Woow .. pak Loekyh .. saya hormati sekali cara pandang anda, 
kuncinya adalah TOLERAN dan KETERBUKAAN (alias TIDAK PICIK). Mohon 
maaf, saya tidak menyimak topik ini sejak awal, dan saya tidak 
sedang membenarkan, ataupun men-tidak-benarkan seseorang. Jadi mohon 
dimaklumi, fokus saya ke POLA PIKIR (atau MINDSET ??). Saya tertarik 
dengan cara pandang seperti ini sudah sejak puluhan tahun lalu, yang 
mendorong saya berkeyakinan, bahwa HANYA cara pandang / pola pikir 
yang seperti itulah yang dapat membawa kita kearah DAMAI. Dengan 
kata lain, damai akan mustahil terwujud, tanpa toleran, tanpa 
keterbukaan, apalagi bila disertai dengan prejudice, dengan pola 
pengelompokan (baik pengelompokan agama, ras, negara, gender, dlsb). 
Bunyinya sangat idealis, yang nyata-nyata amat sangat sulit 
diwujudkan, bahkan sayangnya cenderung MUSTAHIL, walaupun kata-kata 
DAMAI senantiasa kita dengar menjadi argumentasi keseharian seluruh 
anak manusia di bumi ini. Mudah-mudahan di kesempatan yang lain kita 
dapat membahas tema ini lebih dalam, karena saya masih 
mempunyai "secuil" harapan, bahwa pola pikir seperti ini tetap layak 
diupayakan.
Salam,
Bodo


--- In [email protected], "loekyh" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> --- In [email protected], "goenardjoadi" 
> <goenardjoadi@> wrote:
> 
> > Begini lho Mbak Nata,
>  
> > saya akan jelaskan dari sisi alam ya, terlepas dari masalah 
agama,
> > atau kejiwaan.
>  
> > Tuhan MENCIPTAKAN alam ini berpasangan, mengapa?
> 
> L: Ini contoh argumentasi anda yang mengklaim TIDAK berlandaskan/ 
> TERLEPAS DARI ajaran agama, tetapi jelas isi argumentasi anda 
> berlandaskan agama sebab anda percaya TUHAN MENCIPTAKAN. 
> 
> Sadarkah rekan Goen bahwa anda hampir selalu menggunakan 
argumentasi 
> ajaran (dogma) agama sendiri sebagai alat pembenaran pendapat anda 
> sendiri? Bisa saja orang lain berpendapat negatif thd komentar di 
> atas, misalnya orang yang menganggap anda terkesan begitu 
> merendahkan kekuasaan Tuhan sebab anda memandang Tuhan sangat 
> terbatas kemampuannya, yaitu Tuhan disamakan dengan tukang cipta/ 
> tukang bikin sesuatu yang masih harus bekerja sendiri (tanpa 
bantuan 
> alat atau pihak lain atau tanpa bantuan 'komputer') ketika 
> menciptakan sesuatu tersebut.
> 
> Bagaimana dengan ajaran agama lain yang barangkali membolehkan 
> umatnya berkeyakinan bahwa Tuhan tidak pernah campur tangan lagi 
> dengan urusan dunia, termasuk urusan MENCIPTAKAN manusia berpasang-
> pasangan? Umat agama ini mungkin saja yakin bahwa hukum2 alam ini 
> sudah secara otomatis DICIPTAKAN, dirumuskan dan dijalankan 
> oleh 'super komputer' buatan Tuhan yang tak pernah tidur sedangkan 
> Tuhan sekarang sudah bisa 'tidur nyenyak melupakan urusan manusia 
> dan alam' :-) dan Tuhan tak perlu lagi teken2 tombol 'super 
> komputer' yang sudah diprogram untuk menjalankan jagad raya secara 
> otomatis terus-menerus sepanjang waktu :-)
> 
> Btw, ada species binatang yang bisa berganti kelamin.
> 
> > mengapa sebuah perkawinan dari diikat secara Ilahi?
> > 
> > mengapa?
> > 
> > karena pada sebuah pernikahan akan tercipta makhluk hidup baru, 
dan
> > lebih baik kita bertanggung jawab dengan makhluk hidup baru
> > tersebut, bila tidak maka akan BERURUSAN dengan tuhan.
> 
> L: Ini contoh yang lain bagaimana keyakinan anda digunakan sebagai 
> PEMBENARAN pendapat anda. Di sini anda percaya pada keyakinan 
bahwa 
> kita kelak BERURUSAN dengan Tuhan padahal mungkin saja ada ajaran 
> agama lain yang mengajarkan terbentuknya amal/dosa secara otomatis 
> (= sebagai bagian dari hukum alam yang diprogram oleh 'super 
> komputer' di atas), tak ada lagi sangkut-pautnya dengan atau tak 
> perlu lagi berurusan dengan Tuhan. Padahal ada ajaran lain yang 
> mengajarkan 'hidup' itu bisa berkali-kali (tanpa perlu hidup 
kembali 
> ke dunia yang sama) dan kehidupan yad ini ditentukan oleh 
kehidupan 
> sebelumnya.
> 
> > anak pertama bapaknya A
> > anak kedua bapaknya B
> > anak ketiga bapaknya C
> > 
> > repot bukan?
> 
> L: Terasa repot bagi orang2 seperti saya atau anda atau bapak2 
yang 
> punya cara pandang primitif hanya bisa mengasihi dan membuat sehat 
> anak kandung sendiri (bukan anak tiri), tak bisa peduli pada anak 
> kandung orang lain. Padahal ada ajaran agama yang menyadari 
> kesalahan cara pandang primitif ini dengan meminta orang2 yang 
MAMPU 
> MELEPASKAN DIRI DARI IKATAN-IKATAN DUNIA, TERMASUK MAMPU 
MELEPASKAN 
> DIRI IKATAN KELUARGA untuk hidup di dunia hanya untuk beramal dan 
> berbakti kepada semua orang secara adil (bukan beramal cuma untuk 
> keluarga dan teman2 sendiri doang).
> 
> Tanpa perlu menjadi pastor, bhiku, dsb, saya beberapa kali melihat 
> contoh2 orang2 yang sudah mampu mencintai orang lain, tanpa 
hubungan 
> darah, tanpa hubungan ras, dsb, dengan tulus, walaupun orang2 ini 
> bukan anak kandung sendiri. 
> 
> Mis. saya melihat sendiri satu keluarga di Amerika dan di Eropah 
> yang bisa mengasihi beberapa anak BUKAN anak kandungnya. Misalnya 
> saya melihat satu keluarga bule yang terlihat begitu menyayangi 
dua 
> orang anak kulit hitam yang diadopsinya bak menyayangi anak 
> kandungnya sendiri. Saya juga kenal dengan seorang mahasiswa 
Belanda 
> turunan Indonesia yang begitu disayangi oleh kedua orangtuanya 
yang 
> Belanda totok.
> 
> Tak perlu saya teruskan komentar2 saya karena dalam kalimat2 
> berikutnya, anda pun menggunakan ajaran agama sendiri anda untuk 
> membenarkan pendapat anda sendiri.
> 
> Salam
>


Kirim email ke