Mbak yth,
Sudah menjadi hukum Tuhan tiap mahluk/hal di dunia itu diciptakan
berpasang-pasangan. Mengikuti logika mbak yang pro lesbianisme/homoseksualitas
ini, setiap insan lesbian/homoseks pun mempunyai pasangan lesbian/homoseksnya
masing-masing.
Nah, kalau mbak konsisten dengan pandangan seperti itu, sudah seharusnya mbak
sebagai pendukung/pecinta lesbianisme/homoseksualitas juga gak perlu protes
kalau ada orang-orang yang tidak mendukung/membenci pilihan hidup orang-orang
yang menganutnya. Memaksakan orang-orang untuk mendukung atau setidak-tidaknya
menerima lesbianisme/homoseksualitas itu berarti mbak gak konsisten dengan
pluralitas itu sendiri. Jadi, mbak juga harus menerima dengan lapang dada
orang-orang yang menolak itu.
Lagi pula, menurut saya, sangat tidak pada tempatnya kalau
lesbianisme/homoseksualitas itu disamakan dengan anak bindeng atau orang kulit
hitam. Insya Allah, itu salah besar mbak. Agama yang saya anut, Islam, tidak
menghukum orang karena dia bindeng atau berkulit hitam. Di mata Islam, semua
manusia sederajat, dan manusia yang paling mulia adalah yang paling bertakwa.
Nah, kalau ada orang-orang yang membenci lesbianisme/homoseksualitas itu karena
agama juga membencinya, mbak.
Tapi, toh kalau menurut mbak lesbianisme/homoseksualitas adalah sesuatu yang
perlu diperjuangkan, silahkan diperjuangkan, secara terang-terangan maupun
sembunyi-sembunyi. Kalaupun perjuangannya sangat berat (karena sudah ribuan
tahun kayaknya lesbianisme/homoseksualitas tidak pernah diterima masyarakat
luas) yah anggaplah itu harga dari sebuah perjuangan. Kalau dikucilkan pun
tidak usah berkecil hati, mbak. Karena jika mbak konsisten bahwa apa yang mbak
lakukan/yakini itu benar menurut Tuhan yang mbak yakini dan menurut nurani
mbak, apalah arti pandangan orang lain?
PS: Numpang tanya, mbak, kira-kira apa hukumnya kalau pasangan
lesbianisme/homoseksualitas itu melakukan poligami dengan pasangan sejenis
juga? Mohon maaf mbak kalau pertanyaan saya ini bodohnya tidak ketulungan.
salam,
Henny Irawati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=feature%7C-32%7CX
Senin, 26 Maret 2007
Lesbian: Begitu Tabunya?
Oleh: Soe Tjen Marching
Apakah saya lesbian? Jawaban yang gampang dan aman adalah ?tidak?, karena saya
selalu pacaran dengan lelaki. Apalagi sekarang saya punya suami. Suami yang
juga lelaki. Namun, ini masalah pendapat dan persepsi. Beberapa tahun lalu,
saya sempat membayangkan keindahan seorang perempuan dalam mimpi-mimpi.
Suami saya tahu hal itu. Apakah dia ketakutan? Sama sekali tidak. Dia sendiri
mengatakan bahwa dia juga pernah membayangkan nikmatnya bersetubuh dengan
lelaki. Kalau kita jujur, unsur homoseksualitas memang dapat ditemukan di
hampir semua orang yang mengira diri mereka heteroseksualitas tulen.
Berapa perempuan bersuami yang pernah jatuh cinta atau, paling tidak,
membayangkan perempuan lainnya? Berapa dari mereka yang pernah berdegup hatinya
saat melihat tubuh sesama perempuan? Dan berapa lelaki beristri yang juga
merasa demikian dengan sesama lelaki? Berapa banyak bocah-bocah pesantren yang
melakukan mairil?
Namun, semua ini ditutup rapat-rapat. Heteroseksualitas dan keharusan membangun
keluarga sedemikian pentingnya sehingga memproduksi manusia baru terkadang jauh
lebih penting daripada menghargai manusia itu sendiri. Antipati pada
homoseksualitas, terutama pada unsur lesbianisme, dapat saya temui di
mana-mana. Film-film Indonesia seringkali menggambarkan lesbian sebagai
penjahat, psikopat dan manusia gila seks. Namun, baru-baru ini, diedarkan
sebuah film mengenai lesbian yang katanya tidak begitu memojokkan hubungan
antar perempuan, yaitu Detik Terakhir. Sayangnya, dalam film ini, lesbian masih
disamakan dengan orang yang mengalami gangguan, karena para lesbian ini para
pecandu narkoba.
