Dibalik Tragedi Mei '98
 Temu wicara dengan Rm. Sandyawan Sumardi
 
 Oleh: Jonathan Goeij
 
 "Adalah mudah bagi saya untuk membunuh Romo dan memperkosa adik-adik
 yang berada disini malam ini juga." kata lelaki berbadan tegap dan
 atletis seperti tentara itu sambil menunjuk keempat gadis keturunan
 Tionghoa yang mendampingi Rm. Sandyawan.
 
 Awal gerakan Tim Relawan untuk Kemanusiaan
 
 Gerakan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK) diawali ketika kantor DPP
 PDI Megawati diserbu oleh PDI Suryadi, dicanangkan untuk menolong
 para korban kekerasan tanpa memandang siapapun yang menjadi korban.
 Merupakan gerakan independen, non sektarian, tidak berbasis agama,
 non partisan (bukan underbow partai manapun), dan mengikuti orde hati
 nurani.
 
 Gerakan dengan inisiator Rm. Sandy ini pertama kali mempunyai
 anggota-anggota al: KH Abdurachman Wahid (Gus Dur), ibu Karlina, ibu
 Ade, Rita Kaliwongso, Marzuki Darusman, Luhut Pangaribuan, Garuda
 Nusantara dan Hilman Faried.
 
 Sikap Gus Dur setelah jadi Presiden
 
 Dengan mempunyai anggota dipucuk pemerintahan sekarang ini seperti
 Gus Dur sebagai Presiden dan Marzuki Darusman sebagai Jaksa Agung,
 tidaklah membuat proses penyidikan dan pengadilan Tragedi Mei
 berjalan baik. Fakta mengatakan hal yang sebaliknya, setelah menjadi
 Presiden ternyata Gus Dur bersikap menjauh dari TRK, hal ini bisa
 dibuktikan karena kelompok keluarga korban yang bernaung dalam
 Paguyuban keluarga korban tragedi Mei '98 hingga detik ini tidak
 pernah diterima Gus Dur padahal telah 30 kali melakukan usaha
 menemui Gus Dur, sedangkan Habibie ketika jadi presiden bersedia
 menerima kedatangan kelompok korban tsb. Gus Dur lemah dalam
 memberikan keadilan bagi korban-korban pelanggar HAM.
 
 Wiranto: terjadi kekosongan aparat keamanan
 
 Rm. Sandy mengatakan adalah omong kosong pernyataan Wiranto telah
 terjadi kekosongan aparat keamanan diseluruh Jakarta karena ditempat-
 tempat strategis dilindungi secara besar-besaran. Berdasarkan
 informasi dari aparat keamanan di Solo, pada dinihari tanggal 14 Mei
 ada sekian SS Kopasus terbang dari Surakarta menuju Jakarta dan
 mendarat di Halim, ratusan Kopasus menyebar diseluruh Jakarta tidak
 teridentifikasi (unidentified) karena telah berbaur dengan kelompok-
 kelompok preman yang telah terlatih dan dipersiapkan. Mereka inilah
 yang memimpin penyerangan-penyerangan.
 
 Dibalik pembunuhan Ita Marthadinata
 
 Pembunuhan Ita Marthadinata merupakan suatu cara teror untuk
 menghentikan akumulasi keberanian korban-korban kekerasan seksual
 untuk memberikan testimoni didepan publik, ketika itu sudah ada tiga
 orang korban yang bersedia memberikan kesaksian dengan didampingi
 sembilan ibu-ibu yang terdiri dari psikolog, dokter, pendamping para
 korban ketika melarikan diri keluar negeri, dua bidan yang
 mendampingi proses aborsi korban yang hamil waktu diperkosa.
 
 Mereka diancam akan diperkosa dan dibunuh setelah Ita dibunuh secara
 kejam. Anggota TRK terutama ibu-ibu keturunan Chinese mendapat teror
 melalui telpon secara langsung, tidak diketahui bagaimana mereka bisa
 mendapatkan telpon-telpon yang strategis tsb., bahkan cukup banyak
 keluarga korban yang memutuskan tidak berhubungan dengan TRK karena
 takut diteror.
 
 Di Indonesia sampai sekarang ini belum berhasil dibuat UU
 perlindungan saksi dan korban. Rekomendasi TGPF tidak dilanjuti oleh
 pemerintah karena militer di Indonesia masih sangat kuat.
 
