http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/29/humaniora/3415274.htm
=========================

Tubuhnya kecil dan tampak ringkih, tetapi tidak semangatnya. Tugas 
Slamet Rahayu (59) adalah memastikan pengobatan tuberkulosis dijalani 
penderita sampai selesai. Untuk itu ia harus mendatangi para 
penderita yang mangkir kontrol dan ambil obat sebelum dinyatakan 
sembuh oleh dokter. 

Pria asal Muntilan, Jawa Tengah, ini bekerja di Poliklinik 
Pemberantasan Penyakit Paru milik Perkumpulan Pemberantasan 
Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Jakarta di Jalan Baladewa, Tanah 
Tinggi, Jakarta Pusat, sejak tahun 1978. 

Awalnya Slamet yang berpendidikan sekolah dasar ini hanya membantu-
bantu dengan imbalan uang makan Rp 100 per hari. Karena ketekunannya, 
Slamet kemudian dipercaya mengurus kartu, memanggil pasien sesuai 
antrean untuk berobat, serta membantu menyimpan rekam medis pasien. 

Sejak berdiri tahun 1978, Klinik PPTI Baladewa memberikan pengobatan 
gratis pada penderita TB kurang mampu. Untuk menekan angka drop out, 
mereka harus menandatangani kontrak yang dicap RT, RW, dan kelurahan. 

Salah satu klausul kontrak, jika pasien berhenti minum obat sebelum 
enam bulan harus mengganti semua biaya pengobatan yang telah 
diterima. Pasalnya, pasien yang tidak berobat tuntas bisa menyebabkan 
resistensi kuman terhadap obat. Kuman tersebut bisa menyebar di 
masyarakat dan pemberantasannya perlu obat lini kedua yang lebih 
mahal. 

Untuk memastikan penderita minum obat dengan baik dan benar, mereka 
harus mengambil obat dua kali seminggu di klinik. Jika penderita 
tidak datang, Slamet akan mendatangi rumahnya, menanyakan sebabnya, 
dan memberi pengertian agar penderita datang lagi ke klinik. Slamet 
melakukan hal itu sepulang kerja, bahkan pada hari Sabtu dan Minggu 
tanpa henti, karena jumlah penderita yang mangkir cukup banyak. 

Jika rumah penderita dekat, Slamet naik sepeda. Dalam sehari sekitar 
3-5 orang harus dikunjungi. Kalau jauh, misalnya di Leuwiliang, 
Bogor, Slamet naik angkot. 

"Biasanya pakai uang saya dulu. Kalau sudah ada bukti dan laporan, 
biaya kunjungan diganti," tutur Slamet. 

Seringkali penderita menolak menemui Slamet karena khawatir disuruh 
mengganti biaya akibat tidak tuntas berobat. Selain itu, tidak mudah 
meyakinkan penderita untuk datang kembali. 

Biasanya penderita berhenti berobat karena merasa lebih sehat, tidak 
punya ongkos pergi ke klinik, atau mengalami efek samping dari obat. 
Untuk itu Slamet harus bisa menjelaskan dan meyakinkan penderita TB 
tentang bahaya berhenti berobat sebelum tuntas atau memberi jalan 
keluar atas kesulitan penderita. 

Sering pula terjadi penderita ternyata sudah meninggal. Jika itu 
terjadi, biasanya Slamet meminjam surat keterangan kematian untuk 
difotokopi dan menjadi bukti laporan kegiatan klinik. 

Saat mengunjungi penderita, Slamet tidak pernah mengenakan 
masker. "Nanti mereka tersinggung. Saya pasrah saja kalau ketularan 
TB," ujarnya enteng. 

Tahun 1979 ia terkena TB. Enam bulan diobati, ia sembuh. Kini Slamet 
minum obat untuk mencegah agar tak tertular lagi. 

Senin (26/3), Slamet mendapatkan penghargaan dari PPTI atas jasanya 
dalam penanggulangan TB. Menurut Sekretaris Jenderal PPTI Soediono, 
Slamet merupakan salah satu dari 236 orang yang dianggap berjasa 
menunjang kegiatan PPTI di samping para dermawan, pengurus PPTI, 
pegawai klinik, maupun kader PPTI di daerah. 

"Selama 20 tahun Klinik PPTI Baladewa berdiri, Slamet rajin mencari 
penderita TB walau gajinya kecil. Hasilnya, angka drop out klinik 
kurang dari 1 persen," kata Soediono. 

Hal ini meningkatkan kepercayaan para donor sehingga terus membantu 
kegiatan PPTI. Selain donor pribadi, Klinik PPTI mendapat bantuan 
obat dari lembaga seperti WHO, Ausaid, serta Pemerintah DKI Jakarta. 

Adapun gaji Slamet termasuk tunjangan Rp 900.000 per bulan. Dengan 
itu ia membiayai keluarga, satu istri, dan enam anak. Kini empat 
anaknya telah menikah. Tinggal dua anak, lulusan SMP tetapi sudah 
bekerja, yang masih serumah. 

Mengapa Slamet begitu penuh dedikasi? "Saya merasa berutang nyawa 
kalau ada pasien yang tidak minum obat sampai tuntas sehingga 
sakitnya makin parah dan meninggal dunia. Kalau saya mampu membuat 
dia datang ke klinik dan minum obat tentu dia tidak meninggal," papar 
Slamet. 

Sungguh semangat pengabdian ini patut ditiru. Semangat untuk 
memelihara kehidupan. 

(Atika Walujani Moedjiono) 



Kirim email ke