Oleh Mutiara Andalas 
Rohaniwan; Mahasiswa Licensiat di Jesuit School of Theology, 
Berkeley, California
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/05/opini/3429996.htm
===========================

Salib adalah simbol penderitaan, bahkan kematian prematur dan tak 
adil. Yesus mentransformasikan salib sebagai simbol penderitaan 
menjadi simbol solidaritas dengan masyarakat korban. 

Kisah Yesus memanggul salib sampai wafat di Golgotha (via dolorosa) 
adalah kisah Allah yang solider dengan masyarakat korban yang 
memanggul salib-salib sejarah. Solidaritas Yesus dengan the crucified 
people mengundang komunitas beriman Kristiani untuk solider dengan 
para korban di Indonesia yang memanggul salib-salib sejarah pada masa 
sekarang. 

Salib sejarah 

Yesus hidup di antara mayoritas masyarakat yang mengalami penderitaan 
ganda di bawah tatanan politik-religius yang opresif. Kekaisaran Roma 
tidak memberi ruang bagi aspirasi masyarakat jajahan untuk merdeka. 
Hidup beragama lebih digerakkan eros hukum (a religion of law) 
daripada spiritualitas kasih (a religion of love). Penderitaan warga 
di bawah tatanan opresif, mengambil wajah kematian prematur dan tidak 
adil (premature and unjust death). Mayoritas masyarakat memanggul 
salib-salib sejarah. Salib menjadi simbol penderitaan masyarakat 
korban. 

Yesus menghadirkan potret Allah kehidupan yang mendengarkan mazmur 
requiem masyarakat korban. Ia ada di sisi mereka yang buta, bisu, 
tuli, lumpuh, lapar, haus, telanjang, dan tunawisma. Ia menjumpai 
pribadi atau kelompok sosial yang ada di bawah sejarah (underside of 
history). Solidaritas Yesus dengan masyarakat sisi bawah sejarah 
menciptakan konfrontasi hidup-mati dengan mereka yang ada di sisi 
atas sejarah (upperside of history). 

Berhala kematian 

Gustavo Gutierrez dalam We Drink from Our Own Wells: The Spiritual 
Journey of a People (1992) memandang solidaritas sebagai ekspresi 
nyata kasih Allah kehidupan pada zaman ini. Komunitas beriman 
Kristiani berziarah meninggalkan ilah-ilah kematian (idols of death) 
dan menjumpai Allah kehidupan (God of life). Gutierrez mengingatkan 
komunitas beriman Kristiani untuk tidak membatasi ruang lingkup 
solidaritas pada level personal, tetapi meluaskan ke level eklesial 
dan sosial. 

Gutierrez mengundang komunitas Kristiani untuk menjadi saksi 
kehidupan bagi masyarakat korban sebagai anak-anak Allah. Yesus 
berkonfrontasi dengan struktur-struktur kekuasaan yang memeluk kultur 
kematian karena berpihak kepada Allah kehidupan dan kehidupan 
masyarakat korban. Konfrontasi Allah kehidupan dengan ilah kematian 
berlangsung terbuka dalam konfrontasi Yesus melawan kekuasaan politik-
religius zaman itu. Komitmen Yesus untuk membebaskan masyarakat 
korban dari penindasan politik-religius menghantar-Nya mengalami 
sendiri realitas salib yang menjadi pengalaman sehari-hari masyarakat 
korban. 

Konfrontasi Allah kehidupan dengan ilah kematian itu terpotret dalam 
drama pengadilan Yesus. Ia didakwa ganda dari kekuasaan sipil dan 
religius. Inkarnasi Yesus dalam komunitas korban dipandang sebagai 
tindakan subversif terhadap kekaisaran Roma. Kekuasaan religius 
menolak identitas Yesus sebagai Anak Allah yang memeluk kultur 
kehidupan dan solider dengan penderitaan masyarakat korban. 
Pengadilan itu sendiri sejatinya menempatkan penguasa politik yang 
memeluk kultur kematian dan penguasa agama yang menyembah ilah 
kematian sebagai terdakwa utama. 

Menyitir almarhum Uskup Agung Romero (1917-1980) dari El Salvador, 
dosa menyebabkan kematian Yesus sebagai Anak Allah, dan dosa terus-
menerus menyebabkan kematian masyarakat korban sebagai anak-anak 
Allah. 

Eros politik 

Paus Benedictus XVI dalam Pesan Prapaskah 2007 mengundang komunitas 
beriman Kristiani di dunia untuk mengenali kuasa kematian yang 
melukai martabat kemanusiaan. Kita diundang untuk melawan setiap 
bentuk serangan terhadap kehidupan dan eksploitasi terhadap manusia 
sebagai anak-anak Allah. Kenangan akan penderitaan Yesus di salib 
mengundang kita untuk melihat realitas salib di Indonesia. Banjir, 
gempa bumi, dan tanah longsor memperburuk kondisi kemanusiaan 
Indonesia. Kita melihat antrean panjang korban bencana kemanusiaan 
yang menanti untaian solidaritas. 

Elite kekuasaan di Indonesia justru sibuk saling tuding terhadap 
lawan politik sebagai tukang tebar pesona atau janji kepada korban 
bencana. Korban bencana dijadikan obyek politik, penderitaan 
dijadikan obyek bagi politikus untuk mengangkat popularitas di depan 
publik. 

Tebar pesona lahir dari eros politik, sedangkan solidaritas lahir 
dari spiritualitas politik. Tebar pesona untuk popularitas politikus, 
sedangkan solidaritas untuk kepentingan politik populis. Subyek tebar 
pesona adalah politikus, sedangkan subyek sejati solidaritas adalah 
masyarakat korban. Pilatus dan para pemimpin agama memilih eros 
politik, sedangkan Yesus memilih etos solidaritas. 

Solidaritas di negeri bencana 

Drama penyaliban Yesus menyingkap kehidupan masyarakat korban. 
Masyarakat korban menjadi pilihan fundamental (optio fundamentalis) 
hidup Yesus. Ia tidak pernah menempatkan mereka sebagai obyek tebar 
pesona di hadapan publik. Ia memanggul salib sampai wafat di Kalvari 
demi membela kesucian hidup mereka. Ia mengalami kematian prematur 
dan tidak adil, seperti masyarakat korban memanggul salib-salib 
sejarah. 

Kenangan akan penderitaan Yesus di salib mengundang tiap elite 
kekuasaan untuk mengubah eros politik menjadi spiritualitas politik. 

 



Kirim email ke