 Percobaan pembunuhan
 
 Sebuah granat dengan pin yang terbuka diletakkan ditempat parkir
 dikantor TRK, biasanya Rm Sandy memarkir mobilnya persis pada tempat
 granat diletakkan. "Tetapi entah bagaimana saya waktu itu habis misa,
 saya turun dijalan dan itu tidak pernah terjadi, setelah itu saya
 jalan kaki dan menemukan granat itu ada didepan saya, lalu saya
 menelpon polisi yang ketika insiden 27 Juli menangkap dan
 menginterogasi kami, sekarang menjadi teman, kolonel posisi itu
 berkata Romo kau akan dijebak kalau Romo tidak melaporkan, Romo akan
 dituduh merakit bom dan segera akan ditangkap." tutur Rm. Sandy.
 
 Setelah melapor pada polres terdekat, pasukan gegana datang dan
 mengambil granat itu dengan hati-hati, keesokan harinya Kapolri
 mengumumkan bahwa granat itu adalah granat-granatan. Rm. Sandy
 membalas dengan mengatakan bahwa polisi adalah polisi-polisian.
 
 Operasi militer
 
 Sebagai anggota TGPF didampingi Bambang Wijayanto, ketua YLBHI, Rm.
 Sandy menginterogasi Jend. Zaki Anwar Makarim, ketua Badan Inteligen
 ABRI (BIA), menanyakan cara kerja BIA. Zaki dengan bangga
 menceritakan betapa profesionalnya cara kerja BIA. Romo, "Dengan
 begitu profesionalnya mengapa tidak bisa mengantisipasi tragedi Mei
 sebesar itu?" Jawab Zaki, "Oh tidak, kami telah tahu sebelumnya, satu
 minggu sebelumnya kami telah memberikan warning kepada seluruh
 komandan dilapangan dan menurut rencananya 'bancakan habis' itu akan
 dilakukan dengan martir terlebih dahulu di Jogja."
 
 Dan memang di Jogja waktu itu akan ada kerusuhan dengan dibunuhnya
 Moses, seorang mahasiswa, untuk memancing mahasiswa. tetapi saat itu
 tidak terjadi kerusuhan.
 
 Pada saat itu banyak sekali demo mahasiswa dari Sabang sampai
 Merauke, di Jakarta di kampus Trisakti mahasiswa dipaksa dipancing
 keluar dengan penembakan peluru tajam secara brutal, yang
 mengakibatkan tewasnya keempat mahasiswa.
 
 Itulah awal tragedi Mei, karena setelah itu aparat keamanan turun
 secara besar-besaran dan memimpin operasi militer. Hanya berita yang
 dilansir kepermukaan adalah masyarakat miskin urban yang menyerang
 kelompok-kelompok Tionghoa, tindakan diskriminasi rasial memang ada,
 tetapi yang menjadi dalang sebenarnya adalah operasi militer.
 
 Masyarakat miskin urban sebagai Kambing Hitam
 
 Pangdam Jaya Sjafrie Syamsudin dan Gubernur Sutiyoso mengatakan
 pelaku-pelaku kerusuhan Mei adalah masyarakat miskin urban yang
 melakukan tindakan penjarahan dan pemerkosaan terhadap kelompok
 masyarakat Tionghoa. Para pelaku itu berjumlah 300 orang dan telah
 mati karena terjebak dalam kebakaran yang terjadi, karena para pelaku
 kejahatan telah meninggal dunia maka tidak perlu diinvestigasi lagi.
 
 Bayangkan mereka bunuh diri masal seandainya mereka adalah pelakunya,
 demikian komentar Rm Sandy.
 
 Sebenarnya hal itu tidak benar, memang mereka adalah kelompok miskin
 misalnya kelompok yang tinggal di belakang Jogja Plaza di Klender.
 Para provokator atau aparat keamanan itu mengambil terlebih dahulu
 barang-barang seperti TV, kulkas dsb.nya lalu meletakkan didepan toko
 dan meminta mereka mengambil sambil mengatakan, "Ayo kita ambil, ini
 hak kalian." Sebelum itu mereka dipancing agar muncul dijalanan
 dengan membakar mobil-mobil dijalanan. "Sekarang saatnya merebut
 kembali hak kalian."
 
