Jumlah PELANGGAR Motor lebih besar dari Pengendara MOBIL karena jumlah MOBIL dengan MOTOR lebih banyak MOTOR, jadi wajar kannnn..
Saya BIKER.. Sudah tahu saya berhenti dibelakang GARIS PUTIH, masih saja di KLAKSONIN sama yang punya RODA 4 itu. Lalu semalam waktu pulang, lampu HIJAU masih di JALUR saya (mungkin karena sudah kosong JALUR saya tp kondisi masih LAMPU HIJAU) lalu MOBIL KIJANG dengan SEENAKnya NYELONONG yang membuat HAMPIR saya tertabrak (JALUR tuh KIJANG Masih MERAH). Nah karena JUMLAH PENGENDARA MOTOR Lebih banyak daripada MOBIL makanya MOBIL terlihat lebih sedikit dan selalu MOTOR Dikambing hitamkan.. SAYA rasa kalau semua orang, yang ingin memiliki kendaraan RODA 2 dan RODA 4 atau lebih haruslah membuat SIM dengan prosuder yang benar... Tapi saya rasa semua orang yang sibuk dengan kerjaannya pastilah bikin SIM NEMBAK (karena dari peraturan tenaga kerja IJIN membuat sim hanya 1 HARI), kalau lewat SIM KOLEKTIF (sama aja, nembak yang dikolektif)..... Jd bagaimana??? Teman saya (untungnya waktu dia bikin SIM A & C masih menganggur jd banyak waktu luang) membutuhkan PROSES selama 1 bulan (bolak-balik), ada yang kurang lengkaplah dokumennya, ada yang salah tulislah, gagallah di ujian praktek dan lain sebagainya..... So. jadi MILIH Mana?? INGAT.. JUMLAH Pengendara MOTOR lebih BANYAK dibandingkan MOBIL, jadi wajarlah pelanggar MOTOR lebih BESAR......... From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Edy P Sent: 04 April 2007 7:42 To: [email protected] Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Pengendara Motor, Pelanggar Nomor Wahid Jelas-jelas begitu banyak warga masyarakat mengeluh atas perilaku liar atau brutal atau istilah lain lagi yang bisa untuk menggambarkan betapa tidak seharunya begitu para pengendara sepeda motor di jalanan, tapi kenapa polisi kita tidak mengambil tindakan tegas. Apa karena pengendara sepeda motor lebih banyak jumlahnya dibanding jumlah polisi yang menjadikan para polisi ini takut mengambil tindakan tegas. Atau ada unsur pembiaran karena kalau ditindak toh paling menunjukkan dompet kosong atau isi uang cukup untuk mengisi tanki bahan bakarnya aja. Saya sebagai pengendara sepeda motor juga merasa "trataban" dan "sport jantung" kalau dipotong tiba-tiba, atau disalib tiba-tiba dengan suara klakson yang sangat keras dengan berbagai variasinya. Dan anehnya, orang-orang itu sepertinya bangga dan senang kalau ada orang lain kaget atau mati mendadak karena serangan jantung gara-gara kekagetannya itu. Kalau mau membaca karakter bangsa Indonesia, bacalah kesemrawutan jalan raya. Itulah cerminan paling nyata. Tidak butuh survei dengan biaya mahal atau ketakutan data tidak sahih. Menurut saya, fakta jalan raya adalah arena survei murah...data valid atau sahih ... responden ada dari segala usia, tingkat pendidikan, tingkat kemakmuran, dll. Tolong donk jalanan ditertibkan. Saya yang mencoba tertib menjadi takut dengan yang nekad-nekad itu (tapi tetap aja saya konsisten dengan tertib, sebab ini adalah komitmen). Salam
