Oleh Limas Sutanto 
Psikiater, Konsultan Psikoterapi, Tinggal di Malang 
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/23/opini/3400845.htm
==========================

Catatan tentang ibu yang bunuh diri setelah membunuh anak-anaknya di
negeri ini mungkin belum banyak. Kendati demikian, catatan-catatan itu
merangkum perilaku yang bersifat luar biasa (extraordinary), dan
perilaku yang luar biasa itu mencerminkan keadaan diri dan masyarakat
yang luar biasa pula. Sifat luar biasa itu terwakili oleh sosok
paradoksal ibu yang menjadi tokoh utama dalam peristiwa-peristiwa
tragis itu.

Dalam buku teks psikiatri acap kali didengungkan bahwa jika
dibandingkan dengan kaum pria, kaum wanita lebih jarang mengakhiri
hidup mereka dengan bunuh diri.

Kini, catatan-catatan di negeri kita mulai berbicara beda, bahkan amat
beda. Sosok ibu yang secara universal mewakili perjuangan melindungi
kehidupan anak-anak justru kini tampil sebagai sosok berfrustrasi amat
parah, yang tidak lagi melihat harapan baik apa pun bagi anak-anak
mereka di tengah penerusan kehidupan.

Jungkir balik tata kehidupan itu ditandai oleh masyarakat kita yang
makin miskin empati. Miskin empati berarti miskin kepedulian, miskin
pengertian, dan miskin penerimaan antarinsan. Realitas kehidupan umat
manusia niscaya ditandai oleh bekerjanya empati. Realitas kehidupan
niscaya diresapi kepedulian, pengertian, dan penerimaan antarinsan
pada tingkat yang bermakna. Itulah hakikat tata kehidupan yang
niscaya. Namun, kini, tata kehidupan itu jungkir balik, dan yang
terejawantah adalah tata kehidupan yang miskin kepedulian, miskin
pengertian, dan miskin penerimaan antarinsan.

Dengan empati, kita bisa menghayati betapa ibu yang bunuh diri setelah
membunuh anak-anaknya, seperti yang terjadi di Malang beberapa hari
lalu (Kompas, 12 Maret 2007), adalah insan yang tidak lagi melihat
harapan baik apa pun bagi dirinya dan anak-anaknya di tengah kehidupan.

Mungkin pada mulanya sang ibu akan mengakhiri hidupnya sendirian,
tetapi dia membayangkan betapa sepeninggal dirinya, anak-anak akan
telantar karena tidak akan ada orang yang peduli kepada anak-anak itu.
Sang ibu tidak mau membiarkan anak-anaknya menderita di tengah
kehidupan yang miskin empati itu, maka dia memutuskan untuk lebih dulu
mengakhiri hidup anak-anaknya, sebelum dia sendiri mengakhiri hidup
dengan bunuh diri.

Mencuatkan pesan

Peristiwa-peristiwa bunuh diri seperti itu mencuatkan pesan tentang
masyarakat kita yang miskin empati. Yang kini merebak di tengah
kehidupan masyarakat kita adalah lawan dari kepedulian antarinsan,
yaitu tindakan mementingkan diri sendiri, bahkan tindakan narsistis
atau cinta diri berlebih, yang mencuatkan gejala kehidupan mewah di
tengah hamparan masyarakat luas yang miskin, dan tindakan
menyalahgunakan kekuasaan di tengah hamparan rakyat yang menderita.

Yang kini merebak di tengah masyarakat kita adalah lawan dari
pengertian antarinsan, berupa kecenderungan untuk makin sedikit
mendengarkan orang-orang lain, yang disertai ingar-bingar kesukaan
berlebih untuk memamerkan diri sendiri, bahkan menyombongkan diri
sendiri. Yang kini merebak juga di tengah masyarakat kita adalah lawan
dari penerimaan antarinsan, berupa kecenderungan saling menolak,
bahkan kecenderungan saling meniadakan, di tengah perspektif realistik
masyarakat yang mau tak mau selalu ditandai keberbedaan dan
keanekaragaman. Miskinnya penerimaan antarinsan mencuatkan gejala
penegasan keberbedaan yang mengarah ke pemisahan (polarisasi,
fragmentasi, bahkan disintegrasi) "Diri" dengan "Pihak Lain".

Padahal, empati adalah kekuatan yang luar biasa dan niscaya untuk
mengatasi masalah-masalah di tengah masyarakat dan bangsa. Sayang
sekali, ia sangat sering diremehkan dan diabaikan. Orang-orang lebih
percaya kepada kekuatan kepintaran, ilmu pengetahuan, dan teknologi
semata-mata. Ketiga hal terakhir itu memang penting, tetapi acap kali
kepintaran, ilmu pengetahuan, dan teknologi tidak mampu
mengejawantahkan kesejahteraan, kebahagiaan, dan kedamaian bagi
masyarakat karena mereka tidak digunakan oleh insan-insan yang
mempersenjatai diri dengan empati.

Ketika di sana-sini terbetik kabar ada ibu-ibu yang membunuh anak-anak
mereka lalu bunuh diri karena kemiskinan, dengan gampang tokoh-tokoh
berteriak lantang agar bangsa ini membantu rakyat miskin dan mengatasi
kemiskinan. Mereka semua tahu bahwa kemiskinan niscaya diatasi. Namun,
dalam kenyataan, tindakan yang diwujudkan untuk mengatasi kemiskinan
tidak efektif. Ketidakefektifan ini terjadi bukan karena mereka tidak
tahu apa yang niscaya mereka lakukan, melainkan karena mereka tidak
kunjung mengejawantahkan tindakan-tindakan yang sungguh memadai untuk
mengatasi kemiskinan. Mengapa demikian? Karena, kendati mereka tahu
dan bisa, mereka miskin empati, dan dengan demikian mereka sungguh
tidak memiliki daya untuk mengejawantahkan kebaikan dan kebenaran.


Kirim email ke