ikutan yahh,,
sebenarnya, temen2 semua udah kena hegemoni acaranya mas tukul ini..
ketika sebuah acara sampai diperbincangkan, dan muncul pula banyak argumen
pro dan kontra, artinya banyak yang menonton, dan berarti acaranya sukses..
bukan begitu?
yaa,, saya tau bukan di situ letak masalahnya.. tapi lebih kepada isi dan
tema dari acara empat mata itu sendiri.. bukan, kalo menurut saya,,acara ini
bukanlah ikon penindasan, atau malah dikatakan sebagai "wujud sifat reaktif
masyarakat indonesia".. sama sekali bukan!
tanpa bermaksud membela, saya hanya berusaha memaparkan kenyataan yang ada..
tukul dengan kepolosannya, dan tanpa pembicaraan yang dibuat-buat alias apa
adanya, berusaha mengangkat tema yang cukup ringan namun serius.. dan itu patut
diacungi jempol.. tidak banyak acara yang bisa mengemas tema cukup berat, dan
menyajikannya dengan cukup ringan.. plus komedi pula.. paling2 tandingannya
hanyalah republik mimpi..
jadi, tidak ada alasan untuk menyatakan bahwa acara ini adalah ikon
penindasan.. tidak ada yang tertindas,, dan tidak ada yang menindas.. inilah
saluran ekspresi yang jujur, dan terbuka,, mengajak kita untuk kembali ke awal,
tanpa sikap pura2,,polos seperti mas tukul.. sampai puaass...
salam
armen
mahasiswa unpad bandung
Patrick <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Nimbrung yahh,
Menyoal Program Acara Empat Mata bersama Thukul Arwana, saya rasa
tulisan Garin Nugroho yg lalu bukan bermaksud utk "membela" acara
Thukul Arwana itu. Menurut hemat saya, Pak Garin hanya memaparkan
fenomena yg menjadi ruang lingkup acara itu. Jujur saja, saya suka
menonton acara Mas Thukul itu, walaupun tidak rutin menontonnya. Terus
terang, saya tidak mencoba mencari alasan kontemplatif atau filosofis
atas fenomena yg menjadi ruang lingkup acara Empat Mata. Tp, saya
sepakat dgn opini Pak Garin Nugroho bahwa acara Empat Mata telah
menjadi semacam dunia singgah bagi penontonnya yg penat akan rutinitas
& rentetan musibah di negeri ini.
Dan, saya juga sangat sepakat bahwa Empat Mata menampilkan wajah
budaya populer masyarakat Indonesia dewasa ini. Saya kutip dari
tulisan Garin Nugroho, "Sebuah dunia campur aduk, dari profan hingga
kasar, yang tidak perlu tetapi diperlukan, dipuja dan diolok,
metropopolis dan ndeso, penuh senyum dan brutal, religius dan munafik,
terbuka dan fanatik"...Bukankah kita bagian dari itu semua? Kenapa
harus menolak? Apakah rasa malu dapat menjadi dasar penolakan itu?
Kalau kita malu, bagaimana bisa kita mengubahnya? Jadi, Empat Mata
bersama Thukul Arwana?? Kenapa tidak?!!!
Salam hangat,
Patrick Hutapea
Mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasional
Fisip - Universitas Katolik Parahyangan Bandung