Oleh Aloys Budi Purnomo 
Rohaniwan; Pemimpin Redaksi Majalah Inspirasi, Lentera yang 
Membebaskan, Semarang
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/05/opini/3428219.htm
====================================

Itu Tubuh/Mengucur darah/Mengucur darah// Roboh/ Patah// Mendampar 
Tanya: aku salah?// Kulihat Tubuh mengucur darah/ Aku berkaca dalam 
darah// Terbayang terang di mata masa/ Bertukar rupa ini segera// 
Mengatup luka/ Aku bersuka// Itu Tubuh/ Mengucur darah/ Mengucur 
darah. 

Itulah sajak Chairil Anwar, Isa, dibuat tahun 1943. 

Memang, Chairil sama sekali tidak menyebut kata "salib" 
dan "penyaliban". Namun, deskripsi puitis tentang tubuh yang mengucur 
darah, roboh, dan patah, mengatup luka dan dihubungkan dengan "Isa", 
membawa kita pada peristiwa salib Yesus. 

Chairil Anwar merenungkan peristiwa salib secara tepat. Di mata 
Chairil, salib bermakna ganda, bermata dua. 

Mata pertama memandang salib sebagai kucuran darah dari sang Tubuh 
yang roboh dan patah. Mata kedua memancarkan peristiwa salib sebagai 
rupa yang segera bertukar, dari "darah yang mengucur dari Tubuh yang 
roboh dan patah" menjadi "luka yang mengatup dan mendatangkan terang 
serta suka(cita)". 

Secara teologis, permenungan puitis Chairil Anwar benar! Peristiwa 
salib Yesus tidak hanya merupakan peristiwa kekerasan yang 
mendatangkan kehancuran. Peristiwa salib Yesus juga merupakan 
kemenangan, kesembuhan, terkatupnya luka, dan hadirnya terang serta 
sukacita. 

Sukacita salib Yesus bukan sukacita karena sikap masokis, tetapi 
sukacita akibat gerakan mesianis. Salib Yesus mendatangkan kemenangan 
dan penebusan bagi mereka yang haus kebenaran dan keadilan. 

Meminjam penuturan Leonardo Boff (1980:8), seperti teologi, peristiwa 
salib Yesus bersifat ganda. Teologi bersifat ante et retro occulata, 
bermata dua; begitu juga peristiwa salib Yesus. Seperti teologi, 
salib Yesus memuat dua sudut pandang. 

Pertama ada dalam sejarah. Salib Yesus terpusat pada Yesus Historis, 
yakni kehidupan-Nya, penyiksaan yang dialami-Nya, penderitaan-Nya, 
kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. 

Sudut pandang kedua, aktualitas perjuangan Yesus sendiri, yang hingga 
kini kerap dihadirkan kembali dalam diri mereka yang dihukum, didera, 
disiksa, dibelenggu, dan dibunuh secara tidak adil demi 
memperjuangkan kebenaran dan keadilan. 

Tanda kemenangan 

Secara historis, peristiwa salib Yesus terjadi pada 7 April 30, saat 
Pontius Pilatus menjadi Gubernur Romawi (Fulton Oursler dan April 
Oursler Armstrong, 1966:8). Saat itu, salib Yesus merupakan 
konsekuensi perjuangan-Nya demi kebenaran dan keadilan. Kebenaran dan 
keadilan yang diperjuangkan Yesus berbeda dengan yang digembar-
gemborkan para penguasa agama dan politik pada zaman-Nya. 

Kebenaran dan keadilan yang diperjuangkan Yesus selalu berakar pada 
jeritan, lapar dan haus kaum tertindas, rakyat papa-miskin, kaum 
berdosa dan kaum marjinal. Yesus berjuang demi kebenaran dan keadilan 
bagi mereka yang paling membutuhkan: mereka yang melarat dan 
diperlakukan secara tidak adil oleh konglomerat, mereka yang sakit- 
sekarat dan disisihkan ke pinggiran, mereka yang dicap berdosa dan 
dibuang dari lingkungan agama. 

Perjuangan yang dilakukan- Nya menjadi batu sandungan bagi para 
penguasa agama dan politik sezaman-Nya. Itu sebabnya, mereka 
bersekongkol menyingkirkan Yesus. Persekongkolan antara penguasa 
agama dan politik menghasilkan keputusan hukuman salib terhadap 
Yesus. 

Hukuman salib yang merupakan hukuman tersadis dan terngeri seturut 
tradisi Romawi bagi para pemberontak politik—demi efek jera agar 
tidak lagi bergerilya —dijatuhkan terhadap Yesus. Melalui hukuman 
salib yang diterima-Nya, meski bukan karena kesalahan-Nya, Yesus 
membiarkan diri-Nya bersetia-kawan dengan semua orang yang tertindas 
dalam sejarah kehidupan. 

Itu sebabnya, gema penyaliban terhadap Yesus masih bergaung saat kita 
menyaksikan sesama diperlakukan secara tidak adil. Salib terjadi lagi 
dalam kehidupan mereka yang difitnah, dikejar, dipenjarakan, 
diserang, dibuang, diciduk, dihukum, dibantai, dan dibunuh secara 
tidak adil. 

Tanda kemenangan 

Namun, salib bukan tanda kekalahan. Salib adalah tanda kemenangan. 
Yesus yang tersalib sekian milenium lalu masih dikenang sebagai 
pejuang kebenaran, keadilan, dan kehidupan hingga hari ini dan di 
masa datang. Demikian juga mereka yang menjadi korban ketidakadilan, 
yang hilang, ditembak, dan dihukum mati secara tidak adil, akan terus 
menjadi inspirasi bagi perjuangan demi kebenaran dan keadilan sampai 
akhir zaman. 

Di sinilah, salib menjadi tanda kemenangan. Kemenangan itu tampak 
dalam kesetiakawanan dan solidaritas yang senantiasa bertumbuh di 
setiap zaman dan kehidupan terhadap mereka yang menjadi korban 
kekerasan dan ketidakadilan. Kemenangan itu terpancar dalam diri kita 
yang kendati diperlakukan secara tidak adil, namun tidak pernah 
berhenti dalam menciptakan kondisi kehidupan yang lebih manusiawi, 
damai, dan sejahtera. 

Salib tanda kemenangan terungkap dalam segala hasrat, tekad, dan 
upaya untuk berlaku adil, menciptakan persaudaraan sejati, kerukunan 
antarumat dan masyarakat! Susah payah memberantas korupsi dan 
menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera pun merupakan tanda 
kemenangan salib! 

Salib menjadi tanda kemenangan, sebab kematian Sang Tersalib berbuah 
kebangkitan. Salib tanda kemenangan, sebab itu Tubuh yang mengucur 
darah, roboh dan patah, segera berubah rupa, mengatup luka membuat 
aku bersuka dalam terang masa! 

Salib menjadi tanda kemenangan, sebab Dia yang disalib dan disesah 
kini menjadi yang disembah sebagai Putra Allah: Crucem tuam adoremus, 
pada salib-Mu kami menyembah. Semoga kami pun menjadi berkah tanpa 
mengenal lelah! 

 



Kirim email ke