Ketika saya melihat posting tersebut, dugaan saya pasti akan banyak tanggapan. Ternyata betul. Saya juga menduga bahwa Manneke akan berteriak menanggapi persoalan ini dan memang ia bersuara seperti yang saya harapkan.
Isu ini sudah pernah diangkat di milis lain dan diskusi terjadi selama dua bulan lebih. Saya, Manneke serta seorang kawan lainnya meladeni orang-orang yang menyanggah bahwa perkosaan massal itu pernah terjadi. 5 poin yang diangkat Manneke sudah bisa dikatakan sebagai respon yang cukup memadai atas persoalan ini. Sebagai tambahan, Tim Relawan untuk Kemanusiaan yang dianggap paling getol memperjuangkan persoalan ini pernah memberikan tanggapan atas isu tentang Vivian. Kalau tak salah, Tim Relawan melakukan klarifikasi atas kasus Vivian dalam bulletin gratisnya, Pos Relawan. Satu hal yang paling sering diangkat dalam kasus perkosaan (dan juga kasus kekerasan lainnya) adalah jumlah korban. Ini mungkin dianggap oleh mereka (termasuk juga pemerintah dan terutama pelaku kekerasan) adalah titik terlemah yang bisa dijadikan alasan untuk melakukan kejahatan selanjutnya: penyangkalan. Bagi saya silahkan saja semua mempertanyakan jumlah pasti korban dan mengambil kesimpulan bahwa dengan tidak dapat dipastikannya jumlah korban berarti peristiwa kekerasan patut disangsikan. Namun saya menantang untuk mengambil satu contoh atrocity yang berskala massive, dan sistematis namun memiliki jumlah korban yang pasti. Dalam diskusi terakhir tentang holocaust, paparan saya tidak ditanggapi lagi oleh mereka yang berkutat pada pertanyaan apakah memang benar 6 juta atau 1 juta Yahudi terbunuh. Entah apakah karena tidak mampu memberikan contoh peristiwa kekerasan yang memiliki jumlah korban yang akurat atau menyadari kesalahan cara pandangnya. Mengenai data, para miliser tentunya mudah mengakses internet melihat begitu seringnya posting. Silahkan saja cari di google atau bahkan masuk ke dalam milis untuk cari berita-berita lama. Saya sudah pernah memuntahkan data-data di mediacare ketika isu perkosaan massal muncul. Nampaknya ini yang tidak dilakukan oleh si penulis berita tersebut. Ia begitu saja menelan satu berita tanpa melakukan uji-silang dan dosa terbesarnya adalah mengabaikan fakta lain (berita koran, press rilis LSM pendamping, kejelian menempatkan konteks, laporan TGPF, laporan LSM pendamping dan sebagainya). Abu Zahra menggunakan fakta sejarah untuk memberikan kesan intelektual pada tulisannya. Sayang, dengan menyisipkan Goebels tidak berarti ia tengah menulis sesuatu yang berkualitas secara intelektual. Luasnya jangkauan penelitian yang memberikan bobot bukan kutipan. Apa yang ia lakukan persis sama seperti yang pernah dilakukan oleh David Irving yang secara selektif menggunakan bukti-bukti sejarah, dengan mengabaikan bukti lainnya, untuk membangun argumentasinya. Jika memang niat utamanya adalah hendak membuat laporan investigasi, tentunya semua sumber dikejar, termasuk juga sumber-sumber yang mengatakan bahwa terjadi perkosaan. Apa layak disebut sebuah laporan jurnalistik jika bahan-bahan yang diambil cuma untuk mendukung sebuah kesimpulan yang sudah jadi: perkosaan etnis Cina adalah bualan belaka. Rahadian [EMAIL PROTECTED] Mon Apr 2, 2007 2:07 am (PST) Ada sejumlah fakta penting yang dipelintir dalam tulisan itu. Pertama, kisah Vivian memang FIKTIF dan foto seorang gadis Cina dianiaya secara seksual oleh sejumlah tentara setting-nya bukan Mei 1998. Yang tak disebut dalam tulisan itu adalah bahwa baik Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) bentukan pemerintah maupun Tim Relawan Kemanusiaan (TRK) pimpinan Romo Sandy sudah mengonfirmasi secara resmi bahwa keduanya tak ada kaitan dengan peristiwa Mei. Keduanya hanya sebaran info gelap di berbagai milis dan tak bisa dipertanggungjawabkan. Kedua, ada beda signifikan soal angka dalam temuan TRK dan TGPF. Tapi, angka resmi yang disepakati dalam laporan TGPF adalah angka yang dapat disepakati oleh semua anggota TGPF, yang berasal dari berbagai pihak (relawan, pemerintah, polisi, TNI, LSM). Jadi, tak benar jika dikatakan angka resmi TGPF tiak didasari bukti dan data akurat. Ketiga, meski banyak korban tak lagi dapat ditemukan atau menolak ditemui, ada banyak saksi yang bisa saling di-cross-check, dan mereka semua telah diwawancarai TGPF. Mereka terdiri dari relawan, para dokter dan jururawat, psikolog, serta rohaniwan yang menolong dan mendampingi korban. Dari kalangan korban sendiri, yang mau dan bisa ditemui memang jumlahnya lebih sedikit dari angka resmi akibat trauma psikologis, lari ke luar negeri, atau meninggal dunia. Para saksi ini semua diakui kredibilitasnya. Keempat, kasus suaka politik palsu di AS oleh mereka yang mengaku sebagai korban peristiwa Mei adalah kasus kriminal murni dan tak ada sangkut-pautnya dengan peristiwa Mei sendiri. Mereka memanipulasi tragedi untuk kepentingan pribadi yang sempit dan egois. Siapapun yang menggunakan kasus pemalsuan imigrasi ini sebagai bukti untuk menunjukkan bahwa perkosaan Mei 1998 adalah fiktif, maka orang ini pastilah orang bodoh yang tak bisa mikir logis. Kelima dan terakhir, para korban tak punya kewajiban untuk menemui rombongan wartawan yang datang silih-berganti dari TEMPO, FORUM, KOMPAS, VOA, dll hanya untuk meyakinkan mereka bahwa peristiwa itu betul-betul terjadi. Para korban itu bukan tontonan untuk dipajang di majalah atau koran. Prioritas utama buat mereka adalah terapi dan pendampingan, bukan sensasi. Siapa sesungguhnya yang paling berkepentingan untuk mencuci dosa para pelaku kejahatan tersebut? manneke
