http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/30/metro/3417512.htm =========================
jakarta, kompas - Jakarta bukan sebuah kota, tetapi hamparan kampung karena sekitar 70 persen warganya adalah kaum miskin yang tinggal di berbagai perkampungan. Demikian, antara lain, pendapat yang muncul dalam acara diskusi masalah tata ruang kota di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (29/3). "Seiring terjadinya proses integrasi pada sistem ekonomi global, sebagai kota utama Indonesia, Jakarta telah berkembang jauh meninggalkan kota-kota lain. Namun, Jakarta pada dasarnya masih tetap sebuah kota dari kaum pendatang miskin, yang tinggal di kampung- kampung," kata Guru Besar Sosiologi Perkotaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) Gumilar Rusliwa Somantri. "Karena permukiman warga berpenghasilan rendah demikiam luas, Jakarta sebetulnya bukan sebuah kota, tetapi hamparan kampung yang mempunyai pusat hierarkis aktivitas ekonomi, kebudayaan, dan politik," tutur Rusliwa yang juga Dekan FISIP UI dalam acara diskusi yang digelar kelompok kolomnis Kompas Lingkar Muda Indonesia. Sementara itu, lewat makalahnya, Ketua Program Magister Universitas Tarumanegara (Untar) Jo Santoso mencoba menjawab pertanyaan mengapa konsep tata pemerintahan yang baik tak bisa memecahkan masalah mendasar pengembangan kota-kota di Indonesia, termasuk Jakarta. Dalam acara diskusi ini, yang dimoderatori Donny Gahral Adian, dosen filsafat Fakultas Ilmu Budaya UI, juga tampil dua pembicara lain. Mereka adalah Suryono Herlambang, dosen Planologi Untar, dan Marco Kusumawijaya, arsitek yang juga ketua Dewan Kesenian Jakarta. (muk)