Kebetulan saja, dari akhir bulan Desember 2006 sampai awal Januari 2007, saya
mudik ke Surabaya. Di sana, saya mampir ke Gaya Nusantara dan berbincang dengan
Dede Oetomo yang menyatakan bahwa walaupun beberapa gay sudah mulai muncul,
para lesbian di Indonesia jarang sekali mau berterus terang akan seksualitas
mereka karena stigma negatif masyarakat yang begitu kuatnya. Memang, para gay,
terutama lesbian, seringkali mengalami pengucilan dan sumpah-serapah sosial.
Aktivitas mereka dianggap sebagai suatu kejahatan.
Homoseksualitas: Mengapa Dianggap Kejahatan?
Pada zaman baheula, homoseksualitas dianggap dapat merugikan spesies yang
bernama manusia. Kematian bayi dan ibu yang melahirkan amat tinggi, sedangkan
teknologi tidak memadai dan alam begitu buas. Belum lagi persaingan
antarspesies?berapa banyak jenis mamalia lain di hutan yang dengan senang hati
memusnahkan manusia? Seperti juga mamalia yang lain, salah satu naluri yang
terkuat mereka adalah mempertahankan hidup mereka sendiri, juga keturunan
mereka. Demi mempertahankan hidup, manusia harus berkembang biak.
Untuk itulah, heteroseksualitas menjadi amat penting artinya. Dengan hubungan
seksual antara lelaki dan perempuanlah, manusia dapat berkembang biak. Dalam
keadaan seperti ini, aktivitas yang tidak mendukung keselamatan dan
kesejahteraan golongan, dengan mudah dapat dituding sebagai kejahatan.
Homoseksualitas menjadi bentuk pengkhianatan, walaupun hubungan homoseksualitas
telah ada sejak zaman dahulu kala.
Akan tetapi, kejahatan itu seringkali amatlah relatif dari zaman satu ke zaman
lainnya, dari suatu daerah ke daerah lain. Membaca buku Pramoedya Ananta Toer
dianggap sebagai suatu dosa besar pada masa Orde Baru. Tapi, sekarang,
buku-buku Pram jadi ngetop. Di India, sampai pada awal abad ke-19, para janda
dari kasta tinggi membakar diri hidup-hidup setelah suami mereka meninggal.
Para perempuan yang tidak berani masuk dalam api dituduh pengecut dan
pengkhianat, bahkan terkadang dianggap berdosa karena tidak menunjukkan
kesetiaan pada suami mereka. Sekarang, sudah banyak orang India yang menganggap
bahwa sati seharusnya dilarang keras.
Ada juga yang menganggap bahwa homoseksualitas tidak normal dan sesuatu yang
tidak normal patutlah dihukum. Tetapi, berapa banyak anak yang dianggap tidak
normal? Apakah mereka juga patut dihukum? Apakah anak yang lahir bindeng, harus
dihukum karena kebindengannya? Bukankah kebindengan dianggap tidak normal hanya
karena kebanyakan orang tidak bindeng? Bukankah kebindengan bisa menjadi
sesuatu yang indah?
Bagaimana dengan kegiatan homoseksualitas yang menjijikkan? Dapatkah kita
memandang seorang lelaki atau perempuan bercumbu dengan sesama jenis? Orang
berkulit hitam juga sempat dipandang menjijikkan di benua Amerika dan Eropa.
Bahkan toilet dan tempat-tempat umum untuk orang kulit hitam dibedakan supaya
mereka tidak ?mencemari? orang kulit putih. Yang menyebabkan mereka dipandang
menjijikkan adalah keinginan orang kulit putih untuk menjadi superior.
Terkadang, bukankah keinginan para heteroseksual untuk merasa superiorlah yang
menjadikan homoseksual menjadi menjijikkan?
Tentu saja saya amat sangat berterimakasih pada para nenek moyang saya yang
berabad-abad telah menjalin hubungan heteroseksual dengan penuh dedikasi,
sampai akhirnya saya nongol. Tapi keberadaan saya sekarang akan sia-sia, bila
saya tidak diterima dan diperlakukan dengan baik oleh keluarga dan masyarakat
saya. Bukankah sudah saatnya homoseksual diterima dengan baik oleh masyarakat
sehingga mereka tidak perlu menyembunyikan identitas mereka?*
[Non-text portions of this message have been removed]
amrie
I am what I read
http://amriehakim.blogspot.com
---------------------------------
Expecting? Get great news right away with email Auto-Check.
Try the Yahoo! Mail Beta.
[Non-text portions of this message have been removed]