr kakak
saya, bahwa rumah saya itu hendak disita oleh BTN dengan alasan
telah menunggak pembayaran sekian tahun (rumah saya sudah masuk dlm
daftar lelang), memang sih selama ini saya tak pernah menghiraukan
tagihan beserta denda cicilan rumah sejak ayah saya meninggal,
meskipun kakak2 saya berkali2 menyarankan untuk membayarnya, saya
tak bergeming, karena saya merasa ada di pihak yang benar
(melaporkan kematian ayah saya ke Asabri dan melengkapi syarat2
lainnya)
>
>   karena ancaman sita itu saya akhirnya terpaksa mendatangi BTN
Semarang dan Asabri Jakarta di jl. pintu air untuk menyelesaikan
kasus itu.
>   setelah pihak Asabri berjanji akan membereskan permasalahannya,
akhirnya selesai juga segala keribetan yang terjadi antara BTN, saya
dan Asabri
>   kasus selesai, saya menerima sertifikat rumah sebagai ahli waris
sah ayah saya, BTN juga tidak melelang rumah saya lagi. happy end.
>
>   apakah kebetulan, jika 7 bulan sebelum meninggal, ayah saya
menawari saya untuk membeli rumah itu?
>   apakah kebetulan jika saya menerima tawaran itu? (padahal saya
kan bisa menolaknya, toh saya hidup dan mencari nafkah di Jakarta,
buat apa beli rumah nun jauh disana?)
>   kebetulan pulakah jika rumah saya itu akhirnya menjadi tempat
tinggal kakak saya yang no.2, (yang paling memprihatinkan hidupnya,
krn sampai skrg dia blom mampu membeli rumah) dan dia terpaksa harus
keluar dr rumah orang tua kami, karena rumah itu hendak dijual dan
hendak dibagi waris atas tuntutan kakak2 saya yang lain (kasus
klasik gak sih?)
>
>   tidak. bagi saya pribadi: tak ada peristiwa kebetulan di dunia
ini. tapi semuanya itu memang telah dirancang dengan cermat oleh
Sang Sutradara, dan semuanya itu adalah demi kebaikan kita sendiri
juga. God bless u.
>
>
>
>   peace & cheers!
>   larasati
>   http://larasatilarepati.blogs.friendster.com/

Kirim email ke