Tulisan Bp. Manneke sangat netral, informatif, logis, dan mencerahkan.
Namun saya tetap prihatin jika mengingat: di milis FPK ini yg
anggotanya sebagian besar berpendidikan tinggi, mampu berpikir logis,
ternyata masih banyak yg logikanya bisa diplintir oleh
tulisan "amatiran" tsb. Lalu bagaiman dengan rakyat kebanyakan yg
disuguhi selebaran2 seperti itu akan merespons? Atau mungkin saya yg
terlalu under-estimate, jangan2 rakyat kebanyakan justru sudah bisa
membaca dgn "hati" karena "mengalami sendiri", sedangkan beberapa
org2 pintar di milis ini sudah terlalu bangga karena merasa "canggih"
bisa "memergoki" kebohongan kisah fiktif di internet, suaka politik
palsu di US, lalu mengambil kesimpulan bahwa kejadian mei itu cuma
fiktif. Atau merasa ilmiah dgn dasar ilmu statistik (dalam keadaan
chaos, penjarahan, pembakaran, penulis tsb mengharapkan statistik
berlaku normal:org yg MELAPOR karena "hanya diraba-raba" jauh lebih
banyak dr yg MELAPOR karena di lecehkan apalagi diperkosa, supaya
memenuhi kurva distribusi Gaussian? )
Ini baru 9 th, masih banyak saksi hidup, bgm kira2 20th, 100 th lagi
ya? mungkin judul selebarannya sudah berubah: "Partai anu mengusulkan
TAP MPR tentang Tidak pernah ada perkosaan massal Mei 1998"
karena sudah tidak ada lagi org yg mengaku sebagai korban, berarti
tidak ada korban...dst...dst...

Salam
PSB


--- In [email protected], manneke budiman
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ada sejumlah fakta penting yang dipelintir dalam tulisan itu.
Pertama, kisah Vivian memang FIKTIF dan foto seorang gadis Cina
dianiaya secara seksual oleh sejumlah tentara setting-nya bukan Mei
1998. Yang tak disebut dalam tulisan itu adalah bahwa baik Tim
Gabungan Pencari Fakta (TGPF) bentukan pemerintah maupun Tim Relawan
Kemanusiaan (TRK) pimpinan Romo Sandy sudah mengonfirmasi secara
resmi bahwa keduanya tak ada kaitan dengan peristiwa Mei. Keduanya
hanya sebaran info gelap di berbagai milis dan tak bisa
dipertanggungjawabkan.
>
>   Kedua, ada beda signifikan soal angka dalam temuan TRK dan TGPF.
Tapi, angka resmi yang disepakati dalam laporan TGPF adalah angka
yang dapat disepakati oleh semua anggota TGPF, yang berasal dari
berbagai pihak (relawan, pemerintah, polisi, TNI, LSM). Jadi, tak
benar jika dikatakan angka resmi TGPF tiak didasari bukti dan data
akurat.
>
>   Ketiga, meski banyak korban tak lagi dapat ditemukan atau menolak
ditemui, ada banyak saksi yang bisa saling di-cross-check, dan mereka
semua telah diwawancarai TGPF. Mereka terdiri dari relawan, para
dokter dan jururawat, psikolog, serta rohaniwan yang menolong dan
mendampingi korban. Dari kalangan korban sendiri, yang mau dan bisa
ditemui memang jumlahnya lebih sedikit dari angka resmi akibat trauma
psikologis, lari ke luar negeri, atau meninggal dunia. Para saksi ini
semua diakui kredibilitasnya.
>
>   Keempat, kasus suaka politik palsu di AS oleh mereka yang mengaku
sebagai korban peristiwa Mei adalah kasus kriminal murni dan tak ada
sangkut-pautnya dengan peristiwa Mei sendiri. Mereka memanipulasi
tragedi untuk kepentingan pribadi yang sempit dan egois. Siapapun
yang menggunakan kasus pemalsuan imigrasi ini sebagai bukti untuk
menunjukkan bahwa perkosaan Mei 1998 adalah fiktif, maka orang ini
pastilah orang bodoh yang tak bisa mikir logis.
>
>   Kelima dan terakhir, para korban tak punya kewajiban untuk
menemui rombongan wartawan yang datang silih-berganti dari TEMPO,
FORUM, KOMPAS, VOA, dll hanya untuk meyakinkan mereka bahwa peristiwa
itu betul-betul terjadi. Para korban itu bukan tontonan untuk
dipajang di majalah atau koran. Prioritas utama buat mereka adalah
terapi dan pendampingan, bukan sensasi.
>
> Siapa sesungguhnya yang paling berkepentingan untuk mencuci dosa
para pelaku kejahatan tersebut?
>
>   manneke



Kirim email ke