http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/05/ln/3361544.htm
PM Abe Pertahankan Permintaan Maaf Jepang 


Tokyo, Minggu - Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe akan mempertahankan 
permintaan maaf pemerintahnya karena memaksa perempuan-perempuan Asia menjadi 
budak seks bagi pasukan Jepang selama Perang Dunia II, kata seorang 
pembantunya, Minggu (4/3). 

Komentar itu muncul setelah terjadi protes keras negara-negara Asia atas 
komentar Abe baru-baru ini yang menyangkal adanya paksaan. "Perdana Menteri 
telah mengatakan bahwa paksaan dapat didefinisikan dalam berbagai cara, secara 
luas atau secara sempit, tetapi bahwa dia akan tetap berpegang pada pernyataan 
Kono," kata Hiroshige Seko, penasihat khusus Abe untuk urusan humas, di sebuah 
acara TV Asahi. "Tidak ada yang berubah dari itu," katanya. 

Seko merujuk pada permintaan maaf tahun 1993-yang disebut "pernyataan Kono" 
karena dikeluarkan oleh Kepala Sekretaris kabinet waktu itu, Yahei Kono-yang 
ditujukan bagi korban perbudakan seks. 

Pernyataan Kono tahun 1993 itu juga mengakui banyak perempuan dipaksa melakukan 
prostitusi dan militer memainkan peran dalam mengelola rumah- rumah bordil 
semasa perang. 

"Dia (Abe) tidak menyangkal pernyataan itu," kata Seko. Dia tidak mencoba untuk 
menjelaskan ketidakcocokan antara pernyataan itu dan sangkalan Abe bahwa ada 
paksaan. 

Abe telah berpegang pada permintaan maaf itu sejak menjadi perdana menteri 
bulan September dan telah berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan China dan 
Korea Selatan, yang menjadi tegang oleh kunjungan-kunjungan pendahulunya ke 
sebuah kuil Tokyo yang menghormati korban-korban perang, termasuk 
pemimpin-pemimpin Jepang yang telah dinyatakan sebagai penjahat perang. 

Namun, tindakan Abe menimbulkan keberangan internasional pekan lalu ketika dia 
mempertanyakan derajat keterlibatan militer dalam rumah-rumah bordil saat 
perang dan mengatakan tak ada bukti para perempuan itu dipaksa memasuki 
bordil-bordil militer di seluruh Asia itu. 

"Tidak ada bukti yang mendukung bahwa ada paksaan," kata Abe kepada wartawan, 
Kamis. 

Komentarnya itu menimbulkan kemarahan di Filipina, Korea Selatan, Korea Utara, 
dan China, negara-negara di mana terdapat korban budak seks itu. Di Indonesia, 
Taiwan, dan negara-negara Asia lainnya juga terdapat perempuan-perempuan yang 
menjadi korban perempuan penghibur, yang menurut istilah Jepang adalah jugun 
ianfu. 

Hari Sabtu, Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mengeluarkan pernyataan yang 
mengatakan penyangkalan Abe mengenai paksaan pada para perempuan itu perlu 
disesalkan. 

Didukung saksi 

Para sejarawan mengatakan, sekitar 200.000 perempuan melayani di tempat-tempat 
bordil militer Jepang di seluruh Asia dalam rentang tahun 1930-an dan 1940-an. 
Cerita mengenai penyiksaan oleh militer telah didukung oleh saksi, bahkan 
mantan serdadu Jepang. 

Namun, cendekiawan dan politisi terkemuka Jepang secara rutin menyangkal 
keterlibatan langsung militer atau penggunaan kekerasan dalam mengumpulkan para 
perempuan itu. 

Komentar Abe itu terjadi sementara sekelompok anggota parlemen dari partai 
berkuasa Jepang bersiap mendesak pemerintah memperlunak bagian-bagian dari 
pernyataan permintaan maaf Kono. 

Permintaan maaf itu tidak memenuhi tuntutan para mantan jugun ianfu agar itu 
disahkan oleh parlemen. (Reuters/AP/DI) 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke