Sedih ya.. 
Kondisi ini sebetulnya sudah terjadi berulang-ulang. Dari kepemimpinan satu 
lalu pindah ke pemimpin berikutnya. Masyarakat nampaknya tidak bisa mengambil 
pelajaran masa kemarin untuk masa besok. Kita harusnya bisa melihat dan menilai 
siapa sih Fauzi Bowo, Adang, Agum, Rano Karno.. Tidak sulit rasanya jika 
masyarakat mau menilai dengan cara pandang yang lebih terbuka.

Indonesia memang tidak bisa dilepaskan dengan yang namanya POLITIK UANG, 
keduanya itu kakak-beradik. Menggalang modal untuk berpolitik, lantas mengeruk 
uang dengan politik. Dalam kondisi masyarakat yang saat ini tunduk kepada uang, 
uang menjadi alat beli politik yang ampuh. Tidak ada itu konsep pemimpinan, 
konsep pemberantasan kemiskinan, konsep pemerataan.. semua itu wacana bullshit.

Masyarakat miskin adalah tools politik yang ampuh, jika mereka hilang maka 
hilang pula amunisi berpolitiknya. Ini adalah bentuk kotornya politik yang 
tidak mengedepankan konsep bernegara dan berbangsa.

Pemilu lalu sudah pernah membuktikan bahwa RAKYAT punya suara yang paling kuat 
dibanding suara partai. Jangan hilangkan kekuatan ini untuk pilkada DKI. 
Indonesia masih similiar dengan Jakarta. Masyarakat Jakarta lah yang bisa 
mengubah cara pandang politik nasional.

Jika pilkada DKI buruk, maka itu adalah cerminan politik Indonesia.. makin 
gagal lah pembaharuan di negara ini.

Kita butuh seorang pemimpin kota ini yang tegas, berwibawa, dan pro kepada 
pembaharuan. Ya ini memang jargon klise.. apa boleh buat kita sudah hidup 
dengan kenyataan klise selama ini. Penegakan hukum yang klise, perekenomian 
yang klise, pemimpin yang klise, begitupula dengan masyarakat yang hidup dalam 
klise.. palsu.. munafik.. dan menindas.

Koq ya gak capek? hehehe..

Semoga warga kota Jakarta tidak BUTA atas apa yang dia lihat dan buta hati dari 
apa yang dia rasakan. Jangan mau dikadalin sama partai. Partai tidak punya hak 
untuk mengatur kita.. justru kita yang punya kekuatan mengatur partai.

Be smart!
Motulz

Surya Fermana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Salam bung,
  konspirasi elit telah membungkam alternatif hak pilih warga DKI, kayaknya 
kita hanya ada dua pilihan. Fauzi atau Agum. Sarwono dan Rano susah dapat 
tiket. Soal Rano karno, Fauzi Bowo tak mau Rano menjadi pendampingnya dan 
Adang, PKS sudah punya kader internal sendiri sebagai cagub. Bung, kita sudah 
hidup dalam demokrasi yang dikendalikan oligarki. uang mendikte jalannya 
politik yang sehat.
  Surya.

Kirim email ke