 Tetapi ketika mereka masuk dan naik keatas, rolling door ditutup,
 tabung-tabung gas dikumpulkan dan ditembak sehingga menimbulkan
 ledakan besar dan kebakaran. Banyak saksi mata, ada ratusan, melihat
 waktu mereka naik keatas sudah ada yang menyiram bahan bakar dari
 gedung yang paling atas. Aparat keamanan turun kebawah dan menutup
 rolling door dan menyiram bahan bakar yang, ada dari bahan kimia
 karena tembok Jogja Plaza yang begitu tebal bisa terbakar habis.
 
 Waktu itu di Jakarta banyak wartawan asing karena adanya sidang AFTA
 sehingga diekspos juga, seorang wartawan perang yang pernah bertugas
 di Kosovo berkomentar "Belum pernah saya menyaksikan tragedi yang
 sedemikian mengerikan karena tubuh-tubuh manusia dipanggang
 sedemikian rupa."
 
 Ada 1188 korban yang meninggal pada waktu pembakaran masal tsb., dan
 ada yang ditembak dijalanan kemudian mayatnya dilemparkan kedalam
 gedung yang terbakar.
 
 Sikap Gereja Katholik pada waktu itu
 
 Pada waktu penguburan masal dilakukan pihak gereja menolak
 mengirimkan salah seorang uskup untuk mewakili gereja karena
 banyaknya korban yang berjatuhan, padahal pada waktu ibu Tien
 meninggal dunia Kardinal sendiri datang.
 
 Pada saat ini sikap gereja sudah berubah karena setelah tragedi Mei
 secara de facto toh banyak sekali gereja-gereja yang dibakar.
 
 Rekomendasi Tim Gabungan Pencari Fakta
 
 Meskipun rekomendasi TGPF telah dikeluarkan, ternyata hingga detik
 ini pemerintah Indonesia belum menggelar pangadilan HAM ad hoc di
 Indonesia, Gus Dur belum berhasil melaksanakan deliver Justice yang
 tegas. Karenanya tidak mengherankan tindakan-tindakan kekerasan
 merebak diseluruh Indonesia, yang terakhir di Sampit Kalimantan
 Tengah yang korbannya telah mencapai 110 ribu, yang merupakan fokus
 bantuan Tim Relawan saat ini..
 
 Mengakhiri keterangannya Rm. Sandy mengatakan hampir di setiap
 tragedi kekerasan politik yang masal selalu ada perkosaan masal, pola
 yang sama dilakukan di Aceh, Timor Leste, Maluku dan berbagai tempat
 lain.
 
 Pertanyaan dan jawaban
 
 Cukup banyak pertanyaan yang diajukan para peserta diskusi, penulis
 tidak bisa menuliskan semuanya karena akan sangat panjang sekali.
 Dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul ada beberapa hal yang menarik
 untuk disimak:
 
 Perkembangan korban-korban pasca perkosaan?
 
 Pdt. Bob Jokiman menanyakan perkembangan para korban perkosaan pada
 saat ini.
 
 Jawab:
 
 Untuk para wanita yang telah berkeluarga, mereka cepat untuk pulih
 kembali. Tetapi untuk para gadis yang masih remaja pada waktu
 perkosaan itu terjadi, sukar untuk pulih, secara internal mereka
 masih trauma sekali dan hal itu mengakibatkan mereka menghargai murah
 dirinya secara seksual.
 
 Perbedaan data antara Tim Relawan dan TGPF?
 
 Jawab:
 
 Tim Relawan terjun kelapangan dan melakukan investigasi bahkan sejak
 tragedi itu dimulai, sedang TGPF dibentuk dua bulan setelah itu.
 Karenanya data Tim Relawan lebih valid.
 
 TRK terdiri dari ratusan anggota yang merupakan relawan dari
 masyarakat dan juga dari korban dan keluarga serta teman korban yang
 tergerak hatinya untuk membantu, yang melakukan pencarian data bukan
 hanya Rm. Sandy dan ibu Karlina saja. Dan TRK sangat yakin dengan
 data yang didapatnya.
 
 Apakah tragedi seperti Mei bisa terulang kembali?
 
 Jawab: Ya

Salam Damai,
Ana Dyah Sari

                
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke