Dear Rekan,

Visi 2030 dan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2008 yang
mencapai pertumbuhan 6,8%, hanyalah indikator
psikologis hilangnya rasa percaya diri Presiden di
Republik BBM, SBY (Si Butet Jogya) yang tidak dapat
mengontrol Kabinet dan Wakil Presiden JK pada awal
pemerintahannya. Dagelan Wakil Presiden JK, yang jika
tidak diimbangi hiburan parodi "Republik Tetangga",
benar-benar panggung politik kita sulit dibedakan 
dengan lakon Srimulat. Bedanya: yang satu disengajakan
sebagai bahan hiburan, yang lainnya tidak sadar (baca:
sudah sadar abislah) bahwa telah menjadi bahan
tertawaan. 

Setiap pagi bangun dari tidur, sulit membedakan mana
Jaksa Agung, mana Ketua MA, mana Politisi, Presiden
dan Wakil Presiden, semacam "total-football". Dua
Sekawan di istana sedang sibuk bernegosiasi jatah para
stuntman di kabinet, karena Reshuffle dipertimbangkan
bila popularitas sudah benar-benar berantakan. Bukan
soal pada 49,7% itu, tapi soalnya ada pada suara tokek
yang juga sudah nyaris tak terdengar karena sudah
bosan dijadikan panduan menghitung untung dari alam.
Rupanya, si Tokek menyerahkan penuh soal pertimbangan
dan putusan presiden kepada para tetua Tim Penasihat
Presiden, kalau bisa bersikap jelas hitam-putih
seperti Tokek.

Proyeksi nasib nagari tahun 2030, benar-benar negeri
menjadikan warga negara sedang dimabuk mimpi, lupa
haus dan lapar, lupa saudaranya di Aceh, Nias,
Sum-Bar, Jogya-Bantul, Manggarai, dan wilayah terkena
bencana lainnya, karena bencana mulai dilirik (dan
sudah diperlakukan) lebih sebagai proyek: Sidoardjo
hanyalah contoh sempurna itu. Dan, ini bukan di tahun
2030.

Atau, ramalan itu benar-benar hanyalah adiktif untuk
menghilangkan kita dari pilu-derita ketertinggalan di
pelbagai aspek... Ketidak-mampuan koordinasi dan sikap
tegas mengatasi penderitaan dan rakyat membawa depresi
dan frustrasi, maka, daripada ditangkap Serse Narkoba
yang sering menggunakan narkoba, mending juga buat
adonan adiktif sendiri. Ya, situasi 'gemah ripah loh
jinawi' nagari mimpi di tahun 2030. 

Di Repbulik Mimpi ada 'Adik Dede' Mohammad Chatib
Basri, ekonom muda kita yang nota bene ada di
lingkaran satu menteri ekonomi dan Dua Sejoli di
Istana Mimpi. Harap saya, Adik Dede tidak ikut membuat
lezat serbuk adiktif selundupan Presiden di Republik
Mimpi SBY-JK. Dia bukan pawang ekonomi sich.  Besok
memang tahun 2008, tapi soal pertumbuhan 6,8% itu lho!
Busung lapar-nya? Sungguh "in-siginificant and
irrelevant".

Ganti zat adiktif itu, kita minta dinyanyikan Kang
Ebiet G Ade, "Istriku, marilah kita tidur... lupakan
sejenak, beban derita, lepaskan... Istriku, marilah
kita berdoa". Karena, besok pagi, akan ada pidato
janji Di Tahun 2030, di negeri antah berantah. 


berthy b rahawarin

 



--- Ida Bagus Arka <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Kenaikan harga BBM yang dua kali membuat kita
> kelimpungan. Ya jugalah, salah satu penyakit yang
> semula mulai dari Tangerang, terus menjalar, dan di
> media hari ini dibertakan di Surabaya telah
> meninggal pasien yang positif flu burung (terserang
> virus H5N1). Gawat, penularan flu burung kepada
> manusia bergerak ke timur. Perlu ada biosekuriti,
> kebersihan, vaksinasi flu burung, pengobatan, etc.
> Salam
> IBA

Kirim email ke