Mas Eko Kertajaya,
  
  Saya memang berstatus sbg mahasiswa S1 Hubungan Internasional. Opini
Mas Eko & rekan2 lainnya tidak ada yg salah! Dalam perdebatan ini kita
khn saling melengkapi, bukan begitu Mas Eko? :-)
  Baiklah, begini penjelasan saya lebih lanjut. Iran di bawah
pemerintahan Presiden Ahmadinejad bersikap konfrontatif dgn pihak AS &
sekutu2nya. Ini merupakan FAKTA YG TAK TERBANTAHKAN! 
  Masih ingat ketika Beliau menilai holocaust itu sbg mitos?! Lebih
jauh lagi, ia "bergabung" dgn pemimpin2 negara Amerika Latin & Karibia
yg juga sama konfrontatifnya spt, Hugo Chavez & Evo Morales. 
Dan, berbagai pernyataan/sikap2 konfrontatif itu bisa kita temui dlm
hal2 lainnya. Untuk konteks pengembangan teknologi nuklir, ia bahkan
menganggap IAEA & hasil inspeksinya sbg suatu lelucon! {lihat
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0602/07/ln/2417163.htm}
  Hubungan konfrontatif Iran vis a vis AS adalah cara berpikir yg
lebih luas. Kenapa? Karena dgn demikian, kita dituntut utk melihat
peta perimbangan kekuasaan di negara-negara Timur Tengah!!! Lihat juga
hasil pertemuan Liga Arab yg baru2 ini dihadiri Wapres JK. Isu nuklir
Iran tidak menjadi agenda utama!!! Ini menunjukkan banyak hal ttg peta
perimbangan kekuasaan di Timur-Tengah. 
   Memang IAEA belum menyimpulkan bahwa Iran mengembangkan senjata
nuklir, tp kita juga harus sadar bahwa IRAN MENOLAK UTK BEKERJA SAMA
DGN IAEA!!!
    Hal yg berikut adalah tentang kemungkinan AS menyerang Iran! Ini
adalah KETAKUTAN YG BERLEBIHAN! Kenapa? KArena, AS belajar banyak dari
Irak! Belakangan ini, Senat & DPR AS juga sedang menekan Presiden Bush
utk menarik pasukan yg ada di Irak. Jadi, aksi militer thdp Iran
adalah HAL TERAKHIR YG AKAN DIPIKIRKAN PRESIDEN BUSH!! Apalagi,
berdasarkan riset  Lembaga Survei Gallup baru2 ini, lebih dari 70 %
rakyat AS menentang aksi militer AS di Irak (Majalah Esquire, Edisi
Internasional, April 2007)!!   
    Nah, mari kita pikir2, apa yg terjadi bila Indonesia bersikap
abstain atau menolak (draf) Resolusi 1747?? Apakah Indonesia dapat
ikut merevisi draf Resolusi 1747 agar sanksi thdp Iran bisa lebih
ringan?  Lantas, apakah konflik menyangkut isu nuklir Iran dpt selesai
bila kita memilih abstain/menolak?? Memang, TIDAK ADA JUGA YG BISA
MENJAMIN AS AKAN MEMPERHATIKAN KLAUSUL2 DLM SUATU RESOLUSI DK-PBB! Tp
setidaknya, KITA PUNYA SEMACAM AMUNISI UTK MENAGIH KOMITMEN AS dlm
menyelesaikan isu nuklir Iran ini...Demikian Opini saya sbg penstudi
HI yg masih belum banyak makan asam garam ini :-)

Salam hangat,

Patrick Hutapea
Mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasionak
Fisip - Universitas Katolik Parahyangan Bandung

--- In [email protected], "EKO KERTAJAYA"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Salam
> 
> Bung Patrick kalau tidak salah anda pernah mengenalkan diri sebagai
> seorang mahasiswa HI. Oke saya cuma bingung dengan statement anda.
> >  Karena, bila Indonesia menolak atau abstain &
> menjadi PEJUANG HATI NURANI, maka eskalasi konflik akan semakin
> tinggi etc
> >  Mari kita lihat lebih luas!
> 
> 
> - Kesimpulan ini anda peroleh dari premis apa ?  Faktanya tidak
> ada rekomendasi dari IAEA yang menyatakan bahwa Iran mengembangkan
> nuklir untuk persenjataan. IAEA hanya menyatakan belum diperoleh cukup
> data untuk suatu rekomendasi. Ahmadinejadpun bukanlah orang bodoh
> untuk langsung berkonfrontasi dengan AS cs. Jadi eskalasi konflik yang
> mana ? Justru dengan adanya resolusi tersebut membuat AS seolah
> mendapat legitimasi untuk memaksakan kemauannya dan mulai menyerang
> Iran.
> - Kalau mau melihat lebih luas jangan hanya  dari sisi Iran dengan
segala
> atribut konfrontatif dsb dong, itu berarti melihat dari satu sisi.
Lihat juga
> AS cs yang agresif terhadap negara2 yang kontra terhadap hegemoninya.
> dan selalu memveto rancangan resolusi yang merugikannya.
> Logikanya resolusi itu dikeluarkan jika ada rekomendasi dari pihak yang
> berkompeten (IAEA) sehingga tidak ada kepentingan tertentu dari suatu
> negara dengan memakai label resolusi PBB.
> Bagi Indonesia mendukung resolusi tersebut jelas memperlihatkan
> dukungan bagi kepentingan AS. Meskipun Indonesia memberikan
> catatan pada resolusi tersebut, belum pernah ada bukti empirik kalau
> AS pernah memperhatikan suatu prasyarat dalam resolusi. Jika takut
> dicap sebagai pendukung Iran karena label kerasnya dan takut karena
> tekanan AS, maka abstain adalah seharusnya sikap yang diambil yang
> lebih mencerminkan kita punya "hati nurani". Jangan heran jika terjadi
> interpelasi, sibuk lagi pemerintah mencari kalimat2  indah dan konsesi2
> lain untuk dpr kita.
> Mohon maaf jika saya salah
> 
> Wasallam

Kirim email ke