Memangnya selama ini ada VISI PENDIDIKAN kita? PENDIDIKAN sebenarnya memang salah satu AMANAH NEGARA. Namun Pendidikan itu pula yg paling disia-siakan oleh NEGARA.
Sebuah potensi kehancuran sistematis Pendidikan kita adalah : 1. Kesempatan Pendidikan semakin TIDAK TERJANGKAU oleh seluruh rakyat. 2. Bagi yg bisa menjangkau, maka TIDAK mendapatkan KUALITAS memadai. 3. Bagi yg mendapatkan kualitas, maka TIDAK mencetak siswanya untuk BIJAK dan KREATIF. Saya juga gak yakin jika 20% APBN sudah dialokasikan untuk sektor Pendidikan, apakah lalu ada jaminan Pendidikan kita maju? Bisa2 malah dikorupsi di mana2. Ada pertanyaan. Siapakah sosok2 yg kira2 PEDULI pada Pendidikan Bangsa? Yg Visioner dengan Strategi dan Tahapan yg Jelas? Yg berani berseru : "Tahun ... kita akan sejajar dengan NEGARA MAJU!" Maspri --- In [email protected], "Agus Hamonangan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pengentasan Kemiskinan Cenderung Berwujud Bantuan Biaya Hidup > http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/14/utama/3384171.htm > ===================== > > Jakarta, Kompas - Kian menyempitnya peluang bagi warga negara yang > miskin untuk memperoleh layanan pendidikan merupakan pertanda > pemerintah tidak punya visi yang jelas untuk menjabarkan tujuan > negara, yakni memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan > bangsa. > > "Pendidikan disepakati sebagai jembatan emas menuju perbaikan harkat > hidup. Tetapi, dengan makin sulitnya warga negara miskin untuk > mengenyam pendidikan, harkat hidup bangsa ini terus terpuruk. Peluang > mobilitas vertikal bagi rakyat miskin kian menyempit," ujar Benny > Susetyo, pengamat masalah sosial dari Universitas Driyarkara di > Jakarta, Selasa (13/3). > > Hal senada dikemukakan guru besar Sosiologi dari Universitas > Indonesia, Gumilar Rosliwa Somantri. "Fenomena itu menunjukkan upaya > mewujudkan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan sulit tercapai. > Padahal, itu modal utama bangsa untuk bersaing di era global," > ujarnya. > > Benny dan Gumilar dimintai komentar terkait dengan rasa pesimistis > yang membalut warga miskin untuk memberikan bekal pendidikan kepada > putra-putri mereka minimal sampai SLTA. Penyebabnya tak lain karena > kemiskinan, di mana prioritas kehidupan tergeser kebutuhan hidup > sehari-hari (Kompas, 13/3). > > Menurut Benny, penanganan kemiskinan yang ternyata tidak membuat > kehidupan masyarakat menjadi lebih baik adalah akibat pendekatan > parsial. Pengentasan kemiskinan tidak terintegrasi dengan layanan > pendidikan. > > "Pengentasan kemiskinan cenderung hanya dilakukan dalam bentuk > memberikan bantuan biaya hidup kepada warga kurang mampu. Sementara > kebutuhan layanan pendidikan yang mestinya digabungkan malah dibuat > dalam paket terpisah," paparnya. > > Selain anggaran negara yang dibagikan itu berhamburan tanpa hasil > yang konkret, menurut Benny, hal itu juga dengan sendirinya > menumbuhkan mentalitas peminta-minta dan tak mandiri. Warga miskin > mestinya juga diberdayakan dengan pendidikan yang memadai. > > Gumilar menambahkan, pengentasan kemiskinan yang tak berbasis > transformasi kultural dan pengetahuan kian menjerumuskan bangsa ini > ke konsumerisme. Bangsa yang tak produktif selamanya menjadi pasar > negara lain dan diperbudak kekuatan asing. (NAR) >
