Antara kepercayaan dan fakta bisa sangat jauh berbeda.

Berikut tulisan yg juga membantah perkosaan2 tsb. Bisa dicek ke nama2 yg
disebut dalam tulisan ini.

http://www.geocities.com/CapitolHill/1425/explanation.html

FOTO DAN DATA TENTANG PERKOSAAN YANG MISTERIUS

Melalui jaringan internet foto-foto kasus perkosaan pertengahan Mei 1998
lalu di
Jakarta dan Solo telah menyebar ke seluruh dunia. Di Singapura foto itu
bahkan digelar dalam sebuah pameran resmi. Akibatnya reaksi keras menghujat
Indonesia kini bermunculan, baik di Jakarta, Hongkong, Beijing, Taipe,
Singapura maupun di berbagai belahan dunia lainnya.

Ditengah reaksi atas foto yang tersebar di tataran internet dan menjadi
konsumsi
masyarakat dunia itu, Harian Asian Wall Street Journal (AWSJ) edisi 20
Agustus
1998 mencurigai foto-foto itu  palsu dan tidak berhubungan sama sekali
dengan
kerusuhan pertengahan Mei lalu.

Dugaan foto tersebut sebagai palsu dan kebohongan juga muncul dari "Aware"
kelompok dari Singapura. Bersamaan dengan itu juga muncul reaksi kecurigaan
serupa dari Dewan Reformasi Pemuda dan Mahasiswa Surabaya (Derap Masa) yang
menganggap foto tersebut sebagai rekayasa dan kepalsuan untuk mendramatisir
kerusuhan Mei 1998 di Jakarta dan Solo.

Kecurigaan itu cukup beralasan karena sesuai dengan pemberitaan Harian Asian
Wall
Street Journal (AWSJ) antara lain disebutkan bahwa paling tidak 15 foto
adalah
palsu dan sumbernya "Asian Pornography Website, East Timoresse Exite
Homepage dan US Based Exhebition of gori photos".

Sebagai contoh foto tentang seseorang dengan Uniform menyiksa seorang wanita
dengan tongkat, puntung rokok dan tali, ternyata berasal dari segepok foto
milik
East Timoresse Exite Homepage yang sudah muncul sejak bulan November 1997,
jauh sebelum kerusuhan di Jakarta terjadi. Data ini jelas merupakan
kebohongan nyata dari para aktivis LSM yang sejak awal telah gencar
mempersoalkan masalah ini.

Sementara itu anggota Tim Relawan yang juga Pimpinan Gereja Utusan
Pantekosta
Jemaat Pasar Legi di Solo Drs. Ch MD Estefanus, Msi, membantah kebenaran
laporan bahwa 24 Wanita WNI keturunan Cina menjadi korban kasus perkosaan
massal di Solo. Bahkan beliau menulis surat khusus kepada Kapolwil Surakarta
dan menyatakan bahwa laporan itu bohong belaka.

Hal serupa juga dialami oleh berbagai Tim Relawan yang dibentuk di Jakarta,
termasuk Tim Gabungan Pencari Fakta yang dibentuk Pemerintah beberapa waktu
lalu masih belum mampu memberikan data konkrit kepada masyarakat Aktivis
Perwakilan Ummat Budha Indonesia (Walubi) Ny,Hartati Murdaya hingga kamis 20
agustus 1998 mengaku belum menemukan satupun Korban dugaan kasus perkosaan
massal.

Sementara Direktur LBH di Jakarta Nursyahbani Katjasungkawa juga mulai tidak
yakin dengan pendiriannya yang semula getol mengutuk kasus perkosaan massal
itu. Ia menyatakan tidak tahu persis jumlah korban perkosaan, soalnya Ia
tidak
ikut menjadi anggota Tim Relawan.

Bahkan Romo Mangun Cs + Ita Nadia sewaktu di AS ada yang bertanya bahwa
foto-foto dan poster-poster yang dibawa adalah palsu, mereka agak gugup
karena
poster perkosaan yang diedarkan sudah beredar sejak 2 tahun yang lalu oleh
CNRM
Ramos Horta di AS dan Eropa. Selain itu Ita Nadia juga mengeluarkan issu
yang
sensitive bahwa diantara kelompok pemerkosa sebelum melakukan aksi
perkosaan,
berteriak "Allahu Akbar". Selesai kesaksian di Kongres AS, Romo Mangun Cs
berangkat juga ke Genewa untuk sidang PDPM dan juga membohongi publik
internasional bahwa 162 orang diperkosa sistematis dan 20 orang tewas.

Jika dicermati berbagai komentar/pendapat banyak pihak termasuk yang sudah
sejak
awal menjadi relawan dalam upaya mengungkap kasus perkosaan massal itu sudah
mulai ragu atas data dan foto- foto peristiwa tersebut.

Sekarang ini dikalangan LSM sendiri mulai timbul keragu-raguan misalnya dari
Website "Indonesian Hvaren Crisis Centre", menyatakan bahwa foto-foto palsu
dan
minta "Visitors" untuk menandai bila ada foto-foto lain yang juga palsu.

Tetapi ada juga LSM "kepala batu" yang tetap bertahan dan menyatakan bahwa
benar atau palsunya foto tidak penting, sebab masalah utamanya agar
pemerintah Indonesia sadar bahwa ada masalah terhadap WNI keturunan Cina dan
harus mengambil langkah nyata.

Nah lho..apa ini bukan logika yang terbalik-balik ? Lagi pula tindakan
menghalalkan cara atau fitnah, kan lebih kejam dari pembunuhan..?

Di tengah kepanikan dan derita rakyat Indonesia, ternyata LSM dan kalangan
media
massa mampu meraup keuntungan yang membebaskan mereka dari situasi  Krisis
moneter (Krismon), namun martabat bangsa dan negara kita tercinta ini telah
dihancurkan.

 Re: Kebohongan Perkosaan Masal Mei 1998 Terungkap
<http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/message/54025;_ylc=X3oDMTJzN2xnaWVpBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzEzMDA2NzAyBGdycHNwSWQDMTcwNTA0MzY5NQRtc2dJZAM1NDAyNQRzZWMDZG1zZwRzbGsDdm1zZwRzdGltZQMxMTc1NDkwNzk4>
Posted
by: "bentala2002" [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]>
bentala2002 <http://profiles.yahoo.com/bentala2002>  Sun Apr 1, 2007
10:10 pm (PST)  Sepengetahuan saya, pada saat itu juga tidak ada yang
memakai simbol-
simbol agama, yang ada hanya pemisahan antara pribumi (yang ini
dituliskan disetiap pintu) dan non-pribumi.

Kalau soal perkosaannya sendiri, saya sangat percaya itu ada, baik
pemerkosaan fisik dan mental.

Jadi, tidak ada simbol-simbol agama sama sekali, atau ini juga
propaganda yang lain??

Kalau boleh tahu, sumber FBI-nya darimana ya? Bagaimana kalau sumber
berita, apalagi mengutip dari satu institusi di lampirkan?

Terima kasih.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke