Bimbel itu bisnis, Boss. Dia ngajarin murid jawab soal, bukan menyuntikkan ilmu ke murid. Buktinya, programnya sulapan. Waktunya singkat dan bayarnya mahal. Kalo proses belajar yang betul mana bisa crash program gitu? Jadi, pengalaman Anda sebagai guru bimbel tak dapat dipakai untuk bicara tentang guru PNS. Coba lihat paragraf kedua posting Anda ini: Anda yakin 1000% bahwa tukang becak mau jadi guru. WALAUPUN HANYA SEBATAS SAMPINGAN. Anda mengerti kan implikasi tulisan Anda sendiri (yang saya kasih kapital itu)? Saat ini, banyak guru PNS pun ya seperti itu. Jadi, betulkan kalo saya bilang tukang becak tak ada yang mau jadi guru (dalam artian 'full-time" seperti dikatakan Pak Satria itu)? Sekarang tolong dijelaskan kepada saya, berdasarkan fakta di atas, yang kasar itu situ apa sini? Jangan-jangan kita berdua sami mawon. manneke Didik Muharam <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Salam....
Kayaknya agak kasar kali ya kalo dibilang tukang becak aja gak akan mau jadi guru. Saya yakin 1000% pasti masih ada orang yang mau jadi guru. Walaupun hanya sebatas sampingan. Contoh simpelnya mungkin saya, biar saya sudah bekerja tapi tetep merasa punya tanggung jawab untuk sharing ilmu saya ke murid. Kalau ada kesempatan & waktu saya mau banget tuh jadi guru lagi. Satu yang pasti... guru itu pekerjaan mulia yang punya tanggung jawab moral besar. Sekedar sharing.... Atasan saya waktu bekerja di bimbel memberikan harga untuk try out ujian jauh lebih rendah dari bimbel lain. Terlepas dari masalah strategi marketing, atasan saya bilang biar semua murid bisa ikut. Thanks....
