Pak Ady,

Ada beberapa point yang saya kira menjadi pre-asumsi bapak.

1. Asumsi bahwa Supersemar bersifat instrumental bagi peristiwa genosida 65.
2. Persepsi bahwa genosida 65 adalah operasi militer "terbuka" (gelar pasukan).
3. Asumsi bahwa struktur kekuasaan masih establish paska 30 september 65.

Saya akan coba mulai dengan mengatakan bahwa dokumen supersemar tidak 
instrumental dalam peristiwa genosida 1965, karena ia diterbitkan 11 maret 
1966. Supersemar juga TIDAK INSTRUMENTAL BAGI PENGHENTIAN GENOSIDA (teks 
kapital hanya untuk eksklamasi), karena kenyataanya pembantaian masal di Bali 
masih terjadi bulan April, 1966. (40 years of silence). Kenyataan bahwa 
genosida baru berakhir setelah kantung-kantung PKI disapu habis adalah alasan 
yang lebih kuat untuk menalikan kemana peristiwa genosida itu terhubung.

Dalam dokumenter 40 years of silence juga terungkap fakta bahwa genosida 
terjadi sesuai gerakan militer. Dimana militer ada, di sana terjadi genosida. 
Peristiwa itu tidak terjadi pada saat yang sama di seluruh nusantara, melainkan 
fenomena yang bergerak.

Tanggal 1 oktober 65 adalah peringatan ABRI yang ke 20, dan selama bulan 
September sudah ada mobilisasi kekuatan militer dari Jawa, masuk ke Jakarta, 
dengan alasan untuk parade peringatan ulang tahun tersebut. Namun demikian, 
menurut saksi Umar Said yang saat itu adalah wartawan, alasan itu jadi tidak 
masuk akal karena pasukan yang bergerak masuk ke Jakarta itu datang dengan 
kelengkapan tempur penuh.

Silahkan ikuti tulisan beliau pada link ini:
http://annabelle.aumars.perso.sfr.fr/Fakta%20kebenaran%20korban%20tragedi%2065.htm

Harap temukan teks berikut ini dalam tulisan dalam link di atas:

Quote: ===============
b. Menggalang Letkol Untung, Kolonel Latief dan Brigjen Suparjo untuk membahas 
rencana Dewan Jenderal yang akan menggulingkan Bung Karno. Dan Soeharto 
menjanjikan tambahan pasukan, yang kemudian ternyata adalah Yon 454 dan Yon 530.
c. Soeharto memberi perintah dengan telegram No. T.220/9 pada tanggal 15 
September 1965 dan mengulanginya lagi dengan radiogram No. T.239/9 tanggal 21 
September 1965 kepada Yon 530 Brawijaya Jawa Timur dan Yon 454 Banteng Raider 
Diponegoro Jawa Tengah untuk datang ke Jakarta dengan kelengkapan tempur penuh. 
Ketika datang ke Kostrad diterima oleh Soeharto dan juga dilakukan inspeksi 
pasukan pada tanggal 29 September 1965. Sedangkan Yon 328 Siliwangi datang 
dengan tanpa peluru. Tanggal 30 September 1965 jam 17.00 Yon 454 diperintahkan 
ke Lubang Buaya untuk bergabung dengan pasukan lainnya guna melakukan gerakan 
pada malam harinya.
d. Merekrut Yoga Sugama tanpa prosedur yang benar untuk ditarik ke Kostrad dari 
posnya di luar negeri (Yugoslavia). Begitu pengumuman RRI tentang adanya G30S, 
maka segera Yoga Sugama menyatakan bahwa PKI telah berontak dan memerintahkan 
agar gudang-gudang senjata dibuka untuk melawan PKI. Dari mana ia tahu bahwa 
itu PKI yang memberontak, kalau bukan mereka sendiri yang merencanakan dan 
merekayasanya, karena Yoga Sugama adalah anak buah setia Soeharto di Diponegoro 
(Jawa Tengah).
  ===================
Jadi siapakah yang berkuasa menguasai kekuatan militer Indonesia pada tahun 
1965?
Dalam obituari Soeharto yang dimuat di Antara, dimuat bahwa Soeharto menjadi 
menteri panglima angkatan darat pada tanggal 1 Juli 1966.

http://www.antara.co.id/view/?i=1201421676&c=ART&s=

Tapi hal ini tentu saja absurd, karena dalam "SUPERSEMAR", dituliskan bahwa 
Letjen Soeharto sudah menjadi panglima angkatan darat pada saat Supersemar 
terbit (11 MARET 1966).


QUOTE: Supersemar" --------------
III. Memutuskan/Memerintahkan:
Kepada: LETNAN DJENDERAL SOEHARTO, MENTERI PANGLIMA ANGKATAN DARAT
Untuk: Atas nama Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi:
1. Mengambil segala tindakan jang dianggap perlu, untuk terdjaminnja .....
------------------
Karena Soeharto sudah menjadi panglima angkatan darat sejak 12 OKTOBER 1965.

