Rekan Jachja dan Rekans, Ikut nimbrung juga ya, Benar sekali pendapat saudara Jachya, bahwa semua orang berhak menikmati apa saja yang sudah dicapai. Namun sambungan kalimatnya agak mengganjal bagi saya, " terlepas dari bagaimana cara menikmatinya."
Menurut saya, bahwa setiap orang MEMILIKI HAK untuk menikmati apa saja yang sudah dicapai, tidak ada yang menyangkalnya. Namun ketika HAK itu mau diwujudkan, harus juga melihat dan mempertimbangkan HAK ORANG LAIN. Nah konvoi PARA Pemilik Harley ini sebagai bentuk pemenuhan HAK mereka untuk MENIKMATI apa yang telah mereka capai, adalah SAH-SAH saja. Itu HAK mereka. Namun, ketika pemenuhan HAK mereka itu terasa menggangu HAK orang lain pemenuhan hak ini lalu dipertanyakan. Apakah konvoi ini dirasa lebih baik, lebih bijak dari pada melakukan aktivitas lainnya? Mengapa ada sebagian orang yang mendapat keistimewakan di jalan raya karena memiliki kekayaan (HD juga simbol kekayaan) bahkan dikawal polisi segala? Sementara para pemakai jalan lainnya harus minggir untuk memberi jalan pada mereka, bahkan harus menerima kemacetan gara-gara konvoi itu, atau harus merasa pekak telinganya karena bising? Belum lagi menyangkut masalah perasaan, sementara semakin banyak saudara kita makan nasi aking, sementara banyak ibu-ibu yang antre beli beras, pada saat yang sama ada sebagian orang yang berkonvoi ria menunjukkan kekayaan mereka. Di mana rasa persaudaraan kita? Perasaan ini yang menurut saya justru ingin diwakili oleh Saudara Perpi Thomas dan mbak Yuliati. Hal kedua, menyangkut "kesombongan" dan "arogansi" ibu-ibu RT yang antre beli beras dan masuk TV. Saya mencoba memposisikan diri sebagai saudara kita yang makan nasi aking, dan rasanya juga sulit melihat bahwa ibu-ibu RT itu sedang menunjukkan kesombongannya atau arogansinya. Masuk TV karena antre beli beras, apa yang bisa disombongkan dari situ? Mau sombong karena masih punya kemampuan (uang) untuk beli beras? Apakah masuk TV itu kemauan mereka sendiri? Lalu apakah mereka merasa senang bahwa mereka bisa masuk TV karena antre beras? Kembali kemasalah konvoi pemilik HD. Tak ada yang salah pada konvoi tersebut, KALAU konvoi ini TIDAK MENGGANGU HAK orang lain. Mohon pencerahannya. Salam Mulyadi --- In [email protected], "Jachja" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kalau boleh sedikit komentar, > Semua orang berhak menikmati apa yang sudah dicapai, terlepas dari bagaimana cara menikmatinya. > dan menurut saya, Saudara Perpi Thomas dan mbak Yuliati anda berdua sangat otoriter dan memaksakan semua ukuran menurut sudut pandang anda, sementara kalau dilihat dari sudut pandang saudara saya yang cuma bisa makan nasi aking dan kemana mana berjalan kaki, ibu ibu RT yang antre juga sombong dan arogan karena mereka masih punya kemampuan untuk antre beli dan masuk TV. > > BTW saya tidak punya motor Harley, tapi saya menikmati hidup saya dengan apa yang saya miliki, dan tidak memaki maki orang yang memiliki apa yang saya tidak miliki. > >
