Ibu Yuliati, Terimakasih untuk permenungannya.
Ibu jangan mengira kalau saya ini orang asli Jakarta. Saya dari puncak pegunungan Seribu di Kulon Progo Yogyakarta yang sangat "ndesit" (alias desa banget). Saya memang mengalami suasana yang sangat berbeda antara Jakarta dan di gunung tempat saya berasal. Hal yang menarik buat saya dari permenungan Ibu adalah dilarikannya perilaku semrawut di jalanan ke perilaku para pejabat kita yang seharusnya mencontoh pola hidup petani-petani di lereng Wonosobo. Saya sangat mendukung. Petani kecil di Wonosobo benar-benar memeras keringat untuk mendapatkan hasil maksimal (biarpun sudah diperas namun toh keringatnya tidak keluar karena udara Wonosobo yang kelewat dingin), tapi kerap kita saksikan para pejabat kita benar-benar memeras rakyat untuk mendapatkan kekayaan dan kenikmatan. Kejam kan? Salam saya, edy purwanto ----- Original Message ----- From: Yuliati Soebeno To: [email protected] Sent: Tuesday, April 03, 2007 6:24 PM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Pengendara Motor, Pelanggar Nomor Wahid Pak Edy, Begitulah gambaran masyarakat kita, semrawut; ambur adul dan mau menang sendiri. Juga kalau bersalahpun masih mengancam orang lain, tidak malah meminta maaf. Alih-alih minta maaf, malahan mobil orang dipukul-in. Padahal pengendara motor itu sendiri yang coba nyerobot dari kanan untuk belok kekiri. Dan memaki-maki dengan kata-kata kasar. Jadi bagi saya makian itu adalah gambaran si pengendara motor itu sendiri. Sekali-kali, jika mau ketenangan, maka pak Edy harus pergi ketempat-tempat yang tenang, naik gunung dan melihat-lihat petani menanam sayuran dan kentang (seperti di Wonosobo), betapa tekun nya mereka dan tidak ada rasa ke-tergesa-gesaa-an dalam menjalankan tanggung jawab nya bercocok tanam. Rasanya sangat damai. Dan kalau ditanya berapa harga sayur sawi dan kol nya, maka mereka akan memberikan harga yang amat rendah. Tidak ada rasa serakah dan ngangah-angah didalam kehidupan mereka, yang membuat hati saya sangat "trenyuh". Betapa jujur dan damainya para petani tersebut. Andaikan saja para pemimpin kita ber tingkah laku seperti para petani di Wonosobo, maka saya rasa Indonesia akan tenteram dan damai, dan semua rakyat nya merasa "ter-ayomi" oleh para penegak bangsa ini. Tetapi yang ada, penegak bangsa ini adalah sebaliknya, bertabiat seperti pengendara motor di Jakarta, bukan? Serobot sana, serobot sini, mengancam dan malahan merugikan masyarakat. Salam, Yuli
