Apa mungkin memang masyarakat kita yang sebagian besar
miskin pendidikan, miskin ekonomi, banyak stress dalam
hidup memang seleranya berubah ingin segala sesuatu yg
instan, nda pake mikir susah2, nda mau diajar &
belajar dlm segala sesuatu?

Karena saya liat walopun Indonesia sendiri tidak
memproduksi sinetron, tapi impor-nya (utk TV) juga
begitu2 saja, sama saja dgn memproduksi sendiri/beli
sinetron dari negara lain.

Variasi lain selain sinetron kita kalo nda film India
ya Telenovela Amerika Latin, film Thailand dll yang
intinya variasi ceritanya sebetulnya amat mudah
ditebak & sebagian besar ceritanya ttg percintaan ...
& cinderella dlm versi modern.

Jadi menurut saya kalo pola pikir orang Indonesia blm
diubah, percuma saja. Karena pasti perilakunya tidak
akan berubah. 

--- chairil sanie djailany <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Sinetron adalah merupakan produk unggulan tayangan
> televisi di negara kita (mungkin ada rekan yang tahu
> untuk  negara lain apakah itu produk unggulan
> juga?).
>   Saya melihat untuk mengejar peringkat televisi
> memang diperlukan daya dukung yang kuat dari
> pembuatan program-program tayangan yang pada
> akhirnya akan memberikan pemasukan lebih secara
> keuangan bagi stasiun televisi tersebut.
>   Sinetron biasanya memiliki waktu tayang yang ketat
> sehingga produser sinetron yang telah terikat
> kontrak akan berusaha semudah dan sesederhana
> mungkin membuat adegan dan alur cerita pada setiap
> episode.
>   Hal ini lah yang berakibat fatal terhadap tayangan
> sinetron secara umum karena biarpun inti ceritanya
> pada galibnya bagus, tetapi
> keterbatasan-keterbatasan yang mengikat tersebut
> menjadikan sang sutradara kehilangan arah untuk
> tetap membuat sinetron yang bermutu.

Kirim email ke