Bicara China sebelum tahun 2000-an memang begitulah kondisinya, negara yang 
diperintah dengan sistem otoriter dan tangan besi!!!!! Jika tidak begitu, China 
sudah terpecah belah seperti Uni Soviet karena embel2 demokrasi dll....Semua 
sistem yang ada tidak menjamin kemakmuran dan memang dalam hal ini ada "COST" 
yang harus dibayar.....Memang sulit menilai suatu kebenaran! Benar dan salah 
sangat tipis sekali perbedaannya, tergantung dari posisi subyek dan obyek yang 
terkait. Melihat China dengan kondisi hampir super power saat ini...apakah 
masih relevan cerita Mr Jia????? 

fadjar pratikto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Saya Ingin Dunia Tahu Yang 
Terjadi di Cina
Hari-Hari Jia Jia dalam Pelarian (1)

SIANG itu, di bawah terik matahari yang menyengat,
seorang pria tegak berdiri di depan kedutaan besar
Cina, di Mega Kuningan No.2, Jakarta. Tangan kirinya
tak lepas dari mic pengeras suara. Di belakangnya,
sebuah spanduk bertuliskan, "Kami Mendukung 18 Juta
Orang Keluar dari PKC," terpampang dan jelas dibaca.
Beberapa orang pejalan kaki melihatnya dan
bertanya-tanya.

Tak peduli, pria berkacamata tersebut terus membaca
kertas digenggamannya. Jia Jia, begitulah pria 55
tahun ini biasa disapa. Dirinya tak sedang mencari
perhatian di umurnya yang mulai senja. "Saya hanya
ingin rakyat China hidup dalam demokrasi" kata Jia
Jia,Kamis (15/2).

Pembacaan surat terbuka di depan kedubes Cina di
Indonesia bukanlah yang pertama. Cita-cita yang
mungkin untuk sebagian besar orang cukup sederhana itu
telah membuat Jia Jia kehilangan segalanya.

Tak mudah memang memperjuangkan sebuah cita-cita,
terutama jika harus berhadapan dengan kekuasaan. Tapi
bagaimanapun pahitnya, sebuah perjuangan membutuhkan
seorang pahlawan. Pahitnya sebuah perjuangan itulah
yang kini dirasakan Jia-Jia.

Jia Jia bukanlah siapa-siapa kini, terutama di
Indonesia. Di bawah bantuan PBB, pria setengah baya
ini merasakan kerasnya perjuangan saat diusir ke sana
ke mari, ke berbagai negara. Kini, di Indonesia, dia
berusaha mendapatkan suaka politik. Dibantu UNHCR,
organisasi PBB yang bergerak di urusan pengungsi, Jia
Jia bisa sedikit bernafas lega.

Ditemui Tribun, pria yang sebelumnya menjabat sebagai
Sekretaris Jendral Perkumpulan Pakar-pakar Iptek
Provinsi Shanxi, Cina, ini tampak sederhana. Kemeja
pendek berwarna putih, dan tas berisi kertas-
kertas terus didekapnya. Tak sendirian, Jia jia
ditemani seorang reporter Epoch Time Hongkong dan
temannya asal Jakarta yang menerjemahkan setiap
kata-katanya. Tak terlihat jika pria ini menjadi
target besar partai tunggal yang menguasai Cina yakni
PKC (Partai Komunis Cina).

Semuanya dimulai dari Oktober 2006 yang lalu. Jia Jia
membulatkan tekad untuk keluar dari negara yang telah
menghidupinya. Pria berkulit putih ini merasa inilah
waktu yang tepat untuk memberitahukan pada dunia apa
yang sebetulnya terjadi di negaranya, Cina.

Meski di permukaan Cina tampak baik-baik saja, menurut
Jia Jia ada banyak tekanan yang harus dirasakan
masyarakatnya di bawah rezim komunis. Reformasi
ekonomi yang terus didengung-dengungkan selama dua
puluh tahunan hanya di bibir saja. Yang ada justru
kemerosotan dan kekacauan sosial yang belum pernah ada
sebelumnya. Kelaparan, tekanan dan penyiksaan dilihat
terus menerus tak berkesudahan.

Setelah begitu banyak orang terbunuh dan disiksa
karena tak sepaham,kini PKC mencari para anggota untuk
melanggengkan kekuasaan. "Tak hanya rakyat Cina di
luar partai tunggal itu yang sadar jika PKC sudah
tidak mampu hidup dengan paham komunisnya, tetapi
kader-kadernya juga yang menginginkan keluar," ungkap
Jia Jia.

Banyaknya dukungan itulah, menguatkan tekat Jia Jia
untuk melangkah meski bukan menjadi yang pertama.
Apalagi diyakininya, rezim di negaranya yang komunis
hanya menunggu kehancuran saja karena tak
didukung rakyatnya. Kalaupun masih bertahan, itu
karena teror tak berkesudahan yang ditebarkan oleh PKC
didalam masyarakat dan anggotanya sendiri yang ingin
keluar.

"Karena itu saya memutuskan keluar, di sini saya bisa
memberitahukan pada dunia apa yang terjadi sebetulnya
di Cina," ungkap Jia Jia.Tentu saja untuk
melakukannya, Jia Jia tak mungkin berada di negaranya.
"Kalau tertangkap saya dibunuh," imbuhnya.

