Rekan2 FPK Yth,
Tanpa niat untuk pro dan kontra Sarjana untuk Calon Presiden....saya hanya
ingin berbagi saja bahwa soal S1, S2,S3 atau SMU atau apa sajalah....itu kan
hanya salah satu tolok ukur saja. S1 atau bahkan S9 (kalau ada) bukan jaminan
keberhasilan seseorang dalam melakukan tugas/pekerjaannya didunia nyata. Apa
jadinya kalau tidak ada sama sekali tolok ukurnya? Apa mau tanya ke dukun? Si
A atau Si B bakal berhasil atau mampu mengemban tugasnya.
Latar belakang/tingkat pendidikan kan hanya salah satu dari sekian banyak
persyaratan untuk menduduki jabatan2/pekerjaan2 tertentu. Semakin penting
suatu jabatan/pekerjaan semakin ketat pula persyaratannya. Bisa dibayangkan
kalau untuk sebuah posisi yg begitu kritis, hanya disyaratkan yg penting bisa
baca tulis.
Beberapa tahun belakangan kita saksikan bersama betapa amburadulnya sebuah
lembaga manakala orang2nya ternyata tidak diseleksi dengan baik. Tingkat
pendidikan salah satunya yg biasanya diwakili dengan bentuk "ijazah", ternyata
juga terjadi banyak kebobolan disana-sini. "Ijazah" apa sih yg tidak bisa
dibeli di negara kita ini???
Orang tidak lagi sungkan memajang gelar akademiknya....padahal banyak yg tahu
dia tidak pernah kuliah/sekolah alias Sekolah tidak ijasah ada....sehingga
"pendidikan" bukan dipahami sebagai "proses" tetapi hanya sekedar jalur untuk
dapat ijasah atau paspor untuk mendapatkan posisi2 atau pekerjaan.
Intinya adalah "ijasah" alias tingkat pendidikan hanyalah salah satu syarat
agar "kita2" ini lebih punya kepastian akan kinerja seseorang yang akan dipilih
untuk menempati posisi tertentu apakah di perusahaan, pemerintahan, atau
dilingkungan kita. Ada takaran2 lain yg bisa dan seyogyanya juga digunakan
dalam proses pemilihan itu misalnya "rekam jejak". Nah kalau tata-cara atau
aturan2 ini tidak diperlukan ya tidak masalah kalau misalnya kita lebih percaya
tanya ke Mak Lampir ....misalnya....)*
Salam
Kukuh Kumara
Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Rekan rekan yg baik,
Khususnya tetangga saya Budiman Sudjatmiko.
Mgk mas bisa ceritakan pendidikan Ibu Mega sewaktu kuliah di UNPAD
jenjang apa? D3 atau S1.
Salam,
AH
--- In [email protected], "Patrick"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Edy Purwanto,
>
> Saya sepakat dgn Bapak. Aturan "HARUS SARJANA" itu emg menggelikan,
> setidaknya menurut saya. Saya ingin mengutip tulisan Pak Rhenald
> Khasali yg dimuat di Kompas bbrp waktu yg lalu. Beliau blg "Dalam
> bahasa "Recode", hasil adalah cerminan dari cara berpikir seseorang.
> Yang hebat secara akademis, kalau cara berpikirnya keliru, tidak
> akan mencapai hasil optimal. Maka yang 'pintar akademis' belum
> tentu 'pintar bekerja' (Kompas 19/01/2006).
>
> Salam,
>
> Patrick Hutapea
> Mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasional
> Fisip - Universitas Katolik Parahyangan Bandung
---------------------------------
It's here! Your new message!
Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.
[Non-text portions of this message have been removed]