Anda kemungkinan benar soal tekanan itu. Demikian pula sas-sus yang saya dengar, meski saksi-saksinya sudah almarhum semua. Kalo Anda masih tetap ngeyel mau bilang Sarwo Edhie-lah otak di balik pembantaian 1966, maka mestinya dia juga yang akan datang menghadap Sukarno memaksanya untuk teken Supersemar, buat dirinya, bukan buat Suharto. Yang tidak masuk akal adalah kalo Sarwo Edhie dianggap,sebagai mastermind peristiwa pembantaian, tapi lalu mau jadi kacungnya Suharto, yang cuma ongkang-ongkang kaki lalu ketiban Supersemar. Kalo Anda jadi sarwo Edhie, Anda mau cuma dijadikan bayang-bayang Suharto, padahal Andalah yang mestinya jadi bintang dan dapet tampuk kekuasaan? Intinya, saya makin ngerasa bahwa Anda dengan halus dan pelan-pelan mau membersihkan dosa-dosa Suharto dari kasus pembantaian 1966. Dan saya merasa sangat jijik dengan taktik Anda ini. manneke
--- On Wed, 1/13/10, Adyanto Aditomo <[email protected]> wrote: From: Adyanto Aditomo <[email protected]> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Supersemar To: [email protected] Received: Wednesday, January 13, 2010, 9:50 PM Bung Manneke Budiman, Saya setuju bahwa ada yang gak nyambung antara maksud dan tujuan Soekarno menerbitkan Supersemar dengan kenyataan dilapangan, dimana bukan hanya proses pembantaian justru semakin menghebat, tetapi juga digunakan Suharto untuk merebut kekuasaan dari tangan Soekarno. Jadi memang ada benarnya bahwa saat Soekarno menerbitkan Supersemar dalam keadaan tertekan, sehingga belakangan menimbulkan pertanyaan: Peralihan Kekuasaan dari Soekarno ke Suharto itu suatu kudeta atau bukan??? Logikanya, Soekarno sebagai pihak yang menerbitkan Supersemar memiliki kewenangan penuh untuk mengendalikan Pengemban Supersemar. Dalam kenyataannya, Suharto sebagai Pengemban Supersemar bukan hanya tidak bisa di kendalikan oleh Soekarno, bahkan menggunakan Supersemar sebagai dasar untuk mengambil alih kekuasaan dari Soekarno. Jadi masuk akal kalau Soekarno tidak bisa menuntut Suharto yang telah gagal menghentikan pembantaian karena saat itu kekuasaan sudah diambil alih oleh Suharto. Tetapi tetap saja ada pertanyaan yang belum bisa dijawab yaitu: 1. Siapa yang memerintahkan pembantaian anggota PKI sebelum diterbitkannya Supersemar?? ? 2. Salam, Adyanto Aditomo
