Mas Daun,

Saya tetap TIDAK MAU memandang itu sebagai ciri khas kebudayaan
bangsa Indonesia.
Saya lebih suka mengambil BASIS yang lebih sempit. Yaitu basis
INDIVIDU dan basis VALUE atau NILAI.  Hanya dapat dikatakan
bahwa semakin banyak individu dari berbagai etnik di Indonesia yang
tidak lagi mengadopsi "nilai kejujuran"dalam berperilaku di dalam
masyarakat. Karena fenomen itu terjadi secara lintas daerah dan
lintas etnik tidaklah serta merta dapat diakui sebagai ciri khas Indonesia
karena masyarakat tetangga juga memiliki sejumlah manusia yang
juga tidak mengadopsi "nilai kejujuran" dalam berhubungan dengan 
(menjadi rekanan) pemerintah (dan swasta) yang menyangkut uang.

Pertanyaannya ialah MENGAPA semakin banyak warga Indonesia dari
berbagai etnik dan daerah melakukan perilaku menyimpang yang
namanya korupsi? Dan mengapa sifatnya menjadi demikian MERATA?
Hal itu bagi saya merupakan dampak daripada KEMISKINAN
STRUKTURAL di seluruh negeri ini yang memaksa orang berubah
PARADIGMA HIDUP.  Perubahan itu ialah perubahan paradigma
yang berbasis MORAL  menjadi paradigma baru yang berpegang
pada prinsip baru yang berbasis SURVIVAL. 

Saya pernah menulis semboyan hukum yang berbunyi: 
"Necessitas despicit legem" yang artinya "Kemendesakan 
mengabaikan hukum" termasuk makna semboyan moral"Necessitas
despicit morem" yang artinya "Kemendesakan mengabaikan moral".
Dalam kemendesakan akibat TEKANAN HIDUP yang menjadi sedemikian
beratnya akhir-akhir ini maka manusia hanya bepikir soal survival yaitu 
bagaimana caranya supaya TETAP HIDUPdan tidak mati konyol
karena itu untuk sementara pertimbangan moral DIPINGGIRKAN
atau dinomor duakan - bisa-bisa dinomor urut terakhir.

Maka fenomen itu merupakan GEJALA UMUM kemanusiaan di manapun
atau di negara manapun bilamana kemiskinan struktural masih merupakan
REALITAS.  Korea Selatan dan Hongkong, apalagi RRC sekitar 60-an
tahun yang lalu JUGA merupakan negara di mana rakyatnya banyak yang
korupsi. 
Tetapi mereka tidak pernah menyebut negaranya memiliki budaya korupsi. 
Kita ini bansga yang suka menista bangsa sendiri. Sudah terpuruk dihina 
pula
oleh publik sendiri termasuk oleh pemimpinnya. Sungguh menyedihkan !


Mang Iyus


        Re: [KomPati] Fwd: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Reformasi Budaya
        Masih
        
<http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/19783;_ylc=X3oDMTJydGw0b3JqBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzk3NjQwNjcEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MzI5NzI5BG1zZ0lkAzE5NzgzBHNlYwNkbXNnBHNsawN2bXNnBHN0aW1lAzExNzI5MjcyNTU->



          Posted by: "Daun" [EMAIL PROTECTED]
          <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
            bluedowney <http://profiles.yahoo.com/bluedowney>


            Fri Mar 2, 2007 9:46 am (PST)

    Lho, bukankah banyak telah disebut bahwa Korupsi di Indonesia ini
    telah "membudaya"?
    Jadi, menurut saya, sedikit banyak, negara yang kita cintai ini
    memang memiliki budaya, lho... Ini kan juga malah terlontar dari
    beberapa negarawan kita yang tidak perlu saya sebutkan satu persatu.

    -Daun-
    Tingkah laku kebiasaan dan kepercayaan, juga ternyata membentuk budaya.


    Mang Iyus <[EMAIL PROTECTED] <mailto:juswan%40cbn.net.id>> wrote:
    Budaya Indonesia itu tidak ada. Yang ada hanya budaya etnik. Budaya
    Jawa, Sunda, madura, Batak, Ambon, Padang, Banjar, Dayak, Papua dsb.
    Kesenian juga begitu. Budaya nasional seperti nilai-nilai Pancasila
    masih belum dapat apresiasi setinggi budaya etnik.

    Mang Iyus

Kirim email ke