Sebelum saya mengutarakan pendapat saya, apakah saudara Imron Cotan di
sini adalah mantan dubes Aus untuk Indonesia? Atau memang memiliki nama
yang sama?

Sdr Cotan begitu gencar mengedepankan sejarah holocaust dari versi
revisionis. Persoalannya apakah memang versi revisionislah yang paling
akurat dalam merepresentasikan holocaust? Cara belajar yang baik,
apalagi sejarah, adalah banyak membaca dari berbagai macam versi dan
kemudian membandingkannya. Dalam kasus ini, saya tidak mendapatkan kesan
bahwa ada niat untuk memaparkan data lain agar ada perimbangan
informasi. Misalnya tulisan sejarawan Richard J Evans atau Deborah E
Lipstadt. Kedua orang ini sangat penting dalam perdebatan sejarah
tentang holocaust (lazimnya dalam studi sejarah perdebatan semacam ini
disebut history wars). Libstadt memenangkan kasus gugatan yang diajukan
oleh David Irving. Sementara itu Richard J Evans, sejarawan yang ahli
dalam persoalan Jerman, menjadi saksi ahli yang melakuan riset atas buku
Irving.

Ulasan yang cukup baik tentang sejarawan revisionis bisa dilihat dalam
tulisan Jonathan Petropoulus yang dimuat dalam jurnal akademik, The
History Teacher, Vol. 28, No. 4. (Aug., 1995), pp. 523-539 dengan judul
Confronting the "Holocaust as Hoax" Phenomenon as Teachers. Wawancara
Deborah E Libstadt juga menyebut tentang persoalan holocaust as hoax ini
(http://www.threemonkeysonline.com/article.php?id=391
<http://www.threemonkeysonline.com/article.php?id=391> ). Menurut kedua
akademisi tersebut, holocaust denial melakukan kampanye yang cukup
gigih. Dari artikel surat kabar, website, hingga jurnal akademik (The
Journal of Historical Review). Tidak adanya dokumen yang menyatakan
bahwa Hitler memerintahkan untuk menggunakan gas adalah poin yang
dieksploitasi oleh para holocaust denier.

Saya akan kutip beberapa data untuk menanggapi sdr Cotan.

Jika sdr meragukan bahwa jumlah 6 juta tidak mungkin lantaran populasi
Yahudi, studi yang dilakukan oleh Sergio Dellapergola (Between Science
and Fiction: Notes on the demography of the holocaust) mengungkapkan
bahwa pada tahun 1939, jumlah Yahudi di Polandi sebesar 3,5 juta,
Rumania 520.000 lebih, Hungary 400.000 lebih, Ceko 350.000, Perancis
300.000 lebih dan di Ukraina 1.5 juta lebih. Dari jumlah ini semua kalau
dibuat hipotesis barangkali angka jutaan adalah perkiraan yang cukup
moderat.

Salah satu dokumen yang sering dikutip adalah Wannsee protokol yang
memuat daftar orang Yahudi di berbagai negara. Dalam protokol tersebut
dibicarakan tentang 11 juta orang Yahudi. Registrasi dan data sensus
juga digunakan untuk mengidentifikasi orang-orang Yahudi. Dr Roderich
Plate adalah bertanggungjawab terhadap sensus penduduk di Jerman. Ketika
Jerman berhasil menginvasi Polandia, Reinhard Heydrich yang turut
menghadiri konferensi di Wannsee menginstruksikan sensus penduduk.

Gas Chamber. Ada baiknya sdr Cotan membaca artikel yang ditulis oleh
Daniel Keren, Jamie McCarthy dan Harry W. Mazal (The Ruins of Gas
Chamber: A Forensic Investigation of Crematoriums at Auschwitz I and
Auschwitz-Birkenau). Mereka menemukan tiga lubang bersama dengan temuan
lainnya dalam krematorium.

Mengenai konferensi di Iran, saya menemukan satu surat kabar yang
mengulas pertemuan tersebut (Global Information Network, New York,
December 18, 2006, IRAN: STUDENTS BOO AHMADINEJAD OVER HOLOCAUST
CONFERENCE). Dalam satu wawancara kepada warga Iran biasa, pendapat
Ahmadinejad malah membuatnya bingung. Baiknya saya kutip pendapatnya:

"I am not a learned man, but I have heard a lot about Jews in Nazi
concentration camps. It is history. How can one deny something the whole
world has witnessed? How can it be impossible to kill 6 million Jews in
several years when in Turkey they wiped out a million Armenians in just
a few days? Or in Bosnia only a few years ago?" says Ahmad, who runs a
small stationery shop in downtown Tehran. "Denying the Holocaust doesn't
change anything for the Palestinians. It makes it even worse. Our
president's weird ideas only serve to disgrace Iranians in the eyes of
the world and isolate them, but what can we do to stop this madness? "

Apakah cerita ini benar demikian? Silahkan menghubungi wartawan yang
menulis artikel ini.

Saya belum dapat mengumpulkan cukup data tentang siapa Toben. Tetapi
dalam sebuah jurnal akademik, Police Practice and Research, Vol. 6, No.
2, May 2005, pp. 103–119, artikel Steve James yang bertajuk The
Policing of Right-Wing Violence in Australia, mengutip informasi dari
anti-semit watchdog dari Tel Aviv University, mengatakan bahwa ekstrimis
sayap kanan dan neo-Nazi berada di Australia dan Toben adalah satu
jaringannya.

Dalam paragraf akhirnya, sdr Cotan merasa bersyukur jika film
Schindler's List ditolak masuk di Indonesia. Dari sini terlihat bahwa
apa yang diutarakannya bukanlah bagian dari pengungkapan fakta sejarah,
tetapi menggunakan sejarah untuk kepentingan politik.

Jika alasan penolakan holocaust lantaran perilaku Israel terhadap
Palestina ini agak membingungkan. Israel memang brutal terhadap
Palestina tetapi bukan berarti itu menjadi justifikasi untuk menyangkal
holocaust. Saya tidak sependapat terhadap perilaku Israel tetapi bukan
berarti saya harus menyangkal holocaust apalagi membuat analisa
konspiratif bahwa holocaust dipakai oleh Yahudi untuk mendirikan negara
Israel.

Yang paling menyesakkan dalam diskusi holocaust adalah begitu
terobsesinya orang dengan angka. Bukannya menyamakan angka 1 dengan 2
juta, tetapi esensi dari angka-angka itu adalah telah terjadi kejahatan
yang menjadi musuh ras manusia. Berkutat pada masalah angka akan membuat
kita jatuh para asumsi adanya hirarki dalam sebuah tragedi, dimana
tragedi yang satu kurang terkesan seram dan brutal ketimbang lainnya.

salam

Rahadian

Kirim email ke