Perjuanganya untuk melepaskan diri dari belenggu
partai komunis negaranya dan juga memberitahukan pada
dunia apa yang sebetulnya terjadi di negaranya harus
dibayar mahal pria satu putra ini. Kini, Jia Jia harus
memulai hari-hari pelariannya di berbagai negara
Asia.Bagi Jia Jia sudah saatnya masyarakat Cina hidup
tanpa terus dibayangi kekerasan, damai, transparan,
dan hidup dalam suasana demokrasi. -
Bersambung (JBP/atik Lestari)

Makanan Sehari-hari Kulit Pohon
Hari-hari Jia Jia dalam Pelarian (2)

JIA JIA terlahir dari keluarga berada. Kakeknya
seorang pengusaha kaintenun yang kaya raya. Ayahnya
bekerja di lapangan terbang sebagai seorang tentara.
Tetapi revolusi Cina di tahun 1949 mengubah semua
kehidupan keluarga Jia Jia hingga keturunannya. Saat
itulah mimpi buruk keluarga dimulai.

Pengusaha, tentara, pejabat lama dan profesi yang
berkaitan dengan kapitalisme oleh negara Cina komunis
dianggap membahayakan. "Keluarga kami dianggap
masyarakat lama yang berkaitan dengan Ciang Kaisyek,"
cerita Jia Jia. Semua yang dianggap masyarakat lama,
dibunuh tanpa pandang bulu. Pemerintah komunis tak
membiarkan seorangpun lolos dari sana.

Yang dianggap normal kala itu adalah mereka yang
berprofesi sebagai anggota partai dan petani. Tetapi
petani juga banyak yang harus hidup menderita karena
pemerintah komunis dengan sengaja mencetak kemiskinan
dan kelaparan di masyarakatnya.

Sementara mereka yang berdekatan dengan masyarakat
kaum revolusioner pemerintah lama atau disebut dengan
kaum kwo mitang diusir ke pinggir kota. Kota kecil
penuh pegunungan Shanxi itulah yang mengawali
penderitaan hidup Jia Jia kala kecil.

Petani yang tadinya produktif bercocok tanam, mulai
dilarang.Pemerintah komunis sengaja tak mengijinkan
petani bercocok tanam agar bisa didoktrin secara
politik dan bergantung pada pemerintah. Akibatnya
kelaparan terjadi di mana-mana. Orang-orang
pemerintahlah yang mengendalikan siapa yang pantas
makan dan tidak.

Kala itu setiap orang normal mendapat jatah 80 kg padi
untuk satu orang selama satu tahun. "Setiap orang
makan apa saja yang bisa dimakan, dari kulit pohon pun
dimakan," cerita Jia Jia. Teror kelaparan dan
kemiskinan inilah yang ditebarkan pemerintah untuk
menakut-nakuti rakyat supaya tunduk.

Kehidupan masyarakat normal yang dipenuhi ketakutan
dan kelaparan dirasakan. Tetapi kehidupan keluarga Jia
Jia dan masyarakat lain yang dianggap "orang lama"
lebih menyedihkan. Setiap hari hanya menjadi
hari-hari duka bagi setiap anggota keluarganya.

"Saya besar di jalanan," ungkapnya sambil menerawang.
Tak peduli dirinya dengan kakak ataupun adiknya karena
setiap kali membuka mata hanya mencari sesuap nasi lah
yang dipikirkan untuk menyambung nyawa.
"Kami kecil setiap hari harus hidup di jalanan dan
mencari makan lewat merampas dan mencuri makanan,"
cerita Jia Jia.

Sang ayah dianggap pemerintah kala itu sebagai
ancaman. "Kami jarang sekali bertemu, yang ada dirinya
diambil pemerintah dan dalam dua minggu lebih
dipulangkan. Kemudian dikembalikan hingga akhirnya dia
gila," kata Jia Jia. Bukan rahasia menurut Jia Jia
jika masyarakat lama dihabisi pemerintah komunis
dengan siksaan.

Mereka diambil dari rumahnya dan dikembalikan. Dalam
penculikan sementara mereka diteror dan disiksa terus
menerus. "Hanya ada tiga jalan bagi orang-orang lama.
Mereka harus bunuh diri di rumahnya, menjadi gila atau
ditembak mati," cerita Jia Jia. Kalaupun bunuh diri
harus dilakukan di rumah supaya terlihat mayatnya.
"Kalau tidak nanti mereka dianggap melarikan diri ke
Taiwan. Dan itu akan berakibat buruk
pada anggota keluarga lainnya," ceritanya.

Setelah sekian lama disiksa dan beberapa kali
dikembalikan pada keluarganya, ayahnya menjadi gila.
"Setiap hari kami hidup dalam ketakutan," kata Jia Jia
lirih. Bertahun-tahun hingga usianya mencapai
17 tahun. Di umur itulah Jia Jia merasa kenyang
bergelut dengan rasa lapar.

Tekatnya makin bulat untuk bertahan hidup. Walapun
hidup dalam ketakutan dan rasa lapar, Jia Jia
beruntung masih bisa menikmati bangku pendidikan. Tak
sempurna memang, Tapi laki-laki berkacamata ini mulai
mendapatkan jalan keluar dari penderitaan. -
(Bersambung)
(JBP/atik lestari/Tribun Batam)

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 


         


    Hendra Bujang
Mobile  I  : +62 815-8668-9098
  Mobile II  : +62 856 190 9109
  Mobile III : +62 818 0801 0891 
   



 
---------------------------------
Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke