Dear Pak I. Wibowo,
Saya setuju banget dengan pendapat anda tentang "puja-puji" untuk Pak Widjojo
memang sebaiknya tidak terlalu digembar gemborkan. Apalagi kalau kita sempat
mengikuti perkembangan ekonomi secara komprehensip dan sekaligus berkesemapatan
mengunjungi Malaysia,China dan Korea Selatan. Apa yang diklim sebagai sukses
pembangunan ekonomi Indonesia selama 30 tahun hanya menghasilkan Krisis Ekonomi
yang paling menyakitkan dibandingkan negara negara Asia Tenggara dan Asia Timur
lainnya. Kalau mereka dan kita mau jujur Ekonomi Orba adalah more Suhartonomic
rather than Widjojonomics. Dalam berbagai pertemuan dengan Pak Sadli sebagai
senior ISEI beliau selalu mengatakan bahwa yang namanya pemikiran ekonomi
Widjojo dan kawan kawan yang mendapat atribut "The Berkeley Mafia" itu benar
benar dipakai hanya dari awal pemerintahan Suharto sampai akhir Pelita I. Tidak
sampai sepuluh tahun! Sambil berkelakar Sadli mengatakan bahwa Suharto sudah
merasa lebih pandai dari para ekonom yang
selama itu membantu dia.Meskipun kemudian Widjojo masih mendapat kantor dari
pemerintah dan jabatan resminya adalah " Penasehat Presiden untuk bidang
perekonomian". Dan kitapun tahu bagaimana sebenarnya para presiden di Indonesia
sampai era SBY ini mendayagunakan para penasehat mereka.Salam Tjuk Kasturi
Sukiadi
"I. Wibowo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
FPK wan
Puja-puji untuk Widjojo yang ditulis di bawah ini kiranya "comes at the wrong
time and at the wrong place." Kalau ini ditulis pada saat Orde Baru sedang di
puncak kejayaannya, sungguh pada tempatnya. Sesudah ekonomi Indonesia ambruk
pada 1997, orang sadar bahwa tim ekonomi Orde Baru membuat serangkaian
kesalahan amat fatal. Secara sederhana saja, orang bertanya: mengapa bangunan
ekonomi Orde Baru sedemikian gampang runtuh setelah 30 tahun? Bandingkan dengan
Cina, yang tetap kokoh, juga ketika mengalami badai pada tahun 1997? Atau,
bandingkan dengan Malaysia? Pasti ada salah, dan kesalahan besar itu dibuat
oleh arsiteknya. Mereka biasanya berkilah bahwa memasuki tahun 1990-an, Suharto
sudah tidak mau mendengarkan nasehat Widjojo. Lo, kalau begitu rumus ekonomi
kalah dengan rumus politik? Dengan kata lain, bukan ekonomi-nya Widjojo, tapi
politiknya Suharto yang hebat. Either way, kehebatan Widjojo (dan Berkeley
Mafia-nya!) patut dipersoalkan, puja-puji baginya patut ditunda.
Strategi pembangunan ekonomi Indonesia sekarang jangan menoleh ke masa lampau
yang sudah rusak itu.
Salam
iww