Mas Motul, Saya termasuk org yg awam dgn dunia pertelevisian. Tp saya sgt tertarik dgn perkembangan industri televisi di tanah air. Salah satunya adalah keberadaan televisi kabel/berlangganan yg semakin terjangkau harganya. Dan, saya juga optimis bahwa tren ini menjelma menjadi tren yg positif. Setidaknya, masyarakat (mungkin kelas menengah)pny alternatif lain. Saya juga memerhatikan bbrp iklan nasional/lokal sudah mulai menyelip masuk ke TV kabel, meskipun slotnya masih sedikit. Beberapa tahun lalu hal ini mungkin sulit kita temui di TV kabel. Walaupun "market share"-nya masih sedikit bila dibandingkan tv nasional, setdknya skrg saya lihat bbrp perubahan dlm program2 tv nasional, spt Trans TV, Trans-7, & Star-AN TV. Apakah perubahan itu berkaitan langsung dgn keberadaan TV Kabel yg semakin terjangkau harganya? Saya juga tidak tau pasti :) Apalg kalau KPI yg baru dilantik berhasil menegakkan pemberlakuan konsep televisi nasional yg berjaringan, bisa-bisa perkembangan industri televisi akan semakin menarik. Maaf yah Mas kalau saya kelewat optimis :)
Salam hangat, Patrick Hutapea > --- "/\\/\\ o + u |_ z" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Saya ingin mencoba realistis melihat karakter > > penonton (pemirsa) TV. Dalam hal ini saya gak ingin > > kita semua terjebak pandangan sempit atas jumlah > > pemirsa TV kabel versus TV terrestrial (TV lokal) > > > > Menurut data nationmaster, tahun 2003 penonton TV > > Indonesia itu berjumlah 13,750,000. Sementara tahun > > 2006, menurut Warta Ekonomi jumlah TV di Indonesia > > sudah mencapai 30.000.000 unit! Sangat fantastis! > > > > Dari 200.000.000 penduduk Indonesia, hanya > > 30.000.000 penonton TV, dari 30.000.000 itu ternyata > > pelanggan TV kabel HANYA 1.500.000 pelanggan!! Ini > > peningkatan yang baik mengingat pada tahun 2002 cuma > > 100.000 pelanggan, kemudian 2005 sebanyak 400.000 > > pelanggan. (Data dari Ade Armando - KPI di Warta > > Ekonomi) > > > > Bayangkan jika 1,5jt dilawan dengan 28,5jt penonton > > TV non-kabel. Walaupun pertumbuhan hingga 100% pun > > (3 - 4 juta) tetap saja masih tidak berbanding. Dari > > 28juta penonton TV tersebut, saya yakin sekitar 90% > > adalah penonton kelas C dan D. Yang mana selera > > programnya masih sekitar : sinertron, infotainment, > > religi-mistik, dan kriminal. > > > > AC Nielsen (lembaga resmi angka rating) jelas > > menghitung rating program TV berdasarkan penonton > > aktif TV nasional, ya.. TV terrestrial lah yang jadi > > samplingnya. > > > > Jadi, harapan kita semua ttg program TV nasional > > yang bermutu nampaknya masih jauh. Semoga saya tidak > > pesimis tapi inilah kenyataan yang harus kita > > hadapi. > > > > Salah satu solusi yang mungkin bisa memberikan warna > > baru adalah dengan membuat TV program atas dana > > pemerintah yang ditayangkan di TV swasta > > (non-kabel). Jika dulu kita berfikir TVRI merupakan > > corong pemerintah, maka sudah saatnya pemerintah > > expand membuat production house yang cuma bikin > > program. > > > > Konsep ini sudah banyak contohnya, misalnya History > > Channel, PBS, Discovery Channel, National Geographic > > dlsb. Ya mereka memang bukan program TV pemerintah > > akan tetapi milik yayasan yang konsepnya membuat > > program tanpa perlu membuat station pemancar. > > Program bermutu yang banyak dibuat untuk ditayangkan > > di TV manapun. > > > > Salam Nonton TV > > Motulz >