http://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_30_September

QUOTE:
=================
Pada tanggal 16 Oktober 1965, Sukarno melantik Mayjen Suharto menjadi 
Menteri/Panglima Angkatan Darat di Istana Negara. Berikut kutipan amanat 
presiden Sukarno kepada Suharto pada saat Suharto disumpah[5]:
“ Saya perintahkan kepada Jenderal Mayor Soeharto, sekarang Angkatan Darat 
pimpinannya saya berikan kepadamu, buatlah Angkatan Darat ini satu Angkatan 
dari pada Republik Indonesia, Angkatan Bersenjata daripada Republik Indonesia 
yang sama sekali menjalankan Panca Azimat Revolusi, yang sama sekali berdiri 
diatas Trisakti, yang sama sekali berdiri diatas Nasakom, yang sama sekali 
berdiri diatas prinsip Berdikari, yang sama sekali berdiri atas prinsip 
Manipol-USDEK.
Manipol-USDEK telah ditentukan oleh lembaga kita yang tertinggi sebagai haluan 
negara Republik Indonesa. Dan oleh karena Manipol-USDEK ini adalah haluan 
daripada negara Republik Indonesia, maka dia harus dijunjung tinggi, 
dijalankan, dipupuk oleh semua kita. Oleh Angkatan Darat, Angkatan Laut, 
Angkatan Udara, Angkatan Kepolisian Negara. Hanya jikalau kita berdiri 
benar-benar di atas Panca Azimat ini, kita semuanya, maka barulah revousi kita 
bisa jaya.
Soeharto, sebagai panglima Angkatan Darat, dan sebagai Menteri dalam kabinetku, 
saya perintahkan engkau, kerjakan apa yang kuperintahkan kepadamu dengan 
sebaik-baiknya. Saya doakan Tuhan selalu beserta kita dan beserta engkau! ”


==============

Jadi Agkatan Darat EFEKTIF berada di tangan Soeharto sejak 12 OKTOBER 1965, dan 
SELAMA GENOSIDA ITU BERLANGSUNG sampai April 1966.
Soeharto punya kendali penuh terhadap inisiator pembunuhan yang bekerja selama 
itu. RADIO KOMUNIKASI sudah ada pada saat itu dan perintah penarikan mundur 
atau relokasi pasukan dapat dilakukan dengan mudah. Perhatikan juga bahwa 
Soeharto berpidato pada tanggal 1 Oktober 1965. Dia juga membiarkan (kalau 
tidak mau dikatakan menginisiasi) informasi yang salah tentang PKI dan Gerwani, 
misalnya, tentang penis para jendral dan mata yang tidak dicongkel, yang 
membentuk opini dan "pembenaran" publik.

Jadi, pak Ady, ini bukan tentang supersemar, atau Sarwo Edhie.
Ini tentang Soeharto.




________________________________
From: manneke budiman <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Friday, January 15, 2010 6:16:11
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re:  Supersemar


Anda kemungkinan benar soal tekanan itu. Demikian pula sas-sus yang saya 
dengar, meski saksi-saksinya sudah almarhum semua.

Kalo Anda masih tetap ngeyel mau bilang Sarwo Edhie-lah otak di balik 
pembantaian 1966, maka mestinya dia juga yang akan datang menghadap Sukarno 
memaksanya untuk teken Supersemar, buat dirinya, bukan buat Suharto.

Yang tidak masuk akal adalah kalo Sarwo Edhie dianggap,sebagai mastermind 
peristiwa pembantaian, tapi lalu mau jadi kacungnya Suharto, yang cuma 
ongkang-ongkang kaki lalu ketiban Supersemar.

Kalo Anda jadi sarwo Edhie, Anda mau cuma dijadikan bayang-bayang Suharto, 
padahal Andalah yang mestinya jadi bintang dan dapet tampuk kekuasaan?

Intinya, saya makin ngerasa bahwa Anda dengan halus dan pelan-pelan mau 
membersihkan dosa-dosa Suharto dari kasus pembantaian 1966. Dan saya merasa 
sangat jijik dengan taktik Anda ini.

manneke

--- On Wed, 1/13/10, Adyanto Aditomo <adyantoaditomo@ yahoo.co. id> wrote:

From: Adyanto Aditomo <adyantoaditomo@ yahoo.co. id>
Subject: [Forum-Pembaca- KOMPAS] Re: Supersemar
To: Forum-Pembaca- kom...@yahoogrou ps.com
Received: Wednesday, January 13, 2010, 9:50 PM



Bung Manneke Budiman,

Saya setuju bahwa ada yang gak nyambung antara maksud dan tujuan Soekarno 
menerbitkan Supersemar dengan kenyataan dilapangan, dimana bukan hanya proses 
pembantaian justru semakin menghebat, tetapi juga digunakan Suharto untuk 
merebut kekuasaan dari tangan Soekarno.
Jadi memang ada benarnya bahwa saat Soekarno menerbitkan Supersemar dalam 
keadaan tertekan, sehingga belakangan menimbulkan pertanyaan: Peralihan 
Kekuasaan dari Soekarno ke Suharto itu suatu kudeta atau bukan???
Logikanya, Soekarno sebagai pihak yang menerbitkan Supersemar memiliki 
kewenangan penuh untuk mengendalikan Pengemban Supersemar.
Dalam kenyataannya, Suharto sebagai Pengemban Supersemar bukan hanya tidak bisa 
di kendalikan oleh Soekarno, bahkan menggunakan Supersemar sebagai dasar untuk 
mengambil alih kekuasaan dari Soekarno.
Jadi masuk akal kalau Soekarno tidak bisa menuntut Suharto yang telah gagal 
menghentikan pembantaian karena saat itu kekuasaan sudah diambil alih oleh 
Suharto.

Tetapi tetap saja ada pertanyaan yang belum bisa dijawab yaitu:
1. Siapa yang memerintahkan pembantaian anggota PKI sebelum diterbitkannya 
Supersemar?? ?
2.

Salam,

Adyanto Aditomo


Kirim email ke