kalo bahasa kita mau dihargain sama bangsa lain ya memang harus begitu caranya. Contohnya Jepang, mereka kan bangga banget sama bahasa mereka. Jadi sekarang kan banyak tuh orang2 bule yang belajar bahasa Jepang. Tapi memang Jepang punya nilai tawar sih ya. Klo Indonesia apa yang bisa jadi nilai tawar? Pemerintah selalu tunduk dengan pemerintahan luar. Conto dong Malaysia dengan Mahatirnya, ga usah jauh2 deh, contoh aja The FOunding Father, Malaysia hanya punya 'Soekarno kecil' sedangkan Indonesia punya Soekarno. Saya yakin pasti masih ada Soekarno lain yang di negri kita ini..
Kind Regards, Jc ----- Original Message ----- From: john simon To: [email protected] Sent: Tuesday, March 06, 2007 3:18 PM Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] diskusi yuk... Punten, "Bahasa menunjukkan Bangsa". Setahu saya Pak Harto dahulu selalu memakai bahasa Indonesia baik di dalam maupun di luar negri. Kalau orang Perancis memang terkenal ogah memakai bahasa Inggris, kecuali terpaksa, misalnya Arsene Wenger di Arsenal FC, hehe.. Tres bien merci. ----- Original Message ---- From: Yuliati Soebeno <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Monday, March 5, 2007 11:47:12 PM Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] diskusi yuk... Hee...hee... hee..barangkali Pak KK akan jawab begini, mas Steven:" Je suis d'accord avec votre avis, mon ami". Au revoir, (jabat erat - KK) - Apa malahan pak KK mau jawab pakai bahasa Sunda ya? Ya IMHO, kalau Presiden Indonesia sebisa-bisanya selalu memakai bahasa Indonesia, dan jika harus berpidato diluar negri, mungkin harus membawa "interpreter" (penterjemah langsung), supaya orang yang hadir bisa mengerti apa yang dibicarakan. Juga kalau Presiden menerima tamu dari luar negri, semestinya bicara dalam bahasa Indonesia saja. A bientot, Yuli [Non-text portions of this message have been removed]
