Nampaknya "topeng" ini merupakan keperluan kita
  sehari-hari seperti halnya makan dan tidur.
   
  Apa lagi saat kita ber-ABS (asal bapak senang) dengan
  seseorang yang lebih penting dari kita ini.
  Topeng terpasang dan kita langsung bersandiwara agar
  dirinya bisa kita manfaatkan...
   
  Inilah hidup yang katanya adalah panggung sandiwara
  dimana kita semuanya punya peranan, adegan dan babak
  dimana kita beraksi...
   
  Kita menyesuaikan diri dengan orang lain, masyarakat, situasi
  dan kondisi.
  Siapa tahu tanpa sadar kita sudah punya seribu topeng?
  Siapakah diri ini sebenarnya?
  Kadang-kladang kita bisa tak tahu diri atau lupa diri....
   
  Apakah ada kemungkinan bisa sukses dalam hidup di alam fana
  ini tanpa topeng?
  Tanpa sandiwara dan mencoba menyesuaikan diri?
  Bagaimana koleksi topeng kalian rekan-rekan sekalian?
   
  Salam
  Las.
  

Goenardjoadi Goenawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Kebanyakan dari kita menggunakan topeng kebohongan yang kita
kenakan, kadang seumur hidup kita.

*kita menggunakan topeng*, bahwa kita orang yang paling dihormati,
paling disegani, paling benar, paling pintar, paling populer, seolah-
olah kita ini bintang iklan Nokia dan setiap handphone baru adalah
hak kita, dan identitas kita, menunjukkan siapa kita.

mengapa bisa begitu?

karena *kita merasa bahwa hidup ini adalah hak kita*.

kita memiliki hak untuk mendapatkan gaji, memperoleh rejeki,
membiayai gaya hidup kita. Karena kita sudah banyak berkorban, kita
sudah sekolah, kita merasa lebih baik daripada orang-orang lain.

tidak banyak manajer seperti kita, peranan kita sungguh krusial bagi
dunia, bagi perusahaan tempat kita bekerja.

dan kita lupa, sewaktu-waktu semua itu, semua identitas palsu kita
bisa jatuh tempo, expired, diambil smeua oleh Sang Pencipta.

Kalau kita sudah berada dalam jurang kehancuran, bertabrakan seperti
Alda, sudah kena serangan jantung, sudah pernah bagkrut, sudah
pernah diusir oleh orang tua sekeluarga, maka kita akan merasakan
bahwa *hanya jiwa kita yang menjadi pegangan, yang paling berharga*,
bukan jam tangan kita, apalagi handphone kita, atau name card siapa
kita.

nyawa kita itulah yang paling berharga, diatas segalanya, dan nyawa
itu sepenuhnya pemberian dari Sang Pencipta, oleh karena itu, kalau
hanya turun gaji 25%, atau turun jabatan, atau turun gengsi, atau
tidak bisa menginap di Grand Hyatt, tentu tidak masalah, dan kita terus
mensyukuri bahwa seandainya Sang Pencipta tidak mengabulkan doa kita
untuk terus bisa hidup, maka kita toh sudah masuk liang kubur, bukan.

salam,
GG

[Non-text portions of this message have been removed]



         

 
---------------------------------
8:00? 8:25? 8:40?  Find a flick in no time
 with theYahoo! Search movie showtime shortcut.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke