http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/23/Sosok/3400044.htm
=========================

Pepatah "polisi juga manusia" tampaknya cocok dengan pengalaman
Profesor Arief Budiman (66). Saat masih aktif berunjuk rasa tahun
1970-an, Arief kerap berurusan dengan kepolisian yang ketika itu dekat
dengan kekuasaan dan represif terhadap aktivis. Ditahan di kantor
polisi juga bukan hal baru bagi dia.

Hal ini pula yang membuat pria kelahiran Jakarta 3 Januari 1941 ini
memiliki pengalaman menarik dengan polisi. Pada tahun 1972, saat
sedang berunjuk rasa anti Taman Mini Indonesia Indah, Arief ditangkap
dan dipenjara selama satu bulan di Markas Kepolisian Air dan Udara
(Polairud) yang berlokasi di Tanjung Priok, Jakarta.

"Polisi yang menjaga saya awalnya tidak mau berinteraksi. Akan tetapi,
berselang beberapa hari kemudian, suasana mulai mencair. Akhirnya,
kami malah jadi teman," ungkap pengajar di Universitas Melbourne,
Australia, ini.

Polisi yang menjaganya justru pernah mengajaknya berjalan-jalan di
pinggir laut. Ia juga melayani Arief dengan baik. Hubungan bertambah
baik setelah Arief keluar dari sel. "Polisi ini minta maaf karena
hanya menjalankan tugas dari atasannya," tuturnya pula.

Arief terkenang kisah lucu ini ketika ia menjadi pembicara dalam
lokakarya tentang program Perpolisian Masyarakat yang digelar di
Kampoeng Percik, Kota Salatiga, Jawa Tengah, Rabu (21/3). "Di balik
tugas dan tekanan atasannya, polisi ini juga punya hati nurani," kata
ayah dua anak ini. (AB1) 

Kirim email ke