> Lha wong pemerintah enggan untuk mengeluarkan dana yang cukup 
untuk mensubsidi pendidikan. Kalaupun ada dikeluarkan paling-paling 
sedikit dimana lebih banyak yang masuk kantong! bagaimana sumber 
daya manusia bangsa indonesia akan maju dan berkembang. Itu didaerah 
perkotaan belum didaerah-daerah terpencil atau dipedesaan. Bisa 
diamati didaerah saya masih banyak yang ndak bisa mengenyam 
pendidikan. Juga untuk setiap sekolahan dapat memberikan keringanan 
bagi siswa yang kurang mampu. 

> Presiden: Galang Dana
> http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/13/utama/3377994.htm
> ===================
> 
> Jakarta, Kompas - Sejumlah warga negara kurang mampu menyatakan 
> pesimistis bisa memberikan bekal pendidikan kepada anak-anak 
mereka, 
> minimal hingga jenjang SLTA. Umumnya, kendala yang mereka hadapi 
> adalah belitan kemiskinan sehingga prioritas pendidikan tergeser 
oleh 
> kebutuhan hidup sehari-hari. 
> 
> Dari perbincangan Kompas dengan sejumlah warga miskin di Jakarta, 
> Senin (12/3), umumnya warga menyadari arti penting pendidikan 
untuk 
> bisa memperbaiki hidup keluarga yang sampai saat ini dibelit 
> kemiskinan. 
> 
> Siti (44), warga Jatinegara, Jakarta Timur, mengatakan hanya 
sanggup 
> membiayai anaknya hingga tamat SLTA. Ibu empat anak yang 
mengandalkan 
> pendapatan suaminya sebagai sopir angkutan umum ini bisa membiayai 
> anaknya sekolah berkat bantuan seorang dermawan. 
> 
> Bagi Siti, meski keluarganya miskin, mereka berharap anak-anak 
bisa 
> sekolah sampai SLTA. Namun, dalam perjalanan waktu, menyekolahkan 
> anak di kota besar dengan pendapatan cuma Rp 30.000-Rp 50.000 per 
> hari sungguh sulit. 
> 
> Anaknya, Ade Putra (17), kini duduk di kelas III SLTA swasta di 
> Jakarta, pernah disuruh tidak bersekolah karena tidak bisa 
membayar 
> uang sekolah dan uang ujian nasional. 
> 
> Adapun Ari (15), anak ketiga Siti, terpaksa pernah putus sekolah 
saat 
> kelas I SLTP karena tidak bisa melunasi uang pangkal. Ketika Ari 
> tahun ini bisa melanjutkan kembali sekolah, lagi-lagi pembayaran 
uang 
> sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) tersendat dan bocah laki-laki 
> itu pernah tidak boleh masuk sekolah. Padahal, pemerintah memiliki 
> program nasional Wajib Belajar Sembilan Tahun yang pada tahun 2008 
> harus mencapai target 95 persen. 
> 
> "Saya dan suami sudah berjuang sebisanya untuk membiayai sekolah 
anak-
> anak, tetapi memang kondisi sekarang tambah sulit. Biarpun malu, 
saya 
> akhirnya menerima bantuan orang baik yang mau memberi uang sekolah 
> jika saya sedang terdesak tidak punya uang," ujar perempuan asal 
> Indramayu, Jawa Barat, ini. 
> 
> Iyah (30), pedagang makanan asal Jawa Tengah, mengatakan, anak 
> perempuan tertuanya mulai tahun ini terpaksa putus sekolah di 
kelas 
> II SLTP. Sebab, ketiga adiknya di kampung yang masih duduk di 
bangku 
> SD masih butuh biaya sekolah. 
> 
> Sejumlah pegawai (negeri sipil) golongan rendah pun merasa tak 
> sanggup menyekolahkan anak mereka, apalagi hingga bangku kuliah. 
Amat 
> (45), petugas hansip di sebuah kantor kelurahan di Jakarta Timur, 
> misalnya, dengan mengutang sana-sini bisa menyekolahkan anak 
> pertamanya hingga tamat sekolah menengah kejuruan (SMK) setingkat 
> SMA. Namun, anak lelakinya menganggur karena sulit mendapatkan 
kerja 
> hanya berbekal ijazah SMK. Amat dengan susah payah mencari biaya 
> untuk dua anaknya yang lain yang duduk di SMP dan SMA. 
> 
> Hasil Susenas 
> 
> Ketidakmampuan masyarakat miskin menyekolahkan anak mereka ke 
jenjang 
> lebih tinggi sejalan dengan hasil kajian Direktorat Agama dan 
> Pendidikan, Deputi Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan, 
Badan 
> Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tahun 2006. 
> 
> Dari hasil kajian data sekunder Survei Sosial Ekonomi Nasional 
> (Susenas) tahun 1993-2004 di enam provinsi secara acak terlihat 
> kesenjangan taraf pendidikan antara kelompok masyarakat miskin dan 
> kaya masih tinggi. 
> 
> Berdasarkan perbandingan kelompok pengeluaran keluarga dengan 
jenjang 
> pendidikan, terlihat untuk tingkat SD angka partisipasi sekolah 
> antara 20 persen kelompok masyarakat termiskin dan terkaya tidak 
> terlihat perbedaan yang tinggi, yakni 92,71 dan 93,19 persen. 
> 
> Kesenjangan pendidikan mulai terlihat di SLTP, yakni 60,50 dan 
68,92 
> persen. Kesenjangan ini semakin tinggi di SLTA, yakni 37,16 dan 
46,69 
> persen. 
> 
> Adapun secara nasional, rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 
tahun 
> ke atas untuk masyarakat Indonesia baru 7,24 persen. Di kelompok 
> masyarakat miskin rata-rata hanya 5,43 persen, sedangkan yang kaya 
> 9,78 persen. Padahal, lama rata-rata pendidikan itu terkait erat 
> dengan peningkatan indikator pembangunan lainnya, seperti 
kesehatan 
> dan ekonomi. 
> 
> Janji Presiden 
> 
> Di tempat terpisah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin, 
kepada 
> pers menegaskan, sesuai amanat UUD 1945, semua warga negara harus 
> mendapatkan layanan pendidikan sebagai salah satu hak dasar. Oleh 
> karena itu, pembiayaan pendidikan terhadap warga yang tidak mampu 
> perlu diupayakan dengan berbagai cara, termasuk menggalang dana 
dari 
> pihak-pihak yang mempunyai kemampuan berlebih. 
> 
> Di Gedung Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, seusai rapat 
> koordinasi dengan Mendiknas Bambang Sudibyo serta sejumlah menteri 
> terkait, Presiden mengapresiasi sekaligus menekankan penjabaran 
> rencana strategis pendidikan nasional yang menitikberatkan pada 
> perluasan akses pendidikan, perluasan akses, peningkatan mutu dan 
> relevansi, serta tata kelola yang akuntabel. Rapat terutama 
membahas 
> prioritas program pendidikan nasional tahun 2007-2009. 
> 
> Rapat juga dihadiri Wapres Jusuf Kalla, Menko Kesra Aburizal 
Bakrie, 
> Menko Perekonomian Boediono, Menteri Keuangan Sri Mulyani 
Indrawati, 
> Menteri Agama Maftuh Basyuni, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, 
> Menteri Dalam Negeri Moh Ma'ruf, serta Menneg Perencanaan 
Pembangunan 
> Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta. 
> 
> Rapat merupakan bagian dari rangkaian rapat koordinasi di 15 
> departemen yang dimulai dari Departemen Pertanian, Januari lalu. 
> (NAR/INU/ELN)
>


Kirim email ke