Oleh William Chang 
Ketua Program Pascasarjana STT Pastor Bonus
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/05/opini/3428221.htm
=============================

Hingga kini, nestapa masih menyelimuti ribuan korban lumpur panas 
Lapindo, gempa Yogya, Nias, musibah Kapal Senopati, AdamAir, dan GIA. 
Masih adakah harapan di balik derita ini? 

Ternyata, akumulasi pengalaman traumatik membuahkan frustrasi sosial 
berlarut. Gejolak emosi korban musibah sering instabil, cepat 
meletup, dan tak terkendali. Setiap saat, kekecewaan sosial ini dapat 
memancing perilaku brutal. Kenyamanan hidup sirna. Kapan dan 
bagaimanakah mereka bisa menormalisasi irama kehidupan? 

Cepat atau lambat, frustrasi ini menyengsarakan. Rasa waswas dan 
takut masih muncul kala ingin bepergian dengan kereta api, kapal 
laut, dan pesawat terbang. Rasa takut berlebihan berupa pesimisme 
berat bisa membuat seseorang berputus asa. Bayangkan, akibat depresi 
berat, seorang ibu tega meracuni anaknya sendiri. Bawahan berani 
tembak atasan (bdk I Wilkinson). 

Penderitaan ini bisa menggiring anak-anak bangsa ke 
era "neokolonialisme" yang tidak pernah serius mengurus kesejahteraan 
rakyat. Kekacauan dan ketidakpastian sosial ini menuntun anak-anak 
bangsa memasuki zona Sodom dan Gomora. Hidup tanpa masa depan. 
Bagaimana menyikapi penderitaan ini? 

Cahaya di balik derita 

Penderitaan mulai menyejarah sejak manusia ada di bumi. Berdasar 
tinjauan biologis, proses penderitaan terkait struktur otak manusia 
yang langsung memberi reaksi terhadap keadaan-keadaan sosial di 
sekitarnya (termasuk tekanan sosial). Berbagai kemajuan ilmiah 
dianggap bisa melenyapkan penderitaan (Imperatif Hedonistik David 
Pearce). 

Dunia rohani melukiskan penderitaan sebagai buah pahit kedosaan 
manusia. Kenyataan ini mengandaikan hiburan rohani, moralitas hidup, 
keselamatan, bahkan kutukan ilahi. Sebagai bagian integral, 
sebenarnya derita mendatangkan kekuatan rohani yang sering tidak 
disadari. Kuat-lemahnya watak dan kepribadian seseorang, antara lain, 
ditakar dari ketahanan menghadapi penderitaan (Richard Gula). 

Sejak kecil, Yesus asal Nazaret, di-DPO-kan Herodes (37-4 SM). Dia 
diungsikan ke Mesir. Kekerasan dan kepicikan kaum Farisi dicela. 
Mimpi revolusioner kaum Zelot ditolak. Perselingkuhan politik 
menyalibkan Sang Guru, padahal Dia membela nilai kemanusiaan dalam 
pelayanan. Salib menjadi simbol derita yang mendatangkan kekuatan dan 
pengharapan rohani. 

Penderitaan dalam konteks ini dipandang sebagai bagian hakiki seluruh 
proses kebangkitan hidup rohani. 

Di balik salib ditemukan cahaya yang menerangi hidup manusia. Cahaya 
ilahi ini menyalurkan nilai rohani berupa kesetiaan, ketahanan, dan 
pengharapan ilahi. Maka, penderitaan rohani bukan akhir perjuangan 
hidup manusia, tetapi setapak jalan penting menuju pembaruan dan 
perbaikan rohani. 

Menyikapi derita nasional 

Kesadaran akan penderitaan nasional mengundang kita untuk mereformasi 
keadaan hidup orang kecil dalam konteks keadilan sosial. Sumber 
kekayaan alam dihabiskan tanpa memikirkan hak dasar generasi 
mendatang. Alam rusak. Banjir, tanah longsor, panen gagal, dan 
bencana alam silih berganti. Hasil kekayaan alam tetap 
menjadi "misteri" bagi masyarakat lokal. 

Ironis. Di tengah penderitaan, para "wakil rakyat" sibuk memikirkan 
diri. Bagaimanakah kearifan sosial bagi bangsa kita? 

Sejumlah terobosan radikal diperlukan dalam mengatasi penderitaan 
rakyat. 

Pertama, tanpa solidaritas yang benar, tulus, dan mendasar, bangsa 
kita sulit keluar dari lingkaran krisis global. Ketidakarifan dalam 
mengatur negara sudah saatnya ditinggalkan. Gaya ini menambah 
penderitaan rakyat. 

Kedua, berbagai skenario politik dalam law enforcement hanya akan 
menodai sistem dan jaringan kerja pemerintahan di pusat dan daerah. 
Privilege apakah yang dimiliki "orang-orang tertentu" sehingga mereka 
kebal hukum? 

Ketiga, kesehatian dalam membenahi bangsa tak bisa ditawar lagi. 
Penderitaan seorang anak bangsa adalah penderitaan seluruh bangsa. 

Sebagai bangsa yang potensial kita tetap optimistis, di balik 
penderitaan masih bersinar cahaya baru sebagai energi rohani untuk 
pembaruan sosial. Energi ini akan membebaskan kita dari egoisme, 
primordialisme, sektarianisme, dan eksklusivisme dalam hidup 
berbangsa dan bernegara. Hanya, sopir, kondektur, dan pilot negara 
perlu lebih tegas dan lebih berani merombak dan memperbaiki seluruh 
sistem pemerintahan yang sebenarnya sudah out of date dan 
menyengsarakan orang. Salib akan menjadi ringan jika dipikul bersama. 
Cruce glorior! 




 
  
 
 


Kirim email ke